Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 42 : Misi di Kasino


__ADS_3

Sejak saat Nic menaruh curiga pada Cherry, dia menyimpan penyadap di ponsel Cherry hingga Ia dapat melacak keberadaan wanita itu. Nic mengikuti arah titik merah di ponselnya, ya itu adalah titik tempat Cherry berada.


"Mau kemana dia?" gumam Nic sembari mengikuti arah titik itu bergerak. Hingga titik itu berhenti pada satu titik yang tak jauh dari tempat Ia berada saat ini. Nic melaju pelan dia berhenti di tempat yang masih mampu menjangkau Cherry dengan pandangannya.


Terlihat Cherry berhenti di sebuah Kasino yang cukup terkenal di kota ini, dimana tempat semua orang bersenang-senang dengan uang mereka. Cherry turun dari mobil dengan mengenakan gaun merah dengan robekan panjang dari ujung bawah hingga pangkal paha. Belahan dadanya nampak kentara, membuat dirinya nampak terlihat seksi.


"Mau apa dia ke tempat begini?" Nic mengedarkan pandangan waspada, takut jika ada orang lain yang melihatnya memata-matai Cherry. Terutama David, pria itu punya rasa kewaspadaan yang tinggi jadi Nic harus ekstra berhati-hati dalam menjalankan rencananya.


"Dia masuk," gumam Nic pada earphone yang terpasang di telinganya.


[Terus awasi dia Nic, alangkah bagusnya jika kau bisa masuk ke dalam sana.]


[Tidak! Richard apa kau gila, itu terlalu berbahaya, jangan Nic jangan dengarkan yang Daddy mu katakan, lebih baik kau kembali sekarang juga, biarkan orang lain yang menggantikanmu!] Tegas Shelia dengan nada penuh ke-khawatiran.


"Tenanglah Mami, aku jamin aku akan baik-baik saja. Kita tidak mungkin mendapatkan kesempatan sebaik sekarang, lagi pula cepat atau lambat mungkin mereka akan menemukan penyadap yang aku masukan ke ponsel Cherry." Gumam Nic, dengan mata tak henti-hentinya mengawasi sekitar.

__ADS_1


[Tapi Nak,] Shelia terdengar enggan mengizinkan, namun Richard terus membujuknya.


[Kamu tenang saja Nic, anak buah Daddy akan selalu siaga jika terjadi sesuatu padamu. Ingat jangan matikan ponselmu, biarkan tetap tersambung.] Nic mengangguk setuju.


Nic turun dari mobil dengan sebuah penyamaran, tampilannya jauh berbeda dari biasanya, kali ini dia mengenakan jas dengan warna mencolok, yakni warna hijau dan dasi berwarna merah, rambutnya Ia buat lepek dengan kaca mata bulat bertengger di hidungnya, dari dagu hingga ke pipi bagian samping Ia buat brewok tipis palsu agar terkesan alami. Ia mengedarkan pandangan, di ujung jalan nampak ada seorang pedagang makanan ringan, bertubuh kekar dan berkulit gelap, saat tatapan mereka bertemu Ia tersenyum. Di arah jam enam, ada seorang pria tua penyapu jalanan dia mengedip pada Nic, dan ada lebih dari sepuluh orang dengan penyamaran yang berbeda-beda sengaja Richard kerahkan di tempat itu, untuk menjamin keselamatan Nic.


[Yakinlah Nak, kau pasti akan baik-baik saja] Nic tak menghiraukan perkataan Richard di telinganya, dia mulai berjalan menuju Kasino tersebut. Disana dia di suguhkan dengan berbagai pemeriksaan ketat dan berbagai pertanyaan menjebak, tentu saja Nic mampu menjawabnya tanpa kesulitan, karena Richard telah mempersiapkan segalanya.


Terkadang Nic merasa heran pada Ayahnya, dia selalu membuat kejutan tak terduga dalam hidup putranya. Nic berhasil lolos dengan mudah, dia mengedarkan pandangan ke sekitar, sambil terus berjalan. Dia memilih tempat duduk di keramaian dan bergabung dengan orang-orang yang tengah bertaruh untuk jutaan uang. Seorang wanita dengan balutan baju ketat datang menghampiri Nic dan langsung duduk di pangkuannya.


