
Setiap kali bertemu Nic selalu berusaha bersikap normal, dia memberi perhatian lebih, agar Cherry tidak mencurigainya. Hari ini dia kembali mengunjungi Cherry di rumah sakit yang masih dalam tahap pemulihan.
"Nic, kau tidak harus selalu datang kemari jika kau sibuk." Cherry berujar sembari menyematkan senyum lemah.
"Tenang saja, aku tidak begitu sibuk. Walau pun sesibuk apa pun itu, aku akan tetap meluangkan waktu untukmu." Nic meraih satu buah apel mengupas dan memotongnya, dia menyuapkan sepotong buah merah berdaging putih itu pada Cherry.
"Terima kasih sayang, kau sangat baik, aku sangat beruntung memiliki dirimu disisiku." Ujar Cherry dengan senyum penuh arti.
'Aku tidak tahu, apa aku harus senang atau sebaliknya dengan perubahan sikap Nic ini.'
"Sama-sama, aku juga senang menjadi pendampingmu."
~*~
Didalam satu bangunan yang sama, seorang Dokter cantik bertubuh tinggi semempai, berambut pirang dengan bola mata hitam kecoklatan tengah menonton sebuah berita di televisi. Tentang sebuah desa yang dilanda bencana banjir bandang, bencana itu banyak menelan korban jiwa, di antaranya anak-anak dan beberapa wanita hamil, juga ada korban yang hilang pula terbawa arus air yang deras.
"Ya Tuhan kasian sekali mereka," hati Clarisa merasa miris, jiwa seorang penolongnya meronta kuat.
Dia lantas mengangkat sebuah telpon kabel untuk memanggil seseorang, "halo Pak, saya Dokter Clarisa, apa Bapak sudah melihat berita di tivi?"
[Iya saya sudah melihatnya]suara pria yang di panggil bapak itu berujar.
"Begini pak, saya ingin meminta izin menjadi salah satu relawan di tempat itu, jika bapak mengijinkan." Clarisa mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
[Itu pemikiran yang sangat bagus, tentu saja saya mengijinkan pergilah, selamatkan pasien sebanyak mungkin.]
"Terima kasih Pak, saya akan berusaha melakukan yang terbaik!" Clarisa meletakan telpon tersebut kembali pada tempatnya. Saat itu pula dia langsung membenahi barang-barangnya dan berlalu pergi.
Sesampainya di rumah dia mendapati Ibunya yang tengah duduk melamun di depan kaca jendela, pandangan matanya menyorot nanar sebuah ayunan yang terbuat dari besi yang nampak sudah berkarat teronggok di taman belakang, ayunan itulah salah satu saksi bisu pernah adanya gadis kecil bernama Khanza.
"Mamah." Panggil Clarisa sembari menyentuh pundak sang Mamah.
Sarah melirik Clarisa dari sudut matanya, "dia benar-benar pergi kan?"
Seketika Clarisa tahu siapa yang Mamahnya maksud, "Ya, dia pergi. Bukankah itu yang selama ini Mamah inginkan!" Sarah seketika terdiam.
Sebetulnya, walau api kemarahannya pada suaminya masih belum reda sepenuhnya, namun dia tak ingin anak tirinya itu pergi. Walau Khanza adalah simbol sebuah luka dengan bentuk nyata, namun tak dapat di pungkiri, dalam hati terdalam Sarah rasa sayang itu masih berbekas.
"Keluarga Nelson pun masih terus mencarinya, entah kemana dia pergi."
Kata-kata Clarisa semakin menyayat hati Sarah, selama ini meski dia bersikap buruk terhadap Khanza, tak pernah sekali pun dia berharap Khanza lenyap dari pandangannya, meski dia sering membuat Khanza sakit hati dengan kata-katanya, nyatanya ucapannya lain di mulut lain di hati. Selama ini Sarah sering mencari tahu bahkan mencoba menghubungi Khanza walau memakai Ayahnya sebagai alasan.
