Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 35 : Mabuk


__ADS_3

Dari hari ke hari, kepergian Khanza membuat prilaku Nic berubah, dia lebih sering marah-marah dan pekerjaannya tak ada yang beres, makan tak teratur terkadang dia minum di kantornya hingga pulang larut malam.


Kini Nic berada di ruang keluarga di kediaman keluarganya, tampangnya nampak tak karuan bau alkohol tercium pekat saat dia berbicara. Dia menunduk menatap lantai, saat ini dia seolah berada di ruang persidangan dimana Ayahnya sebagai hakim dan Ibunya sebagai pengacara.


"Lihat anak bodoh ini, beberapa hari saja tanpa Khanza semua pekerjaannya hancur, mau jadi apa kamu Nic. Bahkan kau memarahi semua pekerja, banyak yang mengeluhkan tentangmu pada Daddy dan Om Ken. Aku tahu kepergian Khanza memengarhui pikiranmu, tapi bukan begini caranya seorang pria bertindak saat hatinya terganggu." Ucap Richard panjang lebar.


"Sabar Richard, Khanza belum ditemukan itu memengarhui aku juga, apa lagi Nic. Mereka sudah bersama sedari kecil, jadi ini berdampak besar pada hatinya Nic." Sehelia menyentuh lengan Richard memberinya penenangan.


"Aku tahu, tapi jika dia terus seperti ini perusahan akan terancam begitu pun posisinya, banyak yang menginginkan posisiku saat ini Shelia, anakku hanya dia, dia harapan terakhirku. Jika dia bahkan tak bisa memenuhi harapanku, bersiap saja kita melepaskan posisi pemimpin dalam Group." Richard beranjak dari sopa menuju lantai atas dengan wajah datar.


Shelia mendekat dan menyentuh pundak Nic, pandangan Nic nampak datar, dia menatap kosong lantai yang ia pijak, "Nic, mami mengerti yang kau rasakan, tapi bahkan Khanza pun akan kecewa melihat sikapmu yang begini, jadilah laki-laki yang bisa di banggakan Nic. Saat Khanza kembali, dia akan menatapmu dengan tatapan bangga."


"Sudahlah Mami, aku akan berusaha memenuhi harapan Daddy, Mami tidak usah khawatir. Akhir-akhir ini tekanan pekerjaan terlalu banyak, itulah mengapa sikapku sedikit berubah, dan mengenai aku minum di kantor itu hanya sebuah bentuk penghilang stres saja, selebihnya aku baik-baik saja, walau tanpa Khanza sekali pun. Aku akan memperbaiki kesalahanku." Nic beranjak dengan langkah sedikit goyah, dia kembali ke kamarnya.


Nic melemparkan diri ke atas ranjang, dering telpon membuat mulutnya sedikit berdecak. Dia mengangkat benda pipih tersebut tanpa melihatnya, [Sayang] suara dari sebrang sana terdengar bersemangat.


[Apa kau merindukan ku? Aku sudah kembali dari luar negri] ujarnya masih dengan nada yang sama.

__ADS_1


"Hem." Nic menjawab, sembari memijat keningnya yang terasa pening.


[Besok malam temani aku ke acara penghargaan ya, aku masuk nominasi model terbaik lagi] Ucap Cherry antusias.


"Baiklah, aku akan menjemputmu jam 7 malam."


[Terima kasih sayang, sampai bertemu besok malam. Aku mencintaimu, muach] Cherry mengakhiri sambungan telponnya. Nic mendesah pelan, walau hatinya enggan dia harus tetap pergi.


~*~


Di tempat lain, di jam dan waktu yang bersamaan. Cherry mengakhiri sambungan telponnya, seperti biasa dia duduk di pangkuan seorang pria yang Ia panggil Master One, dia sendiri tak tau siapa nama asli Pria paruh baya ini.


"Baiklah sesuai yang anda inginkan tuan," Cherry menurut saja, dia tak dapat melawan seolah tali jerat melingkar di lehernya, jika dia sedikit saja melawan maka tali itu akan mencekiknya hingga mati.


