
Nic nyengir kuda melihat reaksi Khanza, "jangan aneh-aneh deh Nic, siapa yang suka sama kamu." Khanza berkilah dengan wajah memerah.
"Oh, jadi kamu gak suka sama aku, ya udah." Nic nampak sedih.
"Tidak, bukan begitu A-aku suka sama kamu sangat suka." Khanza melempar pandang ke arah lain.
"Sejak kapan?"
"Sejak pertama kita bertemu, saat aku belum menyadari yang aku rasakan padamu itu apa. Sejak kau hadir dalam hidupku, saat kau membawaku dari kegelapan, menyelamatkanku dari hidupku yang hampir hancur, hidupku yang tanpa masa depan." Nic memeluk Khanza yang mulai terisak.
"Maafkan aku, aku tidak tahu. Aku juga bukannya tak punya perasaan padamu, hanya saja aku tak mengerti yang aku rasakan untukmu itu cinta atau bukan." Nic mengecup pucuk kepala Khanza.
"Dulu aku merasa seperti orang rendahan, perasaanku benar-benar memalukan, itulah makanya aku menyembunyikan perasaanku darimu Nic, terlebih lagi aku tahu kau punya kekasih masa kecil yang hingga dewasa kau masih mengingatnya." Ujar Khanza.
"Sudahlah jangan membahas itu lagi, apa kau ingin melihat bayi kita?"
"Tentu saja, ingin sekali." Khanza berucap dengan pandangan tak sabar.
"Baiklah, sebentar aku akan minta izin dokter dulu." Nic pun berlalu keluar, Khanza tersenyum kecil menatap punggung lebar itu yang perlahan menghilang di balik pintu. Khanza tak menyangka semua ini bisa terjadi dia merasa amat bahagia, sesuatu yang tak pernah berani Ia bayangkan kini terjadi.
Nic kembali dengan sebuah kursi roda, dan Clarisa di belakangnya, "bayimu belum bisa keluar dari Inkubator jadi dia belum bisa dibawa kesini." Ujar Clarisa.
"Tapi, kita bisa pergi kesana, ayo aku akan menggendong-mu." Nic menggendong Khanza dan mendudukkannya di kursi roda.
"Terima kasih!" Khanza tersenyum lembut.
"Sama-sama." Nic balas tersenyum.
Mereka bertiga pergi ke-ruang Bayi untuk melihat keadaan si kecil, Khanza menyentuh pipi mungilnya yang kemerahan, senyum tak henti-hentinya mengembang dari bibirnya, ternyata begini rasa bahagia seorang Ibu saat melihat anak yang baru Ia lahir-kan ke-dunia, perasaan bahagia yang tak terhingga, sulit di gambarkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Dia lucu kan, rasanya aku ingin menggigit pipinya yang bulat." Nic tertawa kecil.
"Kalau kau berani menggigitnya aku akan menghancurkan gigimu." Balas Khanza tenang.
"Hey, aku hanya bercanda, sayang." Khanza seketika mematung mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nic.
Nic menyingkirkan rambut Khanza yang menutupi pundaknya, "Mari kita besarkan dia bersama-sama, memberinya keluarga yang lengkap." Ucap Nic disertai ciuman di sana. Khanza memejamkan mata, desiran hangat seolah mengaliri seluruh tubuhnya.
"Baiklah!"
"Ehem-ehem, cukup bermesraan nya apa kalian tidak ingin memberinya nama?" Celetuk Clarisa tiba-tiba.
"Benar, aku sudah punya nama yang bagus. Ivander Haedar Nelson, yang artinya laki-laki terbaik dan pemberani, bagaimana menurutmu?" Khanza tersenyum sambil mengangguk.
"Nama yang bagus, aku suka! Mulai sekarang nama mu Ivander, Baby Ivan apa kau suka? Nama ini pemberian Ayahmu." Khanza memainkan lengan anaknya.
Dering ponsel Nic mengalihkan atensinya, Nic mematung menatap layar gawai-nya yang menyala, "Apa itu Mami?" tanya Khanza sembari mendongak, Nic mengangguk sembari mengusap pundak Khanza.
