Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 53 : Akhir dari Martin Nelson


__ADS_3

Suasana semakin tegang, para Dewan yang hadir masing-masing di todong dengan senjata tepat di kepala mereka. Namun Nic entah sejak kapan dia menghilang, sedang Ken sama halnya dengan yang lain dia mendapat todongan senjata api di kepala bagian belakangnya, terlebih dia belum leluasa bergerak karena luka yang di dapatinya tempo hari.


Dor...! Jeritan histeris para wanita membuat suasana semakin mencekam, kala melihat seorang pengawal Richard mati tertembak karena berusaha keluar dari ruangan itu. Richard menggeram menahan amarah, tangannya mengepal kuat, matanya menyorot tajam menusuk Martin.


"Kau bilang hanya menginginkan nyawaku kan, lepaskan mereka biarkan mereka pergi." Martin tertawa, seolah apa yang Richard katakan itu lucu.


"Kau pikir aku bodoh, mana mungkin aku melepaskan mereka, biarkan mereka ikut menemanimu di neraka!" Brak...!! Belasan orang angkatan bersenjata dari kepolisian menyeruak masuk, ada yang masuk dengan mendobrak pintu ada juga yang masuk dengan memecahkan kaca jendela, mereka bergelantungan dengan tali yang terikat di pinggangnya.


"Angkat tangan! Lepaskan senjata kalian!" Teriak para polisi tersebut memerintah, mau tak mau mereka meletakan senjata mereka ke lantai karena kalah jumlah dari para polisi tersebut.


Martin memberengutkan wajahnya dengan mata tetap terarah pada Richard, dia berjongkok perlahan hendak meletakan senjata, namun diluar dugaan tanpa siapa pun menyadarinya, Dor...! Dia menembak Richard tepat di dadanya, membuat semua orang panik dan tembakan kedua terdengar ternyata Martin pun terkapar akibat tembakan yang di dapatnya dari salah satu personil polisi.


Bruk...!! Richard jatuh terjerembab kebelakang dengan dada bersimbah darah. Seketika Ken berlari untuk menyangga tubuhnya, "Richard, tetap sadar jangan tidur!" Nic pun datang dengan wajah panik, keadaan tampak semerawut tak jelas di pandangan Richard sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.


~*~


Lampu ruangan operasi masih menyala, tanda operasi masih di langsungkan di dalam sana. Nic berjalan mondar-mandir di depan pintu, sesekali dia menyandarkan punggungnya di dinding, sedang Shelia air mata tak henti-hentinya membasahi pipi wanita paruh baya itu. Pikiran buruk, seketika berputar di kepalanya, dia takut Richard tak selamat, dia takut Richard meninggalkannya, entah bagaimana dia menjalani hidup jika Richard pergi. Sungguh dia tak sanggup membayangkan semua itu terjadi.


'Tuhan tolong selamatkan dia, aku tak sanggup bila hidup tanpanya.' Shelia terisak lirih.


"Tenanglah Shelia, aku yakin Richard akan baik-baik saja, dia pria yang kuat, dia tidak akan mati begitu saja." Ujar Daren yang baru datang bersama Anna.

__ADS_1


Anna menyentuh pundak Shelia dan duduk di sampingnya, "Anna aku takut, aku takut Richard tak selamat," Shelia terisak di pelukan Anna.


"Jangan berpikiran buruk Shelia, aku yakin Richard akan baik-baik saja." Anna meyakinkan sembari mengusap punggung Shelia menenangkan.


"Ta-tapi Dokter bilang, pe-peluru itu hampir mengenai jantungnya dan sampai sekarang aku masih belum tau keadaannya." Shelia terisak lirih.


"Itu hanya hampir-kan, peluru itu tidak mengenai jantungnya, yakinlah masih ada harapan!" Anna menggenggam tangan Shelia dan menatapnya penuh keyakinan, agar Shelia tak patah arah.