'Maaf Nic, bukan aku tak kasihan padamu tapi, aku lebih mengasihani diriku sendiri. Apa yang aku miliki saat ini tidak mudah di dapatkan, aku tak ingin kehilangan semuanya apa lagi nyawaku.'


Keesokan harinya sesuai janji, Nic menjemput Cherry di rumahnya, dia nampak anggun dengan balutan gaun panjang berwarna merah, tanpa tali di bagian atasnya, baju itu nampak sedada tanpa lengan, rambutnya nampak di sanggul dengan hiasan cantik di bagian samping, sedang beberapa helai rambut nampak ia biarkan tergerai dari masing-masing pelipsnya.

__ADS_1


"Bagaimana penampilanku?" tanya Cherry setelah dia menutup pintu mobil.


"Cantik." Jawab Nic tanpa menoleh.


Cherry memberengut, jawaban Nic yang sepontan tanpa menoleh membuatnya tak puas, namun dia akan berkompromi untuk malam ini, jangan sampai rencana yang telah ia susun hancur berantakan karena egonya.


Mobil berhenti di pakiran sebuah gedung bernuansa mewah, disana sudah nampak ramai dengan banyak orang juga wartawan yang selalu siaga dengan kamera di tangannya. Terhitung sudah dua kali Nic menemani Cherry datang ke acara seperti ini, tapi dia tetap tak suka dengan kamera yang terus saja menyorot ke arahnya, cahaya menyilaukan yang keluar dari benda tersebut pun tekadang membuat Nic sakit mata, menyebalkan, apa lagi saat mereka melempar pertanyaan yang besipat pribadi, terkadang membuat Nic ingin memaki mereka yang menurutnya terlalu banyak ikut campur masalah pribadi orang lain.


"Ayo sayang!" Cherry melingkarkan tangan di lengan Nic, pria itu tetap diam dan menurut saja. Nic berjalan dengan tatapan menunduk, seperti biasa hampir semua wartawan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan, dan Nic membiarkan ahlinya yang menjawab. Setelah sesi foto dan menyelesaikan beberapa formalitas mereka pun masuk kedalam gedung tersebut dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Acara demi acara telah di lewati. Jujur Nic merasa bosan, terlebih lagi tak ada satu pun yang Nic kenal di tempat ini. Setelah acara selesai mereka di arahkan ke tempat pesta yang masih satu gedung yang sama dengan tempat acara tersebut di adakan. Banyak yang mengucapkan selamat pada Cherry karena telah memenangkan piala penghargaan model terbaik tahun ini, yang tentu saja disambut antusias oleh wanita itu tak lupa mereka berfoto bersama dan lengan Cherry tak ingin lepas selalu mengait di lengan Nic.


"Cherry, aku haus," gumam Nic di daun telinga Cherry, sebetulnya itu hanya sebuah alasan agar bisa pergi dari kermaian.


"Oh, kalau begitu pergilah, aku masih ada wawancara disini." Cherry tersenyum dan melepas lengannya yang mengait di lengan Nic.


Nic lekas meninggalkan Cherry yang masih di kerubuti wartawan, sekilas dia juga mendengar wartawan itu menanyakan perihal dirinya pada Cherry, namun dia tak peduli Nic langsung pergi dari sana dan mendekati meja minuman, dia mengambil segelas minuman yang kadar alkoholnya minim, dia tak ingin mabuk di depan banyak orang dan membuat namanya semakin tercemar.

__ADS_1


Namun, setelah beberapa saat, dia merasakan pening di kepalanya, pandangannya terlihat berputar, beberapa kali Nic menggelengkan kepalanya berharap pandangannya kembali seperti semula, namun semakin lama justru kesadarannya semakin hilang. Samar-samar dia melihat seorang pria datang menghampirinya, tampaknya itu David, setidaknya Nic sedikit tenang jika yang datang menghampiri adalah David, di detik berikutnya Nic pun kehilangan kesadaran.


__ADS_2