
Mobil perlahan mendekati rumah keluarga Nelson, membuat hati Khanza kian berdebar, takut, cemas, gugup, perasaan itu berbaur jadi satu, helaan demi helaan napas Khanza keluarkan untuk menetralkan perasaannya, namun itu semua tak mampu mengatasi rasa itu sedikit pun.
"Tenanglah, ada aku disini." Nic menggenggam jemari Khanza, dengan Baby Ivan tertidur pulas di lengannya.
"Sini berikan Ivan pada-ku, tanganmu pasti pegal." Khanza mengulurkan tangan, namun lagi-lagi Nic menolak, dia senang Baby Ivan di pangkuannya, Bayi itu tertidur pulas sepanjang perjalanan.
"Tidak papa, aku masih kuat." tolaknya sambil tersenyum.
Clarisa memencet klakson dua kali, minta di buka kan gerbang, seorang satpam penjaga rumah muncul, dia menghampiri mobil untuk melihat siapa pemilik mobil yang datang bertamu, karena ini pertama kali Clarisa datang jadi mereka tak mengenali mobilnya, "Ini saya Pak, tolong buka kan gerbangnya." celetuk Nic sembari melambaikan tangannya.
"Oh Tuan muda, mohon maafkan ketidak tahuan saya, oh ada nona Khanza juga, itu bayi siapa?" tanya Satpam itu keheranan, pandangannya terarah pada Baby Ivan yang tertidur pulas di pangkuan Nic.
"Kamu mau buka pintunya atau tidak?" Geram Nic kesal.
"Ma-maafkan saya Tuan Muda, saya akan segara membuka pintunya." Satpam itu pun lekas pergi dan membuka gerbang, wajah Nic nampak kesal.
Khanza menyentuh pundak Nic, "jangan marah, itu wajar kalau dia bertanya, tak ada yang tahu kalau aku pergi dalam keadaan hamil waktu itu." Khanza menenangkan.
Mobil berhenti di plataran rumah, Nic dan Khanza turun begitu pun dengan Clarisa, "Kakak aku merasa gugup, bagaimana jika Mami Shelia tidak mau menerima Ivan?"
"Itu tidak akan terjadi, kau paling mengenal Nyonya Shelia, dia wanita yang baik. Apa lagi Ivan itu cucunya," Clarisa menenangkan sembari menggandeng Khanza yang jalannya pun masih sedikit tertatih, karena luka jahitan di perutnya belum benar-benar mengering.
Nic yang berjalan lebih dulu memperlambat langkahnya, dia menunggu Khanza dan Clarisa untuk mensejajarkan langkahnya, memasuki pintu rumah itu bersama-sama.
"Khanza, Nic, aku hanya bisa mengantar kalian sampai disini, semoga kalian mendapatkan keinginan kalian, Khanza jika ada apa-apa hubungi saja aku."
"Baiklah Kakak, hati-hati di jalan." Clarisa mengusap pundak Khanza memberinya kekuatan, dan Ia pun memberi ciuman di pipi Baby Ivan yang masih saja terlelap seolah pangkuan Nic adalah tempat ternyaman dalam dunianya.
"Terima kasih Clarisa!" Nic berucap tulus.
__ADS_1
"Tidak masalah Nic, aku serahkan adikku padamu, jaga dan lindungi dia dan anaknya." Selepas berpamitan Clarisa pun pergi.
Nic dan Khanza menautkan jemarinya dan melangkah masuk, seketika tatapan penasaran ia dapati sepanjang jalan dari para pelayan yang Ia temui, membuat Khanza menunduk seketika, begitu pun mereka, tak ingin membiarkan rasa penasarannya menggangu profesionalismenya.
Langkah Khanza kian melambat, rasa gugup kini menguasai dirinya kala mereka semakin dekat ke arah suara Shelia berasal.
"Apa Nic dan Khanza kembali? Dimana mereka?" Suara Shelia terdengar dari arah dalam, mungkin para pelayan yang memberitahunya.
Suara langkah kaki pun mendekat, "Khanza, kau sudah pulang, Nak!" suara Shelia terhenti pun dengan langkahnya, dia mematung di tempat kala melihat Nic menggendong Baby Ivan.
"Nic Bayi siapa itu?" Tanya Shelia, yang membuat tangan Khanza seketika gemetar.
