
Cherry menunggu Martin di kamarnya, baru kali ini Cherry benar-benar mengharapkan pria itu cepat datang. Cherry menata minuman di atas meja dan semangkuk es batu sebagai temannya.
Klek...Pintu pun terbuka, menampakan wajah lelah Martin, "Tuan kau nampak lelah, duduklah biar aku memijat bahu-mu." Cherry menggandeng lengan Martin dan mendudukkannya di sopa.
Cherry menyerahkan segelas anggur lantas memijat pundak Martin sesuai janjinya, "masalah apa yang membuat Tuan-ku sampai berwajah muram begini?" Cherry bertanya dengan nada manja.
"Tidak ada, hanya masalah kecil." Martin enggan menjawab.
"Jika hanya masalah kecil, mari lupakan semuanya, kita bersenang-senang malam ini, Tuan." Cherry beralih duduk dipangkuan Martin, dia kembali menuangkan anggur di gelas Martin yang telah kosong. Namun diluar dugaan, Martin malah memberikan anggur yang Ia minum lewat ciuman pada Cherry.
Uhuk...Uhuk...! Cherry terbatuk, dengan alis mengernyit, dia tak menyangka Martin akan melakukan hal itu.
"Bagaimana rasanya, sayang? Enakkan?" Martin mencumbu leher Cherry hingga Ia mengeluarkan suara lenguhan dari bibirnya.
'*Sialan, anggurnya terlalu kuat, aku tidak bisa mengendalikan diriku.' Pandangan Cherry mulai berputar, dia bahkan tak bisa fokus pada satu titik.
'Tidak, jangan sampai aku mabuk.' Cherry sekuat tenaga menahan diri agar tetap sadar. Dia bahkan tak peduli dengan apa yang Martin lakukan padanya*.
Martin mengikat lengan Cherry dengan dasinya, agar wanita itu tak leluasa bergerak, dia mulai memposisikan diri di depan wajah Cherry. (author gak perlu menjelaskan apa yang mereka lakukan ya gaes kalian pasti dah tau awok awok🙈:v)
Setelah puas dengan satu adegan dia kembali merubah posisi Cherry agar membelakanginya, membuat gadis itu kembali mengeluarkan ******* kenikmatan.
__ADS_1
Setelah adegan panas mereka yang di mulai di sopa hingga berakhir di ranjang, Martin tertidur pulas, sedang Cherry beruntung dia dapat mengendalikan diri agar tetap tersadar.
"Aku harus segera mencari kunci kalung ini." gumam Cherry sambil turun dari ranjang dengan langkah pelan, di menatap benci pada pria yang telah merusak harga dirinya.
Cherry mulai mencari benda yang sekiranya mirip kunci untuk membuka tali jerat di lehernya, dia mencari benda tersebut dari mulai lemari, laci, nakas dan kolong tempat tidur, namun benda itu tak dia temukan dimana pun. Dia melirik celana Martin yang teronggok di lantai, apa mungkin disana?
Cherry merayap pelan dia meraih celana panjang berwarna hitam yang tadi Martin kenakan, dia merogoh sakunya, dia merasai ada sebuah benda sepanjang dua ruas jari dan sebesar jari jempol di dalam saku tersebut.
'Mungkin ini.' Gumam Cherry dalam hati, dia mengambil benda tersebut dan meniliknya dengan seksama, benda itu tak mirip kunci sama sekali, 'apa ini semacam remote kontrol?' Cherry menekan salah satu tombol bagian depan, yang ternyata menimbulkan sengatan menyakitkan di lehernya.
Cherry mengatur napas, hampir saja dia menjerit sakit sakitnya, beruntung dia cepat-cepat menekan kembali tombol tersebut sehingga membuat sengatan di lehernya berhenti. Cherry menyandarkan punggungnya di pintu lemari, sambil menilik kembali benda tersebut. Dengan perasaan takut-takut Cherry kembali menekan tombol yang ada di sisi kiri dan kanan benda tersebut, dia memejamkan mata bersiap menerima rasa sakit yang berikutnya, namun diluar dugaan selepas benda itu di tekan kalung jerat di lehernya melonggar.
