Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 57 : Dia anakku!


__ADS_3

Nit...Nit...Nit...


Suara bunyi alat medis terdengar nyaring di telinga Khanza, perlahan dia mulai membuka matanya, seketika cahaya membuat matanya kembali terpejam karena silau. Setelah matanya mampu beradaptasi dengan cahaya, Khanza kembali membuka mata, matanya bergulir menelaah sekitar.


"Rumah sakit?" Khanza terdiam sejenak mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.


"Anakku!" Cicit Khanza dia melihat ke-bagian perutnya yang tampak datar.


"Tidak, dimana dia? Anakku!" Khanza tiba-tiba menjerit histeris. Dia menyentuh perutnya yang terasa perih bekas luka sisa operasi.


Karena jeritan yang di timbulkannya, pintu pun seketika terbuka, ternyata Nic lah yang masuk, membuat mata Khanza membola seketika, "N-Nic, ka-kau, sedang apa kau disini?" Khanza bertanya dengan gugup.


Nic hanya diam tak menjawab pertanyaan Khanza, dia lantas mendekat, "da-dari mana kau tahu aku ada disini?" Khanza kembali bertanya, dan lagi-lagi Nic tak mau buka mulut.


"Dimana dokternya? N-Nic tolong panggilkan Dokternya, A-aku ingin bicara suatu hal yang penting dengannya." Mata Khanza terus memandang ke arah pintu, dia tak ingin menatap pria di hadapannya itu.


"Ha-halo ada orang diluar, bisa tolong panggilkan dokter." Khanza tampak panik dia hendak mencoba menekan tombol panggilan darurat, namun Nic langsung mencekal lengannya menghentikan niat Khanza.


"Lepaskan aku Nic, aku ingin bertemu dokter." Khanza bersikukuh.


"Kenapa kau ingin bertemu dokter? Mereka sedang sibuk, ini belum waktunya kau di periksa." Ucap Nic, akhirnya dia buka mulut.


"Pe-perutku sakit, aku ingin dokter memeriksanya." Khanza memberi alasan.


"Baiklah akan aku panggilkan Dokternya." Nic pun berlalu keluar.


Khanza memejamkan mata, menekan segala rasa yang berkecamuk dalam batinnya, 'Mengapa dia bisa berada disini, siapa yang memberitahunya? Dan sekarang bayiku tidak ada, dimana dia?'


Nic masuk kembali dengan sorang dokter wanita, dan satu orang lagi di belakangnya yaitu Clarisa. "K-kakak, a-aku." Khanza melirik Nic menyiratkan sesuatu dalam pandangannya.

__ADS_1


"Tenanglah, biarkan dokter memeriksa mu lebih dulu." Ujar Clarisa, membuat Khanza mau tak mau menurutinya dan membiarkan dokter memeriksa keadaanya lebih dulu.


"Semua baik-baik saja, luka bekas operasinya juga normal," ujar sang Dokter setelah memeriksa keadaan Khanza, "kalau begitu saya permisi dulu, jika ada sesuatu panggil saja." Dokter itu pun lantas berlalu.


Khanza memalingkan wajah ke arah lain, dia terus menghindari bersitatap dengan Nic, pria itu terus menerus melayangkan tatapan aneh pada Khanza. "Kakak, bisa aku bicara berdua denganmu." Lirih Khanza.


Clarisa melirik ke arah Nic, Pria itu malah menyilangkan tangan di dada, "bicara saja, anggap aku tak ada." Nic lantas mendudukkan dirinya di sopa.


"Nic, bisakah kau pergi dulu, aku ingin membicarakan masalah pribadiku dengan Kakak." Tegur Khanza.


"Sudah ku bilang, anggap aku tak ada." Nic enggan beranjak.


"Kau benar-benar menyebalkan, Nic." Decak Khanza kesal.


'Bagaimana caranya aku bicara dengan Kakak jika dia terus menerus ada disini.' Khanza memberi tatapan isyarat pada Clarisa, yang entah Clarisa mengerti atau tidak.


Clarisa terkekeh pelan, "Bayi-mu baik-baik saja, dia ada di ruang perawatan khusus bayi."


