Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 52 : Putusan Rapat


__ADS_3

Derap langkah kaki, Richard, Nic, Ken dan Ren menggema di lorong menuju ruang rapat. Sesuai persetujuan semua, rapat kembali di adakan karena sang pemimpin sebelumnya telah kembali.


Richard memasuki ruangan di ikuti yang lainnya, dia pun lantas duduk, di seberangnya sudah tampak hadir Martin dan dua orang pengawal, serta Cherry pun turut hadir, entah mengapa Martin membawanya pula.


"Selamat datang kembali paman, bagaimana kabarmu?" Richard duduk sambil tersenyum ramah.


"Aku sangat baik keponakan, bagaimana rasanya masuk penjara?" Martin terkekeh pelan, semua orang tahu maksud dari pertanyaan Martin adalah mengejek.


"Lumayan cukup nyaman, aku bisa tidur nyenyak disana, tidak seperti buronan yang harus bersembunyi terus menerus." Balas Richard menohok.


Martin terkekeh, "mengapa kau tidak tinggal saja disana kalau menurutmu itu nyaman." Mereka masih beradu argumen.


"Sayangnya, polisi menemukan bukti jika aku tidak bersalah. Jadi ya, terpaksa aku harus keluar meski aku masih betah disana." Richard pura-pura sedih.


Cih, Martin melempar pandang kesal, dia nampaknya mulai terpancing emosi, namun Richard masih tetap tenang, seperti biasa pria ini selalu bisa mengendalikan emosinya dengan baik, "pamanku, mengapa kau datang kembali? Bukankah namamu sudah di hapus dari daftar keluarga Nelson? Semua tahu Putra Kakekku sekarang hanya Ayahku seorang dan aku cucu satu-satunya."


"Lalu memangnya kenapa? Kau pikir aku hanya bisa mengandalkan uang Ayahku untuk bisa sukses? Tidak Richard, faktanya aku sudah memiliki 40% lebih saham di perusahaan ini, dengan usahaku sendiri. Dengan kata lain, aku juga berhak mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin group di perusahaan ini." Jelas Martin.

__ADS_1


Richard mendengus tawa, "baiklah, biarkan para Dewan yang memutuskan pilihan mereka. Jika mereka memilihmu maka kau akan menjadi pemimpin selanjutnya."


"Selamat siang para hadirin semuanya, seperti yang kalian tahu, aku baru saja kembali dari tahanan selama hampir satu bulan, tetapi aku di bebaskan karena tuduhan itu tidak terbukti benar. Ya, bisa di bilang jika aku telah di fitnah, tapi sekarang polisi sudah menangkap pelaku sebenarnya beserta bukti-buktinya, disini aku ingin memberi kalian kesempatan untuk memberikan pendapat kalian, jika ada dari kalian yang tidak suka dengan kinerja ku inilah kesempatan kalian untuk menyingkirkan ku dari posisi Ini." Richard berpidato, dia memulai rapatnya.


"Disana pamanku, Tuan Martin. Dulu dia juga bermarga seperti ku Nelson, tapi setelah semua yang terjadi Kakekku memutuskan untuk mencabut nama belakangnya dan menghapusnya dari daftar keluarga dan ahli waris, tentu kalian pernah mendengar tentang nya kan." Semua pasang mata terarah pada Martin.


"Tuan Martin memiliki 40% saham yang sebelumnya dimiliki oleh Tuan Carles sebesar 10%, Tuan Stuart 5%, Tuan Dean 15%, namun sisa 10% yang terakhir milik Tuan Hans, dia belum memberi persetujuan pengalihan saham, benar? Dengan kata lain dia belum betul-betul menyerahkan 10% saham tersebut, dia baru meminjam uang setengahnya karena perusahaan yang ia jalankan sedang merugi." Martin melengos mendengar perkataan Richard yang benar adanya.


