
Clarisa menyipitkan mata, mempertegas penglihatannya, agar dia yakin orang yang dia lihat itu benar adalah Khanza. Dia tengah berjongkok membujuk seorang anak agar minum obat.
"Benar itu dia, mengapa dia ada disini? Di saat semua orang tengah mencarinya ke setiap sudut kota, tapi lihat nona muda itu berada di tempat ini dengan tenang." Clarisa berdecak kesal, saat dia hendak berjalan mendekat tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Khanza berdiri dengan perut membengkak.
"Hah, apa aku salah lihat?" Clarisa mengucek matanya, mungkin matanya agak buram karena kelelahan. Namun saat dia kembali membuka mata, pemandangan itu masih tetap sama.
Khanza menoleh, seketika tubuhnya mematung di tempat, melihat siapa kini yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Tenggorokannya seketika tercekat, dia menelan Salivanya, menatap Clarisa dengan tatapan tegang.
"Ka-kakak." Ucapnya, yang terlihat oleh Clarisa hanya gerak mulutnya saja.
Clarisa mendekat, dengan mata tak henti-hentinya mengawasi dengan tatapan terhunus, "apa ini?" pertanyaan yang langsung pada inti.
"Kau hamil?"
Pupil mata Khanza melebar, dia menunduk menatap perutnya yang kini telah membuncit. "Hem, seperti yang Kakak lihat." Clarisa berdecak membuang muka.
"Siapa Ayahnya? Apa si Nicholas itu? Atau pria lain?" Clarisa mengepalkan tangan.
"Tidak, ini hanya miliku." Dalih Khanza.
"Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bodohi begitu, katakan milik siapa ini?" Clarisa mengguncang bahu Khanza geram.
Khanza mendongak, sambil tersenyum tipis, "kenapa malah tersenyum? Jawab Kakak Khanza, siapa yang tega melakukan ini padamu?" Clarisa meninggikan suaranya hingga dia lupa masih ada orang lain di tempat itu, yakni sepasang Ibu dan anak korban bencana.
"Nona, maafkan aku jika aku turut campur dalam masalah keluarga kalian, tapi alangkah baiknya kalian bicarakan di tempat lain," Ibu muda itu mengingatkan.
"Terima kasih Kak Jean, kalau begitu aku pergi dulu, dadah Brian, makan obatnya jangan buat Mamah kerepotan." Khanza melambaikan tangan pada dua orang berbeda usia itu.
__ADS_1
Khanza berjalan lebih dulu, di ikuti Clarisa di belakangnya, "kamu belum menjawab pertanyaan ku Khanza?!" Desak Clarisa tak sabar setelah posisi mereka cukup jauh dari tempat tadi, membuat Khanza mengehentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Sejak kapan Kakak peduli padaku?" pertanyaan itu sontak membuat bibir Clarisa terkatup rapat.
"Jika Kakak tak benar-benar peduli, sebaiknya kita pura-pura tidak saling mengenal Kak, aku ingin memulai hidup baru di tempat ini, jadi aku harap Kakak lupakan saja tentang siapa aku, mungkin itu jalan terbaik yang bisa kita ambil." Khanza berucap dengan perasaan ketir.
"Aku tahu Kakak akan malu jika orang lain tahu aku hamil diluar nikah, jadi Kak tinggalkan saja aku anggap kita tak pernah bertemu. Mengenai siapa Ayah anak ini, benar yang Kakak katakan, itu dia, Nicholas Nelson." Khanza tersenyum lemah di ujung katanya.
"Tapi sayangnya dia tidak tahu kalau aku sedang hamil, jadi aku harap Kakak bisa menjaga rahasia ini, biarkan aku hidup tenang dengan anakku." Khanza berbalik untuk melihat sang Kakak.
"Sudah cukup bicaranya?" Clarisa melempar tatapan tajam.
"Ya, aku rasa itu cukup. Mari tidak saling bertemu lagi." Khanza menunduk menahan tangis.
"Dasar adik bodoh!" Clarisa menyeruak menubrukkan dirinya pada Khanza, membuat wanita itu terkejut setengah mati.