Satu malam berlalu, akhirnya lampu ruang operasi pun padam, menandakan acara di ruangan itu pun telah usai, Shelia yang sejak semalam tak sekali-pun memejamkan mata, dengan sigap bangkit dan mendekat, menanti pintu terbuka. Semua orang menatap sejurus, menanti hal yang sama.


Pintu pun terbuka menampakan wajah Dokter yang kelelahan, "Kondisi pasien sudah stabil, kami berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya, siang nanti pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan." Ujar sang Dokter menyampaikan laporan. Semua orang tak henti-hentinya mengucap rasa syukur, Shelia beberapa kali mengucapkan terima kasih pada Dokter tersebut dan berjanji akan memberikan santunan pada rumah sakit ini jika Richard sudah pulih nanti.


~*~


Namun, sebuah berita di siarkan di tv yang ada supermarket itu menarik perhatiannya. Sebuah berita menayangkan tentang insiden penembakan di perusahan ternama milik keluarga Nelson, yang membuat Richard Nelson menjadi korban hingga masuk rumah sakit dengan keadaan terluka parah.


"Sampai saat ini kami belum mendapat laporan perkembangan tentang kondisi Tuan Richard, bagaimana kondisinya dan seberapa parah luka yang di deritanya, namun kami mendapat kabar jika tersangka penembakan adalah pamannya sendiri Martin Nelson, sang buronan puluhan tahun lalu, yang kini menjadi bandar narkoba dan senjata api ilegal. Namun tersangka tewas di tempat dikarenakan senjata api milik petugas." Sang reporter berbicara.


Mata Khanza membola seketika, "Tuan Richard terluka, Mami dan Nic pasti sangat sedih, Ya Tuhan semoga Tuan Richard baik-baik saja, dia orang yang baik, lindungilah dia." Khanza berdoa dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa begitu terkejut dengan berita tersebut.


Khanza kembali kerumah menggunakan taksi, dengan barang belanjaan yang cukup banyak, dia lantas masuk.

__ADS_1


"Apa aku harus menelpon Mami dan menanyakan keadaan Tuan Richard? Atau aku menelpon Nic? Tidak-tidak, aku tidak berani bicara dengan mereka." Khanza menggigiti kuku jarinya merasa dilema.


"Perasaanku benar-benat khawatir, tapi siapa yang harus aku hubungi?" Khanza berjalan mondar-mandir sembari berpikir, tiba-tiba sebuah nama terbit dalam otaknya.


"Ren!" pekiknya, Khanza mengotak-atik ponselnya mencari nomor ponsel Ren, meski dia telah mengganti kartu prabayar di ponselnya, namun nomor kontak di ponsel tersebut tak Ia buang sama sekali.


Dengan jantung berdegup cepat dan napas tak beraturan, Khanza memberanikan diri menghubungi nomor ponsel Renaldi.


Tuuuut...Tuuuut!!


Tanda telpon tersambung, cukup lama Ren tak mengangkatnya hingga Khanza mengulangi panggilan itu beberapa kali, namun saat Khanza ingin mengakhiri panggilannya, Ren tiba-tiba mengangkatnya.


[Halo, siapa ini?] Ren bertanya dari sebrang telpon, namun Khanza tetap diam.


[Halo, apa kau mendengarku?] Ren terdengar tak sabar.


[Jika kau tak punya urusan penting aku akan tutup telponnya.] Tegas Ren dengan nada kesal.


"R-Ren, i-ini aku Khanza." Ucap Khanza dengan bibir bergetar.


[Khanza!] Ren terdengar memekik keras, [Kamu kemana saja, mengapa baru menghubungiku sekarang? Kau tahu betapa cemasnya kami, kau menghilang begitu saja? Katakan dimana kau sekarang, apa kau baik-baik saja?] Ren memberondong Khanza dengan berbagai pertanyaan membuat Khanza tak punya kesempatan bicara sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2