"Tapi hari ini dia menghubungiku, dia ingin mengembalikan uang yang telah dia pinjam darimu Paman, kebetulan dia tidak bisa hadir karena sedang diluar kota, dia akan bicara pada kita lewat panggilan video. Selamat siang Tuan Hans!" Orang yang di bicarakan muncul di layar besar di depan mereka.


"Silahkan, apa ada yang ingin anda sampaikan Tuan!"


"Kalian semua mendengarnya kan, jadi total saham yang dimiliki Tuan Martin hanya sebesar 30% sekarang, sedang milikku 50% di tambah milik istriku Shelia dan total saham yang aku miliki sebesar 60% jadi dalam hal ini aku yang menang. Tapi, pilihan itu aku kembalikan pada kalian, Terima kasih!" Richard mengakhiri pidatonya dan kembali duduk.


Kini sang juru bicara perusahaan yang angkat bicara, "Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, kalian mengenal baik seperti apa Tuan Richard, dia pria yang baik, bijaksana dan berdedikasi untuk perusahaan ini, jika bukan karena beliau perusahaan ini tidak akan berjaya seperti sekarang. Apa kalian masih ragu dengan kinerja beliau?" dia bertanya pada semua orang, membuat semua yang hadir saling pandang satu sama lain, mereka saling berbisik pelan.


"Benar jika bukan karena Tuan Richard perusahaan ini pasti tidak akan berkembang seperti sekarang, jadi saya pribadi tetap memilih Tuan Richard." Dia tersenyum, dan kembali duduk di iringi tepuk tangan semua orang.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah bisa mengambil kesimpulan, siapa yang akan kalian pilih! Jadi kita mulai voting nya, saya akan beri kalian waktu lima menit." Mereka di berikan satu tab masing-masing untung memberikan suara.


Richard duduk dengan santai, sedang Martin nampak berbisik-bisik dengan para bawahannya, agaknya dia tengah merencanakan sesuatu, "Ken apa semua sudah siap?" Richard berbisik pada Ken.


"Sudah Tuan, semua sudah pada posisinya."


"Voting selesai, silahkan taruh kembali tab kalian." Juru bicara ber-gender wanita itu berjalan menuju layar besar di depan, sebelum mengumumkan hasil voting dia berpidato untuk beberapa saat, dia juga banyak menjelaskan visi misi dari kedua belah pihak serta pencapaian pemimpin sebelumnya.


"Baiklah, mari kita buka bersama hasil votingnya! Tuan Richard sebesar 70% dan Tuan Martin 30% bisa di pastikan siapa pemenangnya, mari beri tepuk tangan untuk Tuan Richard!" Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu, Richard berdiri sambil menunduk hormat.


"Terima kasih untuk kepercayaan kalian terhadap ku, aku akan berusaha sebaik mung--," Belum sempat Richard menyelesaikan ucapannya senjata apa telah tertodong ke arahnya.


"Angkat tangan kalian!" teriak pengawal yang Martin bawa tadi, entah sejak kapan oran-orangnya menjadi berlipat ganda. Semua orang nampak panik, terlebih para perempuan mereka menjerit histeris, namun terpaksa kembali bungkam karena di bentak oleh anak buah Martin.


Richard melempar tatapan tajam pada Martin, "apa-apaan ini Paman? Bermain dengan senjata api itu tidaklah baik, terutama senjata ilegal!"


"Diam kau dasar keparat! Aku sudah berusaha bersabar terhadapmu, kau keponakan sialan, seharusnya aku menghabisimu sejak kau dalam kandungan Ibumu agar tak harus lahir ke-dunia ini. Tapi, tidak papa menghabisi mu sekarang pun masih sempat." Martin tertawa seperti orang kesetanan, dia bak orang tak waras.

__ADS_1


"Bunuh saja aku paman, toh disini banyak saksi mata, bukannya perusahaan yang kau dapat, malah kau akan mendekam dalam penjara." Richard tertawa sinis.


"Sialan, aku tidak peduli, yang aku inginkan sekarang adalah nyawamu." Martin berucap sembari senjata tetap terarah pada Richard.


__ADS_2