Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 50 : Misi penyelamatan berhasil!


__ADS_3

Ken jatuh tersungkur dan gadis kecil itu pun ikut jatuh pula, dia terlepas dari punggung Ken. Ken meringis kesakitan, tubuhnya bergetar dia hendak bangkit, namun pria itu menendangnya, membuat tubuhnya menggelinding dua putaran dan darah merembes dari lengan dan kakinya.


Uhuk...Uhuk... Ken terbatuk dengan napas tersengal, meski denyutan rasa sakit terasa dari dua luka yang dia dapati, dia tetap berusaha bangkit.


"Jangan!" teriak gadis itu histeris sambil menangis, dia berusaha menarik lengan pria itu, namun Pria itu menghempaskan nya.


Ken hendak kembali mengarahkan senapannya yang masih dalam genggaman ke arah pria tersebut, namun dengan sigap pria itu menendang benda itu hingga terlontar jauh dari sang pemilik.


"Heh, kau tidak akan bisa lari. Terimalah kematianmu!" Pria itu menodongkan senjatanya tepat di depan wajah Ken yang masih dalam posisi terbaring dengan tubuh bagian atas sedikit terangkat dengan sikut sebagai tumpuannya.


Dor...! Suara tembakan terakhir memekakkan telinga, anak kecil tadi menutup telinga tak ingin mendengar. Bruk... Pria tadi tumbang seketika. Ken menghela napas lega.


"Om. Om, baik-baik saja?" Nic mendekat dan berjongkok di samping Ken, sambil berusaha mengikat kaki Ken yang berdarah dengan seutas kain yang entah dia dapat dari mana.


"Ya, setidaknya aku belum mati!" Ken terkekeh sambil mengatur napasnya yang tersengal.


"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, sebelum bala bantuan mereka datang!" Nic memapah Ken sedang anak itu di gendong oleh salah satu pengawal Nic yang tadi menunggu bersamanya di mobil. Sedang dua lusin bawahan Ken yang terluka sudah lebih dulu di tarik mundur oleh Nic, mereka sedang di obati di dalam mobil masing-masing. Beruntung tak ada korban jiwa, namun luka mereka cukup parah, ada yang masih tak sadarkan diri hingga sekarang.


~*~


Nic membawa adik Cherry ke-rumahnya, gadis itu nampak tertidur pulas dalam dekapan sang pengawal, lantas dia pun membaringkan dia di sopa. Gadis itu mengucek mata dan perlahan bangun.


"Apa kita sudah sampai?" tanyanya seraya mengedarkan pandangan.

__ADS_1


"Dimana Kakak?" dia kembali bertanya, memandang Nic dan Shelia silih berganti.


"Emh, sepertinya Kakak mu sedang bekerja mungkin nanti setelah dia pulang kerja dia akan datang kemari." Jawab Nic berbohong.


"Nic, apa tidak sebaiknya kita telpon Cherry dan biarkan gadis ini bicara dengan Kakak nya?" usul Shelia.


"Tidak Mami, posisi Cherry sedang tidak aman, apa lagi dia memiliki penyadap bersamanya, jika kita menghubunginya itu sama saja kita melaporan diri sendiri, bahwa kita lah yang telah mengambil anak ini. Aku sudah memberitahunya lewat pesan singkat bahwa adiknya sudah aman." Shelia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sebaiknya dia tinggal disini untuk beberapa waktu."


"Benar, lagi pula biar Mami ada teman ngobrol." Shelia pun mulai mendekati anak itu, mengajaknya bicara dan menawarkannya makanan atau pun mainan.


Nic berjalan menuju basment tempat para prajurit nya di rawat, tak pernah dia sangka ternyata di bawah rumahnya yang puluhan tahun Ia tempati ada ruangan semacam ini, persenjataan lengkap dan klinik kecil tempat para bawahannya di rawat, walau kecil namun obat-obatan serta peralatan medisnya lumayan lengkap, serta ada rungan tempat latihan, dari mulai karate, menembak bahkan tempat latihan pedang pun ada.


