Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 62 : Pernikahan!


__ADS_3

Seorang wanita yang tengah mengenakan gaun putih duduk di depan meja rias menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya nampak cantik dengan riasan lembut, rambutnya di Sasak ke-belakang dengan sematan hiasan rambut dan jaring tipis.


"Adikku kau sangat cantik, hari ini kau akan jadi pusat perhatian." Clarisa menatap kagum pantulan wajah Khanza di cermin.


"Kakak terlalu berlebihan, aku cantik karena riasan yang ku pakai dan baju ini!"


"Itu tidak benar, kau sudah cantik sejak dulu!" Celetuk Richard yang baru saja hadir di kamar rias itu.


"Tuan Richard!" Khanza tersenyum, menatap calon mertuanya itu, Richard sudah rapi dengan jas hitamnya.


"Kau masih memanggilku Tuan?!"


"Hanya satu kebiasaan yang sulit di rubah." Jawab Khanza terkekeh pelan. Clarisa ikut tersenyum, hanya satu yang kurang, kehadiran Ibunya, entah kapan hati Ibunya akan terbuka.


"Ayo, aku yang akan mendampingi-mu, acaranya akan segera di mulai." Khanza bangkit di bantu Clarisa yang membawakan ujung gaunnya di belakang, gaun itu menjuntai menyapu lantai.


Richard memposisikan dirinya di samping Khanza, membiarkan wanita itu mengaitkan lengannya, "terima kasih Tuan Richard, apa yang kau lakukan untukku melebih apa yang seorang Ayah lakukan. Aku tidak tahu harus dengan cara apa aku membalasnya." Mata Khanza berkaca-kaca, Ia langsung menyekanya jika tida riasannya akan hancur karena air mata.


"Jika kau ingin membalasku, cukup cintai anakku dan lahir-kan anak yang banyak." Khanza tertawa begitu pun Clarisa.


"Astaga Tuan, memangnya berapa banyak cucu yang kau inginkan?" Clarisa iseng bertanya.


"Emh, harus cukuplah untuk membuat satu grup sepak bola." Richard terkekeh.


Khanza melebarkan matanya, "Tuan, sepertinya itu teralalu banyak, bagaimana cara aku merawatnya?" Khanza tersenyum ketir.


Richard tergelak, "aku hanya bercanda, kau juga putriku kau tak perlu membalas apa-pun, berbahagialah, itu sudah cukup bagiku. Semoga pernikahanmu dan Nic menjadi awal dari kebhagiaanmu seumur hidup!"


Khanza dan Richard berjalan berdampingan, menuju altar, disana Nic sudah berdiri dengan gagahnya, dia mengenakan jas berwarna putih tulang dengan celana dan sepatu senada. Kegugupan mendera, keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Khanza, jantungnya berdegup cepat, apa lagi dia tengah menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata, belum lagi Kamera yang terus saja menyorot ke arahnya, membuat dia berjalan sambil menunduk.


"Jangan gugup Khanza, tenanglah! Yang kau lihat cukup Nic seorang." Ujar Richrad.

__ADS_1


Khanza menarik napas dalam-dalam berusaha menetralkan kegugupannya, 'benar cukup Nic yang aku lihat, selamanya hanya dia, suamiku!'


Khanza tersenyum dia meraih uluran tangan Nic, dan naik ke altar.


'Khanza apa kau masih ingat saat kita pertama kali bertemu, saat itu aku masih kecil tapi aku merasa kau sedikit istimewa, semakin aku melihatmu semakin aku ingin mendekatimu, saat kau menangis aku ingin memukul orang yang membuat mu menangis, saat kau tertawa saat itulah aku juga tertawa, sebetulnya sejak awal duniaku hanya ada padamu.'


"Silahkan ikuti kata-kata yang saya ucpakan!" Ujar Sang pendeta.


Nic dan Khanza saling menatap satu sama lain, padangan mereka saling terkunci seiring sumpah pernikahan yang mengalun keluar dari bibir masing-masing.


