
Kebohongan akan terus tercipta jika kau mengawalinya dengan kebohongan_ Author
Keesokan malamnya Cherry menyuruh Nic untuk mendatangi rumahnya, entah apa yang gadis itu rencanakan. Dengan sedikit persiapan Nic pun tiba di rumah Cherry.
Kedatangannya di sambut hangat oleh sang Maid, Ia mempersilahkan Nic masuk, karena tahu jika Ia adalah kekasih majikannya. Setelah di beritahu lokasi Cherry di rumah itu, Nic pun berlalu pandangannya Ia edarkan ke sembarang arah, hingga dia sampai di depan sebuah dinding kaca transparan yang menampakan suasana malam, di pinggir kolam tampak seorang wanita tengah duduk sembari mencelupkan kakinya ke air. Dia menoleh dengan pandangan datar.
"Kemarilah Nic, apa kau akan terus berada disitu?" pertanyaan sekaligus perintah keluar dari bibir wanita itu.
Nic mendorong pintu kaca yang hanya terbuka sedikit, untuk membuatnya leluasa melewatinya, "kenapa kau merendam kakimu malam-malam begini?" Nic bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Melakukan ini membuatku merasa tenang Nic." Jawabnya enteng.
"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Nic berusaha tetap bersikap biasa.
Cherry tersenyum sambil mendongak menatap Nic yang berdiri di belakanganya, "apa harus punya masalah dulu baru menenangkan diri?" kekehnya pelan.
"Tidak juga," Nic mendudukkan dirinya di kursi jemur yang terletak tak jauh dari posisi Cherry berada.
"Kau tahu Nic, terkadang kita terpaksa harus melakukan sesuatu yang tak ingin kita lakukan. Kita harus bisa melawan nurani yang terus saja memberontak, kau tahu aku tak berdaya." Aah... tiba-tiba Cherry berteriak kesakitan, tubuhnya menggelepar dan hampir jatuh ke kolam.
"Cherry!" Nic bangkit dan langsung menarik wanita itu agar tak tercebur kedalam air. Tubuhnya terus menggelepar bak tersengat aliran listrik, karena teriakan Cherry yang cukup kencang David pun datang dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Kali ini aku tidak tau apa-pun oke!" Nic berinisiatif menjelaskan walau David tak bertanya sekali pun. Dia hanya mendelik, kemudian menggendong Cherry menuju kamarnya.
Nic mengikuti David dari arah belakang, dia lantas memerhatikan David yang membaringkan Cherry di ranjang dari ambang pintu. Cherry nampak terkulai lemas, matanya terpejam.
"Cherry, are you oke?!"
"Cherry apa kau mendengarku?" David menepuk-nepuk pipi Cherry mencoba membangunkannya.
"Kita bawa ke rumah sakit," usul Nic, yang langsung di tolak David.
"Tidak perlu, dia sudah terbiasa begini!"
"Kau tidak lihat, dia belum sadarkan diri juga, mungkin keadaannya tidak baik-baik saja." Nic mendekat dia ingin menyentuh Cherry, namun David menepisnya dengan kasar.
"Aku lagi? Aku bahkan tidak melakukan apa pun!" Nic mendorong David, dia tak terima di tuduh tanpa alasan.
"Cukup kalian berdua, berhenti bertengkar!" Cherry nampak telah menguasai dirinya kembali dia hendak bangkit, David segera membantunya dengan sigap.
"Cherry apa kau baik-baik saja?" Nic mendekat, dia pura-pura khawatir dengan keadaan Cherry.
"Aku baik-baik saja Nic, aku punya riwayat penyakit epilepsi dulu, jadi jika aku kelelahan sesekali kejang itu akan timbul. Tapi dokter bilang aku baik-baik saja, jadi kau tak perlu khawatir."
__ADS_1
"Tapi, apa tidak sebaiknya kita periksa kembali ke dokter?" usul Nic.
"Tidak usah, aku masih menyimpan obat di rumah, jadi cukup makan obat itu saja, maka aku akan baik-baik saja." Tolak Cherry tergesa-gesa membuat Nic yakin bahwa dia menyembunyikan sesuatu.
"Cherry, sebelum kau kejang tadi sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" perkataan Nic sontak membuat Cherry dan David menatap ke arahnya. David dan Cherry bertukar pandang, mereka menyinkronkan pikiran mereka satu sama lain lewat tatapan mata.
"Oh itu, aku ingin bilang aku lelah menjadi model Nic, setelah kita menikah nanti aku ingin vakum dari dunia modeling, bolehkan?"
'Heh, pandai sekali dia berbohong aku yakin bukan ini yang ingin dia katakan tadi. Mungkin karena disini ada David makanya dia tak ingin membahasnya lagi, tidak papa mungkin lain kali aku akan memancingnya lagi.'
"Oh itu, tentu saja boleh. Aku saja sudah cukup menunjang kebutuhanmu, mengapa kau harus bekerja."
"Terima kasih sayang, kau memang yang terbaik." Cherry tersenyum tulus. Selepas itu Nic pun berpamitan untuk pulang, tak lupa dia menempelkan perekam suara kecil di balik bunga sintetis yang terpajang di atas nakas.
Di kamar itu hanya tersisa David dan Cherry, "Cherry, apa yang kau lakukan? Kau hampir membuat nyawamu melayang karena itu!"
"Diamlah!"
"Tapi, jika sampai kau mengatakan--," perkataannya seketika di potong Cherry.
"Kau bisa diam atau tidak?" Cherry menggertakkan giginya, dia memberi isyarat lewat tatapan matanya. Seketika David mengerti dan langsung terdiam, dia meraih benda tersebut dan menginjaknya di lantai.
__ADS_1
David dan Cherry menghela napas lega, "sepertinya dia mulai curiga pada kita," gumam David.
"Sepertinya begitu!" Cherry menggigiti kuku jarinya pelan, jujur dia teringat pelayan pria yang semalam membawakan minuman untuknya dan Master one, pria itu terlihat seperti Nic, dari mulai bentuk tubuh dan tinggi badan itu sama persis, kecuali wajahnya, tapi tatapan matanya hampir sama, tajam dan dalam seolah kau akan sulit untuk menyelaminya.