Nic mengeratkan genggamannya, lantas menjawab, "Bayi-ku dan Khanza." Mata Shelia seketika melebar, dia mengerjap beberapa kali mencoba mencerna perkataan sang anak.
Richard muncul dari arah dalam, pandangannya terarah pada Bayi dalam gendongan Nic, "kau mengikuti jejak Ayahmu Nak?" Richard terkekeh, bukannya marah pria itu malah tertawa, membuat Nic dan Khanza seketika bertukar pandangan.
"Bagaimana ini bisa terjadi, kapan kalian melakukannya? Oh, astaga?!"
"Mami apa aku harus bilang dulu, pada kalian kalau kami melakukan itu." Ucapan Nic seketika mendapat pelototan dari Khanza.
"Nic, apa yang kau katakan?" Wajah Khanza memerah seketika.
"Bukan itu maksud Mami, kenapa kalian tidak bilang kalau Khanza sedang hamil waktu itu, terutama kau Khanza, kau malah memilih pergi bersembunyi tak tahu dimana." Shelia nampak kesal.
"Maafkan aku Mami, aku hanya tidak ingin membuat keluarga ini malu, lagi pula Nic sudah punya Cherry, aku tidak ingin mengganggu hubungan mereka. Menurutku adanya Ivan bersamaku itu sudah cukup." Khanza menunduk dalam.
Shelia menghela napas berat, "Dasar anak bodoh, kau pikir membesarkan anak seorang diri itu mudah! Aku paling tahu semua itu," Shelia menghambur memeluk Khanza, "maafkan anak bodohku Khanza, dia telah membuatmu merasakan penderitaan, lihat saja aku akan menghukumnya!" Shelia melepas pelukannya.
Shelia beralih pada Nic, dia menarik telinga Nic membuat pria itu mencicit kesakitan, "aw, ampun Mami, jangan tarik telingaku! Kalau putus bagaimana, nanti aku tidak tampan lagi."
__ADS_1
"Dasar anak bodoh, kapan kau melakukannya? Jawab Mami, kalau tidak aku akan sekalian menggunting telingamu!" Khanza nampak ikut meringis melihat Nic meringis sambil meminta ampun.
Richard berjalan mendekat, "sini anak baik sama Kakek dulu, biarkan Ayahmu menerima hukumannya." Richard mengambil alih Baby Ivan dari gendongan Nic.
"Sayang lihat dia sangat lucu!" Richard menoel pipi gembul Baby Ivan membuat bayi itu menggeliat, untuk sejenak perhatian Shelia teralihkan, namun dia kembali mengintrogasi Nic.
"Cepat katakan!" Desak Shelia.
"I-itu terjadi saat perjalanan bisnis ke kota X terakhir kali, aku di jebak seseorang dan mabuk, lalu Khanza membawaku dan itu terjadi begitu saja, Mami!"
Khanza membenamkan wajahnya di telapak tangan, merasa malu dengan apa yang Nic katakan, sedang Richard dia malah asik bersenandung sambil menggendong Baby Ivan.
"Kenapa kau malah pacaran dengan wanita lain, padahal kau dan Khanza sudah melakukan itu." Shelia masih tak mau melepas tangannya dari telinga Nic.
"Itu karena Khanza bilang, lupakan saja anggap ini tak pernah terjadi, lagi pula melakukan hal itu bukan yang pertama kali untuknya." Nic mengatakan semuanya dengan jujur dan benar.
"Apa benar yang Nic katakan, Khanza?" Khanza hanya mengangguk sambil menunduk.
"Bukankah kau mencintainya, mengapa kau melakukan hubungan intim dengan pria lain?"
"I-itu tidak benar Mami, aku mengatakan hal itu, agar Nic tak terbebani, lagi pula Nic punya seseorang di hatinya. Aku tidak menyangka dua bulan setelah kejadian itu, aku dinyatakan hamil."
"Haish, ya sudahlah ini sudah terlanjur terjadi. Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?"
"Membesarkan Ivan bersama tentu saja!" Jawab Nic langsung.
"Membesarkan anak tanpa menikah, dasar anak bodoh!"
"Menikah? Mami benar, mengapa aku tidak terpikirkan tentang pernikahan ya, aku hanya memikirkan tentang membesarkan anak saja." Nic terkekeh, membuat dia kembali di tarik telinganya.
__ADS_1