Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 25 : Perdebatan


__ADS_3

Sebuah mimpi akan tetap menjadi mimpi, jika kau hanya diam.


~*~


Seolah ada angin segar yang berhembus membuat Shelia seketika buka mulut, "sayang kamu dengarkan, Nic belum ingin bertunangan. Apa tidak sebaiknya kita tunda dulu?" ucapan Shelia membuat Khanza sontak menatap ke arah sejurus.


"Tapi, aku terlanjur mengatakan pada para kolegaku bahwa akhir bulan ini Nic akan bertunangan." Ujar Richard nampak keberatan.


"Sayang aku tahu maksudmu baik, tapi... bahkan Nic sendiri saja belum siap, tunggulah sebentar lagi." Bujuk Shelia dengan nada lembut.


"Nic, apa benar yang Mami katakan?"


Nic mengangguk, "Iya Dad, aku bukannya tak ingin segera bertunangan, hanya saja aku merasa belum siap."


"Ini hanya pertunangan bukan pernikahan, lagi pula pertunangan hanya sebuah ciri kepemilikan Nic, kau akan mendeklarasikan hubungan kalian, jadi tak akan ada orang yang berani mengganggumu atau pun Cherry." Ucap Richard sembari mengunyah makanan yang baru saja masuk kedalam mulutnya.


Shelia melempar tatapan aneh pada Richard membuat pria itu seketika mengalihkan pandangan ke arah lain, dia tak sanggup bersitatap dengan istrinya itu.


"Jadi itu yang kau pikirkan? Jadi ini alasan kamu mendesak Nic untuk cepat meresmikan hubungannya dengan Cherry, kau takut kekasih putramu di rebut orang?" Shelia tak habis pikir dengan alasan Richard kali ini.


"Benar, aku takut Nic akan sakit hati. Aku hanya ingin melindunginya dari rasa sakit, apa itu salah?"


"Itu tidak salah, tapi apa kau pikir apa yang kau lakukan ini benar? Kau bahkan tidak bertanya dulu padanya sebenarnya apa yang dia inginkan?" Shelia mulai meninggikan intonasi suaranya.


"Aku sudah tahu apa yang dia inginkan makanya aku mengambil keputusan ini. Lagi pula aku sudah bertemu gadis itu, dia gadis yang baik dan dia juga cantik, tak ada yang kurang dari dia. Menurutku dia cukup sempurna untuk Nic!" Richard tak mau kalah.


Perdebatan itu terus terjadi, membuat Nic jengah. Sedang Khanza dia hanya bisa membisu dan pura-pura tak mendengar perdebatan di antara suami istri tersebut.


"Cukup! Bisa kita makan lagi?!" Ucapan Nic sukses membuat kedua orangtuanya terdiam.


"Mami, Daddy, aku tahu kalian menyayangiku. Tapi, dalam kasus ini aku setuju dengan Mami. Aku belum siap bertunangan, hatiku masih bimbang. Mengenai Cherry yang mungkin akan ada laki-laki lain yang menyukainya, itu wajar karena dia sangat cantik. Aku tak masalah, mungkin kami tidak berjodoh." Ucap Nic ringan.


Richard terperangah mendengar kata-kata Nic, bagaimana bisa putranya punya pikiran realistis begitu, bahkan jika kekasihnya di rebut orang pun dia tak keberatan.


"Mengapa kau berpikir begitu Nic? Apa sebetulnya kau tidak menyukai gadis itu?" pertanyaan Richard sukses mengundang perhatian semua orang termasuk Khanza.


Mungkinkah Nic sudah tak menyukai Cherry lagi? Pertanyaan di benak Khanza sukses membuat rasa ingin tahunya bangkit seketika.

__ADS_1


"Iya Nic, mengapa?" tambah Shelia.


"Aku bukannya tak menyukainya Mami, hanya saja, aku belum yakin 100% pada hatiku sendiri. Tolong, beri aku waktu." Nic beranjak dari meja makan tanpa menghabiskan makanannya. Khanza melirik piring Nic yang masih tersisa banyak isi di dalamnya.


