Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 37 : Cherry hamil!


__ADS_3

Tak... Tak... Tak...


Suara high hells yang Cherry kenakan berbenturan dengan lantai, samar terdengar, gadis itu kini tengah mengendap-ngendap masuk kedalam ruangan Nic, entah apa yang ingin dia lakukan saat suasana tengah sepi.


Dia mengitari meja dan berhenti di dekat kursi, Ia langsung menggeledah berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Dia beralih pada laci saat apa yang ingin Ia temukan tak terdapat di sana. Pencariannya seketika terhenti kala melihat sebuah berkas yang berisikan tanda tangan Richard tertangkap di netranya.


Dengan degupan jantung yang begitu kencang, dan mata tak henti-hentinya mengawasi pintu, Cherry meraih dokumen tersebut dengan perasaan gugup.


"Mungkin ini yang di maksud master one." Cherry bermonolog.


Dia langsung menyembunyikan berkas tersebut di balik bajunya dan membereskan kembali sisa berkas yang ia obrak-abrik tadi.


Klek...


Pintu terbuka menandakan sang pemilik ruangan telah kembali, refleks Cherry langsung pura-pura duduk bertumpang kaki dengan santai di sopa.


"Hay, sayang!" Cherry menyapa seraya merentangkan tangan meminta pelukan. Nic tak nampak terkejut, karena saking seringnya wanita itu menemuinya akhir-akhir ini.


"Kapan kamu datang?" Nic bertanya sembari melonggarkan dasi, lantas membawa diri ke kursi kerjanya.


"Belum lama, kau pasti lelah kan? Mau aku pijat?" Cherry mendekat dan mendaratkan jemarinya di pundak Nic, memberi sentuhan lembut di tempat itu.


"Tidak usah, aku baik-baik saja." Ucap Nic lesu sembari menepis pelan tangan Cherry yang bermain di pundaknya.


Cherry mematut manja, tangannya memang telah tersingkir tapi sekarang malah dagunya yang bertengger di pundak Nic, membuat pria itu menyerah dan membiarkannya dalam posisi begitu.


"Nic." Panggil Cherry. Nic hanya sedikit melirik dari ujung matanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memanggil namamu saja." Cherry terkekeh pelan.


"Kau ada-ada saja." Nic menggeleng pelan.


"Nic, apa kau mencintaiku?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Cherry begitu saja.

__ADS_1


"Mengapa kau mempertanyakan hal itu?" Nic seolah enggan menjawab.


"Jawab saja, dengan jujur. Aku tidak akan marah." Cherry berujar begitu, membuat Nic sontak menoleh dan Cherry refleks berdiri.


"Apa kau yakin dengan kata-kata mu itu, kau tidak akan marah kalau aku jujur?"


Cherry menggeleng, "tidak aku tidak marah, paling cuma ngambek Itu pun kalau kamu bilang kamu tidak mencintaiku."


Nic memutar kembali kursinya dengan malas, seharusnya dia tak menanggapi ucapan Cherry itu, "kau ini ada-ada saja, tentu saja aku mencintaimu." Nic berujar datar.


"Kata-kata mu seperti tak ikhlas Nic," keluh Cherry manja.


Nic mengusap pipi kanan Cherry pelan, "sudah jangan terlalu banyak berpikir, masa berlaku otakmu akan cepat habis, jika kau terlalu banyak menggunakannya."


"Hey kau pikir otakku ini kartu prabayar?" Nic tergelak dengan jawaban Cherry, untuk sesaat dia lupa kalau yang saat ini berada di sampingnya bukan Khanza melainkan Cherry, biasanya candaan begitu Ia gunakan untuk mengejek Khanza.


Seketika Nic terdiam, saat menyadari orang yang di sampingnya bukanlah Khanza, "maafkan aku Cherry, mungkin bercandaku berlebihan." Nic kembali menetralkan ekspresinya.


"Tidak masalah." Cherry tersenyum kaku.


'Kemana sebenarnya kamu pergi Za? Sungguh aku hampir putus asa mencarimu.'


"Nic, ayo kita makan siang." Ajak Cherry saat mendapati Nic kembali melamun, dan tentu saja Cherry dapat menebak siapa yang membuat hati Nic terusik.