~*~
Nic, Shelia, Ken dan Ren duduk di bangku yang ada di ruangan persidangan, di jajaran paling depan Richard dan pengacaranya duduk menghadap hakim, seperti biasa wajahnya nampak tenang, dia sama sekali tak menampakan wajah tegang atau pun takut. Seperti yang pernah dia katakan pada Nic, jangan pernah takut menghadapi masalah, jika kita tidak bersalah maka jangan pernah mengakuinya, bagaimana pun cara orang memaksa agar kau tampak bersalah.
Karena banyaknya bukti dan saksi yang hadir di persidangan, Richard pun terbukti tidak bersalah. Apa lagi telah ditemukannya gudang senjata ilegal dan pabrik pengolahan obat terlarang yang asli, membuat Richard dinyatakan bersih, dia di bebaskan tanpa syarat.
"Richard!" Shelia menghambur memeluk suaminya penuh haru, saat Richard di tangkap polisi seakan dunianya runtuh, suami yang paling baik, berdedikasi dan paling loyal terhadap para pekerjanya dia juga rajin memberikan amal, bagaimana bisa dia terlibat dalam penjualan barang haram, tentu saja itu tidak mungkin.
"Sudah, sudah, jangan menangis!" Richard mengusap punggung Shelia yang bergetar karena tangisnya.
__ADS_1
Perlahan Shelia melepas pelukannya, dia menghapus sisa air mata yang menggenang di kedua sudut matanya, "lihat keadaanmu, kau nampak kurus sayang, apa mereka tidak memperlakukan mu dengan baik?"
"Hey, apa yang kau katakan, mereka menjalankan tugas mereka dengan baik, jangan berpikir sembarangan! Sudah ayo kita pulang, aku merindukan masakan rumah." Richard menggandeng bahu Shelia dan menggiringnya pulang.
Di dalam mobil Shelia dan Richard tak henti-hentinya bertengkar, itu dikarenakan Richard terus menggodanya, dia sengaja melakukan itu karena rindu omelan istrinya, yang jadi super cerewet sekarang. Nic hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua orang tuanya, yang tak ubahnya seperti Tom and Jerry, kadang akur kadang berantem hanya karena masalah kecil, tapi itulah yang membuat Nic rindu mereka berkumpul bersama, hanya kurang satu orang lagi.
Sesampainya di rumah, kedatangan Richard di sambut hangat oleh para pelayan dan Ken pun tak mau ketinggalan dia berda paling depan dengan kursi rodanya.
"Selamat datang kembali, Tuan besar!" Ia menunduk hormat.
"Apa yang kau katakan Ken, kita sudah seperti saudara, panggil aku dengan nama saja. Ada apa dengan kakimu?" Tanya Richard keheranan tampaknya saat dia berada di penjara banyak hal yang telah terjadi.
"Nanti kita bahas itu, sekarang mari kita makan." Semuanya berjalan menuju ruang makan, perhatian Richard tiba-tiba teralihkan pada seorang gadis kecil yang bersembunyi di balik tangga.
"Siapa dia?" tanyanya, semua mata menatap sejurus.
"Dia Alika, adiknya Cherry." Ujar Shelia membuat Richard menatap penuh tanya.
"Nanti kami jelaskan." Richard pun mengangguk setuju. Mereka makan malam bersama sembari bercengkrama mereka juga membahas tentang siapa Alika dan tentang Cherry yang kini telah berpihak pada mereka.
"Tidak ku sangka ternyata Cherry juga seorang korban, ini semakin membuatku jijik pada pamanku itu, dia telah mempermalukan nama keluarga Nelson. Aku tidak terima, lihat saja kau Martin sebentar lagi ceritamu akan tamat!" Richard mengepalkan tangan sambil menggertakkan gigi.
__ADS_1