~*~


Here we are under the moonlight


I'm the one without a dry eye


'Cause you look amazing


I'm sorry for whatever I've caused


Before today I knew l felt lost


But now you're my lady


So take my hand now, seen me


'Cause you've Made me into this man


you're all that I've needed


Completing my world


You, you're my love, my life, my beginning


And I'm just so stumped I got you


girl, you are the peace of me missing


Remember it now


All the times I've been alone, shown me the way


Let me hear, let me hold mine

__ADS_1


Through that door straight to you


You're my love, my life, my beginning


It's you


~*~


Lagu itu mengalun merdu kala Khanza membuka pintu kamar Nic. Tampak pria itu tengah membaringkan diri di atas ranjang dengan lengan menutupi wajahnya.


Khanza menaruh nampan yang Ia bawa di atas nakas, "Nic, kau sudah tidur?" tanya Khanza.


Tiba-tiba Nic menarik tangan Khanza membuat wanita itu seketika jatuh terduduk di samping Nic.


"Nic," geram Khanza kesal. Namun Nic tak peduli, dia malah menaruh kepalanya di pangkuan Khanza, membuat Khanza seketika diam terpaku.


"Ma-makanlah dulu, kau tadi hanya makan sedikit." Khanza berucap setelah sepersekian detik dirinya mematung. Nic masih tetap diam sembari memejamkan mata.


"Nic, apa kau mendengarku?" Khanza memastikan, karena dia tak mendapat respon dari Nic, agaknya pria itu tertidur.


Khanza mencoba bergeser dia ingin membaringkan kepala Nic ke kasur namun tanpa membangunkannya, punggungnya terasa pegal karena lama duduk pada posisi yang sama. Diluar dugaan Nic malah membetulkan posisinya mencari rasa nyaman di pangkuan Khanza.


'Astaga dia ini.' Khanza menghela napas pasrah dan membiarkan Nic membaringkan kepala di pangkuannya lebih lama lagi.


Rasa panas, pegal berbaur menjadi satu, rasa itu kini mendera punggung hingga ke bagian bawah pinggang Khanza, beberapa kali dia mengelus punggungnya yang terasa panas tersebut. Di tambah anak dalam perutnya tak mau diam, agaknya dia tahu jika Ayahnya kini berada di depannya. Khanza terus berusaha tetap menjauhkan perutnya dari kepala Nic, takut dia menyadari ada pergerakan di dalam sana.


Khanza menarik beberapa bantal, guling dan selimut, lalu menumpuknya di belakang untuk bahan dia bersandar. Entah mengapa meski punggungnya terasa sakit dan pegal, dia tak mampu menyingkirkan Nic dari pangkuannya. Bersandar cukup lama membuat kantuk perlahan menghampiri, mata Khanza terasa berat dan akhirnya Ia pun terlelap.


Nic membuka matanya perlahan, setelah tak ada pergerakan yang Khanza buat. Nic mendongak menatap wajah Khanza yang tertidur dengan posisi bersandar.


Bibir kecil mengkilat itu nampak terkatup rapat, pun dengan bulu matanya yang terpejam nampak kaku.


'Apa benar aku tak mencintainya? Apa benar yang aku rasakan hanya sebatas rasa sayang pada teman?' Nic bertanya pada hatinya sendiri. Menaruh kepala di atas pangkuan Khanza memberinya rasa nyaman yang belum pernah Ia rasakan, hingga dia tak ingin Khanza pergi. Sejujurnya, Nic tidak pernah tertidur sama sekali sejak awal dia hanya ingin bersikap manja tanpa rasa malu.


'Sebenarnya, apa yang kau pikirkan tentang diriku? Pernahkah kau memiliki perasaan lebih terhadapku?' Nic terus menatap wajah polos itu. Wajah yang penuh ketenangan namun banyak menyimpan rahasia.


~*~

__ADS_1


Note:


Lagu di atas berjudul "It's you" Lagu dari Sezairi Sezali.


__ADS_2