'Sampai sekarang aku masih tak percaya akan adanya hari ini. Hari dimana kau berdiri di hadapanku mengenakan jas putih dan mengucapkan janji suci pernikahan, Nic seandainya waktu dapat berhenti aku ingin kita tetap berada di momen ini untuk selamanya. Terkadang aku takut, bahwa ini hanya sebuah mimpi dan setelah aku bangun nanti, aku akan berada di tempat tidurku hanya dengan Ivan di sampingku.'


"Silahkan pengantin pria mencium pengantin wanita!"


Nic meraih wajah Khanza kemudian menautkan bibirnya pelan, ciuman kaku namun lembut, degupan jantung mengiringi panggutan mesra dua insan itu. Hingga suara tepuk tangan dan sorak sorai tamu undangan menghentikan ke intiman mereka.


Nic dan Khanza tersenyum malu, namun jemari mereka saling bertautan. Menggenggam cinta yang kembali bersemi setelah perpisahan, menyalurkan rindu yang tertahan hanya dengan senyuman.


Namun, pada akhirnya perasaan itu terbalas dengan adanya acara sakral ini.


'Aku ingin selamanya bersamamu, membangun mahligai pernikahan ini, membesarkan anak-anak kita yang akan lahir kemudian hari. Tetaplah menjadi wanita tercantik dalam hidupku.' Nic mencium punggung tangan Khanza, membuat wajah wanita itu bersemu merah.


"Apa kau merasa lelah?" bisik Nic di telinga Khanza. Mereka kini tengah berada di lantai dansa, menari dengan alunan musik lembut.


"Emh, sedikit." Jawab Khanza pelan.


"Apa kau ingin aku menggendongmu?"


"Jangan aneh-aneh Nic, disini banyak orang."


"Memangnya kenapa, hari ini adalah milik kita. Tak-akan ada yang berani mengatakan apa-pun." Nic mencium leher Khanza dari belakang, mebuat desiran aneh dalam diri Khanza.

__ADS_1


"Nic!" Geram Khanza.


"Apa sayang?" Nic terkekeh pelan.


"Ayo sudahi dansa ini, kaki-ku sakit." Kanza membuat alasan, pasalnya apa yang Nic lakukan selalu membuat perasaannya menjadi aneh, pria itu selalu mencuri-curi kesempatan menyentuh bagian-bagian tertentu tubuh Khanza.


"Baiklah." Khanza berjalan menuju tempat duduk, disana sudah ada Shelia dan Baby Ivan.


"Kenapa kalian kemari, seharusnya kalian menikmati Festa ini." Ujar Shelia sambil memainkan Baby Ivan.


"Tidak Mami kami sudah lelah, apa boleh kami pergi beristirahat lebih dulu. Apa lagi semalaman aku tidak tidur nyenyak." Nic pura-pura menguap.


Khanza yang melihatnya, hanya bisa melongo, dia sama sekali tidak kelihatan lelah tadi.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Ivan biarkan Mami yang mengurusnya. Selamat bersenang-senang sayang." Shelia berlalu bersama Ivan dalam gendongannya.


"Tunggu apa maksud Mami?" Khanza menatap Nic.


"Bukan apa-apa, ayo!" Nic menarik lengan Khanza menerobos kerumunan orang setengah berlari.


"Kita mau pergi kemana Nic?"


"Ke-tempat yang Indah, dimana hanya ada kita berdua." Jawab Nic, sembari mendorong Khanza masuk kedalam mobil.


"Tapi Ivan?"


"Biarkan saja, Ivan ada Mami yang mengurusnya," Nic mulai melajukan mobilnya, "mengapa kita tak mulai merencanakan membuat adik untuk Ivan?"


Khanza seketika menoleh dengan pandangan mata melebar, "kau gila Ivan masih kecil!" Pekik Khanza.


"Memangnya kenapa, saat adiknya lahir Ivan pasti sudah lebih besar!"

__ADS_1


"Tidak, tidak, berikan aku waktu untuk menikmati tubuh langsingku Nic." Nic tertawa melihat reaksi Khanza.


__ADS_2