"Dia cuma cari perhatian, nanti juga balik lagi." Sarah menepis kata pesimis yang muncul di benaknya.
"Mamah tahu betul dia bukan tipe orang seperti itu."
"Risa, cukup!" Sarah tak ingin mendengar lagi argumen Clarisa yang seakan memojokkan dirinya.
__ADS_1
"Terserah Mamah saja, Mamah yang paling tahu isi hati sendiri. Semakin Mamah mengelak, semakin itu terlihat." Clarisa berlalu, dia faham betul sebetulnya Mamahnya itu peduli pada Khanza hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Dulu Clarisa juga begitu, dia amat marah saat tahu bahwa Khanza adalah adik satu Ayah dengannya, dia yang tadinya begitu sayang seketika membenci dalam sekejap mata. Tangis adik yang dulu amat di cintainya tak ia hiraukan lagi, sikapnya terhadap Khanza berubah 180° kekesalannya terhadap sang Ayah ia lampiaskan terhadap Khanza, yang pada dasarnya tak tahu apa-apa. Namun seiring berjalannya waktu, dia sadar apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan, beberapa kali Clarisa ingin minta maaf dan ingin membangun kembali hubungannya dengan sang adik, namun kata-kata itu hanya bisa tertahan di kerongkongannya, hingga akhirnya Khanza keluar dari rumah itu.
Clarisa melanjutkan niat awalnya membereskan pakaian yang ingin Ia bawa ke tempat pengungsian para korban bencana.
"Risa kamu mau kemana?" tanya Sarah saat melihat putri pertamanya menggeret koper menuruni anak tangga.
"Aku harus pergi dinas untuk beberapa hari Mah," ujarnya tenang.
"Dinas! Kenapa mendadak?"
"Ya, karena acaranya dadakan. Aku pergi dulu Mam." Clarisa berpamitan, lantas pergi.
Jemari Clarisa mengetuk-ngetuk kemudi saat mobilnya berhenti sejenak di depan lampu merah. Dia melirik sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di samping mobilnya
"Nicholas?!" gumam Clarisa pelan. Dia agak kesal pada Nic, dia pikir Nic akan menjaga Khanza dengan baik hingga dia sepenuhnya percaya, bahwa Khanza akan baik-baik saja jika Nic bersamanya, nyatanya tidak, sekarang Khanza malah menghilang, Clarisa yakin penyebab utama Khanza menghilang adalah ulah anak keluarga Nelson itu.
Clarisa yang tak ingin moodnya menghilang, langsung tancap gas saat lampu kembali menjadi hijau. Setelah menempuh waktu perjalanan berjam-jam akhirnya Clarisa sampai di lokasi pengungsian korban banjir bandang tersebut, dia langsung menepikan mobil di sebuah parkiran khusus yang tersedia. Pihak rumah sakit nampaknya sudah memberi tahu perihal kedatangannya, terbukti saat dia turun beberapa orang langsung menyambutnya dan membantunya menurunkan obat-obatan yang Ia bawa dalam mobil.
Kondisi di tempat ini cukup memprihatinkan, banyak orang terluka, dengan luka beragam, ada yang luka di kaki, tangan dan bagian tubuh yang lainnya. Tanpa menghiraukan rasa lelah Clarisa langsung bergabung dengan tim dokter yang menjadi relawan di tempat ini. Satu persatu pasien yang datang Clarisa periksa dengan teliti, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 19:00 dia pun membereskan perlengkapan kedokterannya dan melepas jas putihnya yang selalu melekat di tubuhnya.
Clarisa berjalan keluar dari posko dan sesekali menunduk sambil tersenyum sopan membalas tiap orang yang menyapanya. Lelah, letih dan perasaan tak nyaman di tubuhnya membuat dia ingin cepat berjumpa dengan bak mandi. Saat Clarisa sedang berjalan menuju penginapan yang telah di sediakan untuknya, tatapannya berakhir pada sesosok wanita dengan rambut yang di ikat tinggi.
__ADS_1
"Dia, Khanza?!"