[Nic, kapan kau pulang? Perusahaan membutuhkanmu, Ren dan Ken tidak bisa menanganinya sendiri. Oh ya, bagaimana keadaan Khanza?] Nic melirik Khanza yang juga menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Dia baik-baik saja, Mami ingin bicara dengannya?" tawar Nic, yang langsung di sambut baik oleh Shelia, namun tidak dengan Khanza, dia menggelengkan kepalanya dan tangan di lambai-lambaikan tanda menolak. Namun mau tak mau dia harus menerimanya karena Nic terlanjur bilang pada Shelia.
Khanza meraih ponsel Nic dan menempelkan di telinganya, "halo, Mami." ucap Khanza pelan.
[Halo sayang, kemana saja kamu selama ini? Kenapa kau pergi tanpa kabar?]
"Maafkan aku Mami, bagaimana kabar Mami?"
[Mami baik sayang, kapan kamu akan kembali?] tanya Shelia lagi. Khanza menoleh pada Nic sebelum menjawab.
__ADS_1
Nic meraih ponsel dari tangan Khanza, "Secepatnya Mami, setelah urusan disini selesai aku dan Khanza akan segera kembali."
[Baiklah, tapi jangan terlalu lama, oke] Setelah itu Shelia pun mematikan sambungan telponnya.
"Nic, aku belum siap untuk kembali, aku--," Nic berjongkok di hadapan Khanza.
"Kita hadapi ini bersama, bagaimana pun caramu menghindar itu tidak akan berlaku untuk selamanya Khanza."
"Nic benar Khanza, menghindar bukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Kau tahu, beberapa kali Mamah menghubungiku dia menanyakan keadaanmu, dia tahu kau masuk rumah sakit."
"Tapi dia tidak tahu Kak, aku masuk rumah sakit karena melahirkan, jika dia tahu akan seperti apa reaksinya. Sebaiknya kalian pergi saja, biarkan aku tetap disini dengan anakku, aku hanya ingin ketenangan."
"Kau selalu saja begitu Khanza, kau selalu memutuskan semuanya sendiri! Kau tidak mempertimbangkan perasaan anakmu, kau tidak memikirkan masa depannya, kau ingin memisahkan dia dariku, tidak Khanza tidak akan aku biarkan itu terjadi. Jika kau ingin tetap disini, silahkan saja, tapi Ivan akan ikut denganku." Nic meninggikan suaranya, membuat Khanza terkejut.
"Khanza Nic benar, tolong pikirkan sekali lagi. Baby Ivan membutuhkan Ayahnya, tapi dia juga membutuhkan kau sebagai Ibunya. Adikku, terkadang kau harus bisa menekan ego-mu demi kebaikan. Contohnya kita, kita adalah korban dari ego orang tua kita, dan yang paling merasakannya adalah kau sendiri." Clarisa menuturkan petuahnya.
"Baiklah, maafkan aku Nic, aku hanya sedang kalut saja, aku tidak bisa berpikir jernih," Khanza meraih tangan Nic dan menggenggamnya, "mari kita kembali dan membesarkan Ivan bersama."
~*~
Satu Minggu berlalu, Khanza sudah keluar dari rumah sakit begitu pun Baby Ivan, dia sudah nampak baik-baik saja badannya pun sudah mulai berisi. "Biarkan aku yang menggendongnya Za, luka mu masih belum sembuh." Nic merampas Baby Ivan dari gendongan Khanza.
"Sini Nak sama Daddy ya, kasian Mommy mu dia masih belum sembuh betul." Nic dan Khanza menumpang mobil Clarisa, sedang mobil Nic di bawa oleh bawahannya.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Clarisa.
"Kita akan langsung ke rumah keluarga ku," Nic yang menjawab.
"Tapi barang-barangku masih ada di rumah, Nic. Bagaimana bisa kita pergi begitu saja?" Ucap Khanza tak setuju dengan kata-kata Nic.
__ADS_1
"Biarkan bawahan-ku yang mengurusnya," Nic enggan memalingkan tatapan dari Anaknya. Dia terus memandanginya dengan tatapan lembut.
"Sudahlah Kak, kita tidak akan menang jika berdebat dengan tuan muda yang satu ini." Khanza akhirnya mengalah dan menuruti keinginan Nic. Nic tersenyum kecil merasa puas dengan kemenangan yang di raihnya.