
Hati Cherry bagai tertohok. Senyuman angkuh yang semula memulas bibirnya, kini berubah, air mukanya menampakan rasa sakit, tak berdaya dan putus asa.
Nic menilik ekspresi muka wanita itu, "jika kau mau--," perkataan Nic di hentikan oleh gerak tangan Cherry, dia menggunakan bahasa isyarat dengan jemarinya, membuat Nic mengerutkan dahinya keheranan. Dia menunjuk sebuah kalung kecil berwarna hitam yang melingkar rapat di lehernya. Namun karena Nic masih tak kunjung mengerti, Cherry mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu disana.
Tulisan itu berbunyi!
'Jangan katakan apa pun, kau lihat kalung di leherku? Ini semacam penyadap, jika aku mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan maka dia akan tahu, jika aku melakukan kesalahan maka hukuman akan menimpaku.'
Cherry menyerahkan kretas tersebut pada Nic, dan dia mengangguk.
'*Jadi itulah sebabnya waktu itu kau seperti terkena sengatan listrik?' Nic menulis di kertas itu pula. Cherry mengangguk sebagai jawaban.
'Lalu apa yang akan sekarang kau lakukan?' Mereka terus berkomunikasi dengan cara seperti ini.
'Aku akan membantumu, tapi kau harus menolongku! Selamatkan adikku!' Cherry memberi tatapan penuh permohonan.
'Baik, aku setuju*!'
"Cherry, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita ini. Lagi pula aku tidak mencintaimu, mulai hari ini kau bukan tunangan atau pun kekasihku lagi, hubungan kita berakhir!" Ujar Nic.
"Terserah, aku tidak peduli, sejak awal aku mendekatimu atas perintah pamanmu dan pria yang aku cintai adalah dia." Cherry mengedipkan matanya dua kali.
"Aku akan selau setia berdiri di sampingnya, mengenai adikku, dia bukan menahannya dia sedang menjalani pengobatan di luar negri dan Master One lah yang membiayainya." Ujar Cherry masih dalam mode akting.
__ADS_1
"Baiklah, semoga kau bahagia dengan pria tua itu!" dan Nic pun pergi setelah dia mencapai kesepakatan dengan Cherry.
Ketika hendak keluar, Nic berpapasan dengan David di depan pintu, seperti biasa tatapannya terhadap Nic seolah ingin melahapnya hidup-hidup kebenciannya seolah telah mendarah daging.
Nic membalas tatapan David dengan sinis, lantas berlalu. Nic kembali mengendarai mobilnya menuju kediamannya.
Langkah lebar Nic memasuki rumah, di sana Shelia, Ken dan Ren sudah duduk di ruang tamu agaknya mereka tengah membicarakan langkah kedepannya. Nic pun duduk bergabung dengan mereka, "Nic kau sudah pulang?" Shelia tersenyum murung, lingkaran hitam di matanya nampak kentara.
"Ya Mami, aku berhasil meyakinkan Cherry, sekarang dia berada di pihak kita."
"Baguslah, tapi yang terpenting sekarang kita harus membersihkan nama Ayahmu dulu, Mami benar-benar tidak tahan melihat kondisi Ayahmu di dalam penjara." Shelia menunduk dalam.
Nic baru ingat, dia sama sekali belum mengunjungi Richard sama sekali, Nic bangkit, "kamu mau kemana, Nak?" Shelia mendongak menatap Nic penuh pertanyaan.
"Tidak, kau tidak bisa kesana hari ini. Batas kunjungan, hanya satu kali dalam sehari, pergilah besok." Nic pun kembali duduk sembari mendesah kecewa.
"Mami jangan terlalu banyak pikiran, aku dan Om Ken akan berusaha secepat mungkin membawa Daddy keluar dari tempat itu." Nic menggenggam tangan Shelia, membuat wanita paruh baya itu menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca.
"Ya, Mami percaya padamu, Nak."