"Halo Tuan, mau minum?" Ujarnya dengan nada menggoda, buah dadanya yang nampak berisi ia gesekan ke dada Nic.


"Kadar Alkoholnya hanya sedikit tuan, kau tidak akan mabuk ayolah minum sedikit saja." Bujuknya sembari memainkan jari telunjuknya di leher Nic, membuat Nic merasa geram dan ingin sekali mendorong wanita itu menjauh.


"Tidak terima kasih, bisakah kau turun dari pangkuanku Nona, ini membuatku tidak nyaman." Nic berujar sopan, walau dalam hatinya dia amat geram dan ingin menghardik wanita itu. Namun Nic sadar ini bukan saatnya untuk mencari masalah, biarlah dia mentoleransi prilaku wanita ini untuk sekarang.

__ADS_1


"Kau sangat sopan, aku suka! Setelah urusanmu selesai datanglah padaku, kamar nomor 001." Ujarnya disertai hembusan pelan di telinga Nic, membuat pria itu memalingkan wajah ke samping.


"Menjijikan, aku harus mandi cairan antiseptik setelah semua ini selesai." Gumam Nic, membuat Richard terkekeh pelan di telinga Nic. Tentu saja Richard pasti mendengar semua perbincangan Nic dengan wanita itu tadi, mengingat earphone tadi masih tersambung dengan telpon dari Richard.


Nic menangkap sebuah siluet yang Ia yakini adalah Cherry, berjalan menuju lantai atas kasino ini, dengan cepat Nic menyusul Cherry dan David yang berjalan dengan dua orang pria mengikutinya di belakang. Sesekali Nic menoleh ke-kiri dan ke-kanan menelaah keadaan sekitar, takut ada orang yang menyadari jika dia seorang mata-mata. Seketika Nic menghentikan langkahnya dan sembunyi di balik dinding, saat Cherry dan David masuk ke sebuah ruangan tertutup sedang dua pria bertubuh tegap tadi berdiri siaga di depan pintu.


'Sial, aku harus mencari cara lain agar bisa masuk ke tempat itu.'


Nic memutar otak mencari sebuah ide, hingga sebuah rencana terbit dalam benaknya, Nic berjalan dengan langkah pelan menjauh dari tempat itu. Seorang pelayan pria bertubuh kurus kerempeng tiba-tiba lewat sambil mendorong troli berisi makanan ringan dan beberapa botol wine.


Bruk...!


Nic menghantam sang pelayan tersebut tepat di bagian belakang kepalanya dengan bogemnya , membuat pria itu seketika hilang kesadaran, "maafkan aku, aku akan memberimu uang, sebagai kompensasi dan kau bisa berobat setelah kau sadar." Nic bergumam sambil menarik tubuh pria itu menuju sudut ruangan yang tak berpenerangan. Dia melucuti pakaian pria itu hingga tersisa celana kolor dan kaus singlet putih kusam. Lantas Nic mengenakan pakaian tersebut yang tentu saja sedikit kekecilan di badannya yang terbilang atletis.


Nic mengeluarkan segepok uang dari sakunya, dan mencari kantung di celana kolor pria itu, namun nihil, tak ada satu kantung pun yang terpasang di celana tersebut, hingga akhirnya Nic memasukan uang tersebut ke bagian depan celana pelayan pria itu, "disini sajalah, disini lebih aman, maafkan aku sobat aku terpaksa melakukannya."

__ADS_1


Nic lantas berlalu sambil mendorong troli tersebut, tangannya memutar sebuah pin kecil berbentuk bundar dengan titik mungil di tengahnya.


"Permisi Tuan, saya mendapat pesanan minuman dari ruangan ini," Nic menunduk sopan pada dua penjaga bertubuh besar dengan wajah sangar tersebut.


__ADS_2