"Maaf," lirih Clarisa sambil terisak di pundak Khanza.
"Maaf untuk semua yang pernah terjadi Khanza. Aku tahu tak seharusnya aku menyalahkanmu atas kesalahan orang dewasa, jadi adik maukah kamu memaafkan Kakak?" Clarisa melepaskan rangkulannya dan menatap wajah Khanza penuh kerinduan.
"Aku tak pernah menyimpan dendam Kak, jadi tak ada yang perlu di maafkan, salah faham antar saudara itu hal biasa." Clarisa menangis pilu, dia tak menyangka adiknya punya hati yang begitu baik, setelah apa yang terjadi dia bilang hanya salah faham.
Clarisa kembali memeluk Khanza dan menangis deras dengan tempo waktu cukup lama, Khanza pun sama halnya, dia menangis tubuhnya bergetar pelan. Setelah mampu menguasai diri masing-masing mereka saling melepaskan pelukan dan mengusap sisa-sisa air mata di pipi masing-masing.
"Berapa bulan usia kandungan mu?" Clarisa menatap perut Khanza yang memang nampak kentara.
"Masuk Tujuh bulan Kak, dokter bilang jenis kelaminnya laki-laki." Khanza tersenyum sembari mengusap perutnya sendiri.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak minta si Nicholas itu bertanggung jawab?" Clarisa mulai kesal lagi jika mengingat nama Nic.
"Tidak perlu Kak, ini hanya sebuah kecelakaan, lagi pula Nic sudah akan menikah, aku tidak ingin menjadi wanita egois yang merebut kebahagiaan wanita lain." Ujar Khanza tersenyum lemah.
"Sebenarnya kau terbuat dari apa? Mengapa kau bisa menahan setiap rasa sakit Khanza," Clarisa menyapu air mata yang kembali menerobos lewat sudut matanya.
Khanza mendengus tawa, "aku juga manusia biasa Kak, aku juga punya rasa sakit, namun aku selalu berpikir untuk maju, aku ingin hidup mandiri tak ada gunanya memikirkan rasa sakit, cukup hatiku yang rasa bukan otakku."
"Oh ya, sedang apa Kakak disini?"
"Aku bergabung dengan relawan tim dokter, untuk memeriksa para korban." Jawab Clarisa.
"Mamah, apa kabar Kak?" Khanza melengos saat menyebut kata Mamah.
"Dia baik, tapi dia merindukanmu," jawab Clarisa.
"Kakak jangan mengada-ngada, semua orang tahu, Mamah paling membenci aku, mana mungkin dia merindukan ku." Khanza menepis kata-kata Clarisa, yang dia tahu itu pasti untuk menghibur hatinya.
"Aku yang paling tahu Khanza, betapa dulu dia sangat menyayangimu. Saat ini pun sama, hanya saja itu tertutup oleh oleh rasa kekecewaan dan kebencian untuk Papah. Jadi aku harap kamu bersabar, dan jangan membalas kebencian Mamah dengan kebencian mu, aku berjanji suatu hari kita akan berkumpul dan tertawa seperti dulu." Clarisa berujar penuh keyakinan.
"Baik Kak, aku percaya hari itu akan datang. Seperti sekarang, jujur aku masih tidak percaya Kakak berdiri di hadapanku saat ini meminta maaf dan memperbaiki hubungan kita. Aku merasa ini seperti mimpi."
"Dasar kamu," Clarisa terkekeh pelan, "sebetulnya sudah sejak lama Kakak ingin minta maaf padamu, tapi Kakak tak punya keberanian dan takut kamu tidak akan memaafkan Kakak."
"Tidak papa Kak, sekarang pun belum terlambat. Kakak tinggal dimana?"
"Katanya pihak rumah sakit sudah menyiapkan penginapan untuk para relawan, aku akan tinggal disana." Jawab Clarisa.
__ADS_1
"Mengapa Kakak tidak tinggal di rumahku saja selama disini, rumahku juga tidak jauh dari sini." Clarisa langsung mengangguk setuju, selain dari ingin kembali menjalin hubungan baik dengan sang adik, dia juga ingin melihat seperti apa kehidupan Khanza di tempat baru ini.