Nic menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, benar saja kini waktu telah masuk jam makan siang, perutnya pun sedikit lapar, dia lantas mengangguk setuju. Cherry berjalan selalu dengan tangan melingkar di lengan Nic, seolah itu menjadi hal wajib saat dia bersama Nic.


Ouch... Tiba-tiba Cherry memekik kesakitan, refleks dia langsung melepaskan diri dari Nic kemudian berjongkok.


"Kamu kenapa Cherry?" wajah Nic nampak khawatir.


"Perutku sakit Nic!" Cherry memegangi bagian perutnya yang seolah di remas, amat sakit membuat dahinya seketika mengeluarkan keringat dingin.


"Ayo kita ke rumah sakit!" Nic hendak menggandeng Cherry, namun wanita itu tak sanggup berdiri.

__ADS_1


"Aku tidak sanggup berdiri Nic, perutku sakit." keluh Cherry dengan wajah memerah.


Saat Nic hendak menggendong Cherry, David datang menyeruak dan mendorong Nic menjauh, hingga tubuh pria itu sedikit limbung "Minggir! Dasar tak berguna!" Hardik David yang langsung menggendong Cherry tanpa aba-aba.


Dia menghunuskan tatapan bak sebuah pedang yang sanggup mengoyak tubuh Nic. Dia membawa Cherry menuju mobilnya dengan langkah cepat, tubuh Cherry seolah tak terasa berat bagi David.


"Dia benar-benar menyebalkan, apa lagi salahku? Aku bukannya tak ingin menolong Cherry, hanya dia yang datang terlalu cepat." Nic bermonolog. Dia lantas berjalan menyusul, dan tentu saja mobil David telah lenyap dari pandangan.


Nic menyusul dengan mobilnya sendiri menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya disana, Cherry masih dalam penanganan dia dan David hanya bisa menunggu diluar. David nampak begitu cemas dia terus berjalan kesana kemari, sesekali dia mengintip jendela yang tertutup tirai, berharap ada celah yang bisa ia temukan disana.


"Mengapa mereka lama sekali?" Decak David kesal.


"Duduklah dulu, kau membuat kepala ku pusing dengan terus berjalan mondar-mandir."


"Hmph, dasar tidak punya perasaan, tunangan mu berada dalam ruangan itu, entah bagaimana keadaannya, tapi di wajahmu itu sama sekali tidak ada kecemasan." Sindir David.


"Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku tulis kata 'cemas' di wajahku, untuk membuktikan kalau aku juga peduli padanya?" David hendak melontarkan kata-kata kasar dari mulutnya saat pintu ruangan tersebut terbuka.


Seketika perhatiannya teralihkan, "Dokter, bagaimana keadaan Cherry, apa dia baik-baik saja?" Dokter itu hanya diam, dia menatap Nic dan David silih berganti.


"Apa anda adalah suami pasien?" tanyanya pada David.


"Emh, bukan Dok. Saya asistennya." David berujar pahit.


"Saya Dok, saya calon suaminya!" Nic mengacungkan tangan, tatapan Dokter tersebut langsung mengarah pada Nic.


"Kalau begitu bisa anda ikut saya sebentar?" Dokter itu berucap dengan tatapan serius.


"Dokter, mengapa tidak di bicarakan disini saja, saya juga ingin mendengar keadaan Cherry." David berusaha menghalangi Nic untuk bicara dengan dokter.


"Maafkan saya Tuan, ini menyangkut hal yang sedikit privasi, jadi meski anda adalah asistennya, calon suaminya yang lebih berhak mendengarnya lebih dulu." Perkataan Dokter tersebut membuat mulut David seketika bungkam, membuat Nic merasa puas mendengarnya.


Nic dan Dokter pria tersebut berlalu menuju ruangan sang Dokter, Nic di persilahkan dudu dengan sopan, tentu saja Ia langsung menurut.

__ADS_1


"Dokter, ada masalah serius apa dengan kesehatan calon istri saya?" Nic langsung bertanya pada intinya.


"Apa anda tahu calon istri anda sedang hamil?" pertanyaan yang terlontar dari mulut sang dokter membuat pupil mata Nic melebar seketika.


__ADS_2