"Ya, aku setiap hari latihan di tempat ini. Menjadi seorang kepala keamanan harus di dasari dengan kemampuan bela diri." Ucapnya ringan.


"Tapi kenapa Daddy tidak pernah membawaku ke tempat ini, atau memberi tahuku?"


"Itu karena dia menyayangimu, dia ingin kau tumbuh dengan baik, hidup dengan cara biasa dan menjadi orang biasa. Biar kami yang menjagamu, menyokongmu dan melindungimu, dia yang paling mencintaimu Nic. Ayahmu pria luar biasa, selama aku hidup hanya Richard yang mampu membuatku kagum dan selalu membuatku ingin berada terus di belakangnya." Ken lah yang menyahut dari arah belakang, membuat Nic dan Ren menoleh seketika.


Nic tersenyum masam, "tapi aku juga ingin belajar ilmu bela diri om, setidaknya aku bisa melwan saat ada dalam bahaya, kalian tidak akan selalu ada bersamaku dan melindungiku selamanya."


"Baiklah, tunggu Ayahmu keluar om sendiri yang akan melatihmu."

__ADS_1


Ken tampak duduk di kursi roda, kakinya di perban begitu pun lengannya, dan ada beberapa luka lebam di wajahnya. "Bawahan ku menemukan, gudang penyimpanan mereka," ucapnya tiba-tiba membuat Nic dan Ren sektika memandang Ken dengan tatapan serius.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?"


"Kali ini kita tidak akan melakukan apa pun, biar polisi yang bertindak, aku hanya bertugas mencari informasi, sidang selanjutnya nama Richard di pastikan akan bersih."


~*~


Di tempat lain, suara pecahan kaca terdengar nyaring, Martin Nelson tengah mengamuk, dia menghancurkan setiap benda yang di dapatinya, semua bawahannya menunduk takut, tak terkecuali Cherry, hatinya merasa was-was takut jika dirinya diketahui telah berada di pihak keluarga Nelson.


"Bagaimana bisa tempat itu diketahui polisi, sialan! Kalian benar-benar tidak becus bekerja." Seseorang datang dan membisikan sesuatu di telinga salah satu orang kepercayaan Martin.


"Tuan, ada suatu hal yang penting yang harus anda ketahui." Matanya memberi Isyarat agar Cherry pergi lebih dulu dari tempat itu.


"Sayang, kau pergilah dan tunggu aku di tempat biasa." Martin berujar, membuat Cherry mau tak mau menyetujuinya. Namun di hatiya dia amat senang, dia sudah di beritahu lebih dulu oleh Nic jika adiknya sudah aman.


'Tinggal satu langkah lagi menuju kehancuran mu, Martin Nelson.' Cherry menyunggingkan senyum seraya berlalu.


'Bagaimana cara melepaskan benda ini. Aku benar-benar tidak leluasa bergerak jika benda ini masih menempel di leherku.' keluh Cherry, dia sudah meminta David membelikan tiruannya tapi sekarang dia bingung bagaimana cara melepas benda itu dari lehernya. Dia sudah seperti anjing peliharaan Martin yang terus di awasi, menyebalkan.


'Malam ini aku akan membuatnya mabuk, dan mencari cara untuk membuka benda sialan ini, pasti dia menyimpan kuncinya di salah satu tempat di kamarnya. Aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.'


Kini Cherry telah mengenakan pakaian favorit Martin, baju tidur tipis yang hampir transparan yang pendeknya satu jengkal setengah di atas lutut, dengan segitiga tipis dengan pita di masing-masing sampingnya, serata penutup dada berenda yang menampakan tonjolan itu semakin nyata.

__ADS_1


Cherry menghela napas berat, sungguh dia sudah tidak punya harga diri lagi di dunia ini, jika bukan karena adiknya yang masih membutuhkan dirinya, mungkin sudah sejak lama Cherry mengakhiri hidupnya. Penghinaan yang Martin berikan sudah membuat jiwanya hancur, namun dia tak punya pilihan lain selain mengikuti permainan pria tua itu.


__ADS_2