
Sebuah kenangan, entah itu kenangan baik atau buruk, semuanya adalah bagian dari dirimu di masa lalu.
~*~
Khanza menjejakkan kaki di depan sebuah gerbang rumah mewah. Dia menatap kemegahan rumah itu yang dulunya adalah tempat tinggalnya. Setelah dia pergi tak sekali pun Khanza datang ke rumah ini. Rumah penuh kenangan pahit dan rasa sakit, namun tak dapat di pungkiri jika rasa manis pun pernah ia rasa juga.
"Permisi Pak!" Khanza memanggil satpam penjaga rumah dari luar.
"Ya, anda cari siapa ya?" tanya penjaga itu tak mengenali Khanza, mungkin memang karena sudah terlalu lama Khanza tak datang ke tempat ini.
"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Sarah dan Tuan Gilbert Carson." ujar Khanza pada penjaga tersebut.
"Maaf dengan siapa ya?" tanyanya sopan.
"Khanza."
"Khanza?" Penjaga itu nampak berpikir sejenak, "astaga, Nona Khanza, maafkan saya Nona, saya sungguh tak mengenali anda!" Penjaga itu lekas minta maaf, setelah Ia tahu siapa wanita di hadapannya.
"Tidak papa, kita sudah lama tidak bertemu. Wajar kalau bapak tidak mengenali saya." Khanza tersenyum. Penjaga itu pun lekas membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Khanza masuk dangan sopan.
"Terima kasih Pak, saya masuk dulu."
"Nona tunggu!" Penjaga itu menatap Khanza penuh ke khawatiran.
"Tenang saja Pak, saya sudah dewasa sekarang. Lagi pula saya sudah terbiasa dengan sikap Mamah." Khanza tahu apa yang penjaga itu khawatirkan.
Tentu saja semua orang di rumah ini tahu betul seperti apa perlakuan Nyonya rumah ini terhadap Khanza. Terlahir dari seorang wanita penggoda membuat hidupnya di benci keluarganya sendiri. Namun itu bukan keinginannya kan, apa salah seorang anak dalam kasus ini? Jika saja dia bisa memilih ingin terlahir dari rahim siapa, tentu saja ingin lahir dari rahim Sarah orang yang Ia anggap sebagai Mamahnya.
Sebetulnya dulu Sarah sangat menyayanginya, Khanza dibawa ke rumah ini saat usia dua setengah tahun, Ayahnya bilang dia mengadopsi seorang anak dari panti asuhan dan Sarah sangat menyambut baik hal itu, terlebih lagi Clarisa tak punya teman bermain kala itu dan selalu merengek ingin punya adik. Dan tentu saja kehadiran Khanza di rumah itu membuat semua orang senang. Sarah sangat memanjakannya begitu pun Clarisa, dia menganggap Khanza seperti adik kandungnya sendiri. Namun suatu hari, Sarah mengetahui bahwa ternyata Khanza adalah putri kandung suaminya dari wanita lain. Dia marah besar dan melampiaskannya terhadap Khanza, saat itu usia Khanza baru menginjak lima tahun, walau begitu ingatan itu amat berbekas di kepalanya.
Khanza melangkahkan kaki memasuki rumah tersebut, banyak yang berubah dari mulai tatanan barang-barang, hiasan dinding dan juga desain interior, bahkan foto-foto yang terpajang pun hanya ada foto mereka bertiga, sedangkan Khanza seolah tak pernah ada. Dia tak pernah menjadi bagian dari keluarga ini sejak lama, Khanza menyeka ujung matanya yang nampak basah.
__ADS_1
"Kamu! Ngapain kamu kesini?" Suara yang Khanza kenali muncul dari arah tangga, membuat Khanza seketika menoleh.
"Apa kabar Mah?" Khanza menyapa sembari tersenyum.
"Siapa yang membiarkan wanita ini masuk?!" Sarah berteriak penuh kekesalan, bukannya menjawab sapaan Khanza. Nampaknya meski telah lama kebencian itu tak kunjung pudar.