"Khanza, Nic sudah tahu semuanya, mengenai kau dan bayimu." Tenggorokan Khanza seketika tercekat, tangannya mencengkram selimut yang ia kenakan.


"Pergilah Nic, anggap saja kita tidak pernah bertemu hari ini. Cherry lebih membutuhkan mu." Ucap Khanza dengan berat hati. Dia tak ingin Nic menghancurkan kehidupan pernikahannya dengan Cherry karena hadirnya bayi ini.


Clarisa mengedipkan mata, memberi Nic isyarat agar dia bicara empat mata dengan Khanza, "Za, kalian selesaikan dulu urusan kalian, Kakak keluar dulu." Clarisa pun berlalu.


Kini tinggal Nic dan Khanza berdua di ruangan itu, di temani suara alat medis yang tak henti-hentinya berbunyi.


"Mengapa kau sembunyi dariku, Za? Kau bahkan tidak bilang kalau kau sedang mengandung. Siapa Ayah dari anak itu? Aku atau pria lain?"


Khanza mendongak menatap wajah Nic, dia tersenyum sinis, "mengapa kau ingin tahu? Kau cukup urusi urusan rumah tangga-mu saja, urusanku biar menjadi urusanku, semua ini tak ada hubungannya denganmu." Khanza membuang muka ke arah lain.

__ADS_1


Nic mencengkram pipi Khanza, "katakan padaku siapa Ayah dari anak ini? Aku ingin mendengar semua dari bibirmu." Desak Nic memaksa.


"Yang pasti bukan kau!" Khanza bersikukuh, membuat Nic mendesah napas kesal.


"Lagi-lagi kau berbohong Za, aku tanya sekali lagi, Ayah dari anak ini aku atau bukan?!"


"Bukan! Sudah ku bilang bukan! Mengapa kau memaksa? Apa kau sebegitu inginnya punya anak, hingga anak orang lain kau inginkan?" Air mata Khanza meleleh dari kedua sudut matanya, dia tak sanggup mengatakan kebenaran pada Nic.


Nic menautkan keningnya di kening Khanza, "mengapa kau terus berdusta, itu anakku kan darah daging-ku? Aku pria pertamamu, tidak pernah ada pria lain dalam hidupmu, selain aku."


"Tidak, itu tidak benar, dia bukan anakmu dia anak orang lain." Khanza terus berkilah.


Nic menaruh lembaran kertas di pangkuan Khanza, yang adalah hasil tes DNA antara dia dan bayi Khanza, "itu buktinya, dia darah daging-ku Za, kau tidak bisa berbohong lagi."


"Kau melakukan tes DNA padanya tanpa seizin ku Nic!" Khanza meninggikan suaranya.


"Dia juga putraku, aku berhak atas dia."


"Tidak, kau pergilah Nic ku mohon, jangan ganggu hidupku dan bayiku, hanya dia yang ku miliki dalam hidupku, kau akan punya bayi yang lain tapi aku hanya punya dia. Aku berjanji tidak akan menggangu hidupmu dan Cherry, aku bersumpah." Khanza terisak lirih.


"Hubunganku dengan Cherry sudah berakhir Za, kami tidak jadi menikah." Kata-kata Nic membuat Khanza seketika menghentikan tangisnya, dia mendongak menatap Nic.


"Hah, kenapa?"


"Banyak hal yang terjadi setelah kau pergi, perusahaan terguncang, Daddy masuk penjara karena di fitnah, hingga insiden penembakan kemarin yang hampir merenggut nyawanya. Tapi berkat bantuan Cherry semua masalah bisa teratasi, kau tahu David? Cherry dan David saling mencintai." Ucap Nic.


Khanza menghela napas lega, ada perasaan ringan di hatinya, "kenapa diam? Tidakkah kau senang aku masih lajang?" goda Nic.


"Ke-kenapa aku harus senang, sebagai sahabat a-aku justru turut sedih karena ternyata orang yang kau cintai mencintai orang lain." Jawaban Khanza membuat Nic terkekeh.

__ADS_1


"Oh, kau sedih ternyata. Aku pikir kau akan senang, karena orang yang kau cintai gagal menikah." Khanza melebarkan matanya dengan tatapan antara terkejut dan tak percaya.


__ADS_2