Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 63 : Ending!


__ADS_3

Mobil mereka menepi di sebuah tempat sepi dan gelap, Khanza mengedarkan pandangan menelaah keadaan sekitar, tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan di tempat ini.


"Nic kita akan kemana?" Tanya Khanza dengan perasaan takut-takut.


Nic malah turun lebih dulu, kemudian membuka pintu dan menarik Khanza untuk ikut keluar bersamanya.


"Nic kau belum menjawab?!" Desak Khanza.


"Jangan berisik, ikuti saja aku." Balas Nic dengan suara tenang.


Khanza menatap Nic penuh curiga, dia menghentikan langkahnya di tengah jalan membuat langkah Nic ikut tertahan, "jangan-jangan kau ingin membunuhku Nic." Ucap Khanza dengan suara bergetar.


Ctak...! Nic menyentil dahi Khanza karena kesal, "kau pikir suami-mu ini manusia macam apa. Sudah jangan berpikir yang bukan-bukan." Nic kembali menarik lengan Khanza menyusuri jalan setapak.


Khanza mematutkan wajahnya, dengan bibir menggerutu tanpa suara, sebuah tempat bercahaya nampak di kejauhan, Khanza menyipitkan mata memperjelas pandangannya.


"Itu apa Nic?" tanya Khanza penasaran.


"Kuburan." Jawab Nic acuh.


"Nic." Geram Khanza kesal.

__ADS_1


Nic terkekeh pelan, "coba kau tebak!" Nic enggan menjawab.


"Sudahlah, nanti juga aku akan tahu."


Langkah Nic dan Khanza terhenti di depan sebuah bangunan berdinding kaca, dengan hiasan bunga-bunga segar di sekelilingnya, di tambah lampu yang berganti warna setiap detiknya, "Nic apa kau yang melakukan semua ini?" Khanza menatap takjub.


Nic menggeleng, "Karyawan-ku yang melakukannya, tapi aku yang menyuruhnya."


"Itu sama saja!" Decak Khanza.


Dia melangkah memasuki tempat tersebut, kedatangannya di sambut dengan aroma mawar asli yang menghampar sepanjang jalan yang Ia lewati, "apa kau suka?" tanya Nic yang mengikuti langkah Khanza di belakang.


Khanza kembali mengedarkan pandangan, tatapannya berakhir pada sebuah ranjang King Size berwarna putih dengan taburan Bunga mawar merah berbentuk hati di tengahnya.


Nic memeluk Khanza dari belakang, dan mendaratkan sebuah ciuman di pundak wanita itu, "kau tahu aku sangat bahagia hari ini, aku pikir kau tidak akan pernah kembali. Aku begitu putus asa saat kau pergi meninggalkan aku Khanza, seolah seluruh dunia meninggalkanku seorang diri."


"Aku juga merasakan hal yang sama Nic, aku sangat tersiksa saat jauh darimu. Aku tidak bisa mengatakan aku tak bisa hidup tanpamu, tapi yang aku rasakan hidupku hampa tanpamu, kau adalah hidupku. Dan kini hidupku terasa lengkap saat hadirnya Ivander dalam duniaku."


"Jadi, mari kita menua bersama!"


Khanza berbalik dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Nic, yang di balas penuh gairah oleh pria itu.

__ADS_1


"Apa kau sudah siap?!" Nic mengangkat tubuh Khanza dalam posisi menghadap ke arahnya.


"Apa aku harus menjawab?" tanya Khanza dengan wajah malu.


"Tidak perlu, kau hanya harus mengikuti permainanku." Nic terkekeh sambil membaringkan tubuh Khanza di ranjang.


"Nic, apa kita akan melakukan ini di tempat terbuka?" Ucap Khanza dengan napas tak beraturan, akibat ulah suaminya itu. Dia mencoba menahan kepala Nic yang bibirnya tak mau berhenti bermain di tempat favoritnya.


"Tenang saja, dari dalam kita bisa melihat jelas keluar, tapi dari luar tempat ini tampak berkabut, jadi orang tidak akan bisa melihat apa pun kecuali asap putih." Ujar Nic, yang masih dalam posisi yang sama.


"Ouch, pelan-pelan Nic itu sakit!" Pekik Khanza yang merasai bagian tertentu dari tubuhnya berdenyut nyeri disertai rasa panas.


"Maafkan aku sayang, aku hanya sedang membuat stempel!" Kekehnya.


"Dasar kau!" Khanza mencubit pipi Nic gemas. Khanza mengacak rambut Nic kala gairah-nya kian memuncak.


Malam panjang untuk pasangan pengantin baru ini baru saja di mulai.


...Aku seolah berada di atas awan, tubuhku ringan seperti kapas, melayang tanpa beban. Seolah waktu akan selamanya begini, aku tak ingin momen ini berakhir, walau energi dalam tubuhku seolah terkuras habis, namun helaan napas-mu kembali membangkitkan rasa-ku. Genggaman tangan-mu menguatkan diriku, lembutnya bibirmu membawaku pada khayalan tanpa batas, aku ingin lebih dan semakin lebih, aku tak ingin kau bermain terlalu lama pada satu titik yang sama. Oh sayangku, regup-lah asa ku, genggam-lah tanganku, mari kita meraih masa depan bersama!...


Tamat!

__ADS_1


__ADS_2