"Ada apa sih Mah, kenapa teriak-teriak?" Clarisa muncul dari lantai atas, dia menatap ke arah Khanza, seketika Ia faham mengapa Ibunya marah-marah.
"Mengapa kamu datang kemari?" Clarisa melempar tatapan jengah.
"Aku ingin bertemu Papah, sekaligus berpamitan pada kalian. Aku akan pindah keluar negri." Mereka tak merespon sama sekali, tentu saja karena mereka tak peduli.
"Dimana Papah Kak?"
"Di kamar ujung!" Jawab Clarisa dingin.
"Clarisa kenapa kamu beri tahu dia, lebih baik usir wanita ini, Mamah tidak suka dia menginjakkan kaki di rumah kita."
Khanza berlalu menuju kamar yang telah Clarisa beri tahu tadi. Klek... Khanza membuka pintu perlahan, dia melihat seorang Pria tua dengan tubuh kurus kering terbaring di atas ranjang. Jika saja Khanza tak tahu bahwa Ayahnya sedang sakit, pasti dia tak kan percaya jika itu Ayahnya. Keadaannya sangat jauh berbeda dari sebelumnya, setelah dia mengalami stroke berat tubuhnya lumpuh dia hanya bisa menggerakkan separuh tubuhnya dan berbicara.
"Pah," sapaan Khanza membuat mata yang semula terpejam tersebut perlahan terbuka.
"Khanza," lirihnya pelan.
"Ya, ini aku," Khanza berjalan mendekat.
"Kamu datang menjenguk Papah? Apa Mamahmu tidak marah?" ucapnya dengan suara parau.
Khanza menggeleng, "tidak, Mamah tidak marah." Khanza berbohong, dan tentu saja Ayahnya tak percaya.
"Papah, Khanza datang kesini ingin pamit, Khanza akan pindah keluar negri." Khanza mengutarakan maksud dan tujuannya.
__ADS_1
"Pindah, kemana?"
"Ke negara C, tempat Mami Shelia berasal. Aku ingin menetap dan bekerja disana."
"Baik, pergilah. Carilah kebahagiaanmu sendiri Nak, sekarang aku tak berdaya bahkan untuk menggerakkan tubuhku sendiri saja aku tak mampu. Aku hanya bisa mendoakanmu." Gilbert menitikkan airmata.
"Papah benar-benar tak tahu harus berkata apa. Tolong maafkan Papah, Nak."
"Sudahlah Pah, tidak ada yang harus dimaafkan, semua orang punya masa lalu masing-masing, kita hanya perlu memperbaiki masa depan. Minta maaflah pada Mamah, dia yang paling terluka disini."
"Dan aku bagian luka itu, aku harap setelah aku pergi, Mamah akan baik-baik saja."
Selepas berpamitan Khanza pun keluar, Mamah dan Kakaknya sama sekali tak nampak batang hidungnya, mungkin mereka memang sengaja menghindari Khanza.
'Selamat tinggal semuanya, mungkin kita takkan pernah bertemu lagi.
~*~
Kabar perpindahan Khanza telah sampai ke telinga Nic. Saat ini dia tengah berdiri menghadap dinding kaca, menatap kosong gedung-gedung sekitar.
"Kau benar-benar harus pergi Za?" pertanyaan itu amat berat keluar dari bibir Nic.
"Benar Nic, aku ingin mencari pengalaman. Asisten baru pun sudah siap bekerja, dia orang yang sangat berkualifikasi, dia sudah sangat berpengalaman, aku yakin kau akan puas."
"Mungkin ini jalan terbaik yang harus kita ambil. Aku pergi dulu Nic, jaga diri baik-baik, makan makanan sehat dan jangan terlalu banyak bergadang. Terima kasih sudah menjadi penyokong besar dalam hidupku."
"Teman!" Khanza mengacungkan jari kelingkingnya, yang seketika di sahuti oleh Nic dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari Khanza.
"Teman!" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
...I'ts been a long day whitout you, my friend and I'll tell you all about it when I see you again. We've come a long way from wehere we began. Oh, I'll tell you all about it when I see you again. When I see you again....
__ADS_1