Keesokan harinya, Nic mendatangi kantor polisi, untuk menemui Ayahnya. Dia menunggu di sebuah ruangan berdinding kaca, di atas meja terdapat sebua telpon kabel yang saling terhubung ke sebrang yang nanti tempat Ayahnya duduk. Tak butuh waktu lama Richard pun datang, dengan pakaian lusuh, wajahnya nampak tak terawat terlihat dari bulu-bulu kasar yang nampak tumbuh di sekitar dagu hingga ke pipinya.
"Nic, apa kabarmu?" Richard tersenyum sembari menempelkan benda panjang dan ramping tersebut ke daun telinganya.
__ADS_1
"Aku baik Dad, Daddy sendiri apa kabar?" Nic merasa tak tega melihat keadaan sang Ayah yang nampak memprihatinkan.
"Tak pernah lebih baik dari ini, aku bisa bersantai tanpa harus memikirkan pekerjaan yang menumpuk!" Richard terkekeh, namun tawanya di mata Nic sama sekali tak membuat Ia ingin tertawa pula.
"Daddy,"
"Jangan memberiku tatapan begitu, percayalah semua akan baik-baik saja." Richard menempelkan tinjunya di dinding kaca transparan yang membatasi dirinya dan putranya. Nic pun melakukan hal yang sama, hingga mereka melakukan tos tanpa saling bersentuhan.
"Tuan Richard waktu berkunjung telah berakhir, silahkan kembali ke-ruang tahanan." Ucap seorang petugas yang tertangkap di telinga Nic.
"Baiklah," ucap Richard disertai senyuman. Nic merasa sedikit tenang, tenyata sikap para polisi terhadap Richard masih terbilang sopan, jadi dia tidak perlu merasa terlalu khawatir mengenai keadaannya.
Waktu berlalu, sidang pun berjalan sebagai mana mestinya Richard di dakwa dengan tuduhan pemasok obat-obatan terlarang dengan ancaman penjara kurang lebih lima belas tahun dengan denda satu miliar. Sidang pertama selesai dengan baik, bukti-bukti menunjukan bahwa Richard sama sekali tidak bersalah, dia hanya di jebak namun tersangka sebenarnya masih di selidiki. Ken bahkan turun tangan sendiri untuk membantu para petugas mencari bukti pelaku sebenarnya.
Di kantor ketegangan pun amat terasa, dimana saat ini tengah di langsungkan pemungutan suara untuk untuk mengganti posisi pemimpin group, mereka saling pandang satu sama lain, bimbang, itu yang mereka rasakan saat ini. Dilain sisi, mereka tak ingin mengganti pemimpin mereka dengan Martin, karena mereka tahu seberapa kejam pria ini, namun mereka juga tak berani menolak. Apa lagi saat ini Richard tak ada disini.
"Apa kalian ingin terus di pimpin oleh orang yang tersandung kasus obat-obatan terlarang? Dia juga bahkan telah mengambil hak orang lain, apa kalian ingin terus bertahan di bawah pimpinan orang seperti itu? Para Tuan dan Nyonya, coba kalian pikirkan bagaimana kedepannya perusahaan ini akan berjalan, jujur aku ragu apa perusahan ini akan berkembang seperti dulu atau tidak? Apa kalian ingin merugi, Investasi kalian di perusahaan ini tidaklah sedikit." Martin mulai memengaruhi orang-orang yang hadir di tempat itu.
Beberapa orang saling berbisik satu sama lain, ada yang percaya dan ada juga yang tidak dengan kasus yang menimpa Richard. Mereka yang mengenal Richard pasti sudah tahu seperti apa sifatnya.
"Maaf Tuan Martin, untuk sementara kami tidak bisa memutuskan tentang penggantian pemimpin, kasus Tuan Richard belum terbukti benar. Jadi sebelum kasus ini selesai kami belum bisa memutuskan hasilnya." Salah satu orang yang hadir mengutarakan mewakili semua orang. Dan itu di angguki oleh semua orang.
Shelia tersenyum puas, melihat wajah Martin nampak kesal dengan keputusan para jajaran Dewan Direksi dan Investor perusahaan. Yang membuatnya langsung bungkam dan tak bisa berkutik, dia hanya bisa menunggu sidang putusan kasus Richard nanti.
__ADS_1