Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 41: Sebuah Janji


__ADS_3

Khanza dan Clarisa menelusuri jalanan yang nampak sepi dan lenggang, pohon Cemara berjajar di sepanjang yang mereka lewati, hingga berakhir pada sebuah rumah minimalis ber-cat abu tua dengan cerobong asap di atasnya.


Clarisa membantu Khanza mendorong pagar besi yang terpasang disana, lantas masuk.


"Ini rumah kamu?" Clarisa mengedarkan pandangan ke sekitar, disini banyak rumah berjajar dengan bentuk dan cat yang sama, jika kau baru datang ke tempat ini sendirian kemungkinan akan masuk ke rumah yang salah.


"Hem, aku memilih tempat ini karena lingkungannya hangat, orang-orang disini juga sangat baik Kak." Khanza berucap sembari membuka pintu, yang terdapat karangan bunga kecil berbentuk bundar dengan sedikit pita merah dan dua lonceng kecil disana, dan ada juga besi pengetuk pintu.


"Ayo masuk Kak, aku akan membuatkan Kakak teh jahe!" Khanza menghambur ke dapur dan menyeduh teh untuk Clarisa. Lantas dia menyalakan perapian agar udara menjadi hangat.


"Kau senang disini?" Clarisa bertanya sembari menyesap teh jahe yang Khanza berikan.


"Ya aku senang, tempat ini membuatku tenang. Putraku juga akan tumbuh dengan baik di tempat ini." Khanza berceloteh riang sambil mengusap lembut perutnya.


"Za, tidakah kau ingin jujur padanya mengenai kehamilan mu, mungkin dia akan berubah pikiran dan memilih bersamamu." Khanza terdiam, seketika dia menunduk meremas jemarinya.


"Emh, Kakak belum makan kan? Aku akan memasak sup ayam untuk makan malam!" Khanza berlalu dia sengaja menghindari topik tersebut, tak ingin membahasnya untuk saat ini.


Khanza berjibaku dengan peralatan dapur, Clarisa pun menghampiri dan ikut membantunya, "Kak, apa Kakak belum ingin menikah?"


"Belum, aku bahkan belum punya pacar."


"Hah, masa sih? Kakak kan cantik, seorang dokter pula."


"Memilih pasangan tidak semudah memilih mobil, saat kau suka kau langsung membelinya. Lagi pula, aku bukan wanita yang mudah tertarik dengan pria, aku lebih suka sendiri dan malas mengurusi percintaan yang rumit." Ujar Clarisa sembari mengaduk sup di panci.


"Wah aku baru tahu sisi Kakak ku yang seperti ini." Khanza terkikik geli.

__ADS_1


"Mulai sekarang kau akan selalu tahu seperti apa aku."


"Kakak," Khanza menatap Clarisa dengan mata berkaca-kaca.


"Hey jangan menangis, kau tahu aku benci air mata kan, apa lagi kalau sampai ingusmu kena bajuku."


"Haha, Kakak itu kan dulu, waktu kita masih kecil, sekarang mana ada aku nangis ingusku kena baju Kakak." Khanza tidak jadi menangis malah tertawa karena ingat masa lalunya bersama Clarisa.


"Sudah ayo kita makan aku sudah lapar, sejak sampai tadi perutku tak kemasukan apa pun." Clarisa membawa sup tersebut ke atas meja di susul Khanza membawa semangkuk penuh nasi putih.


Dering ponsel Clarisa mengalihkan atensinya, tak terkecuali Khanza dia nampak menilik penasaran, "halo Mah." Clarisa berujar sembari melirik wajah sang adik. Khanza menaruh jari telunjuk di bibirnya, memberikan isyarat pada Clarisa agar tak memberitahukan jika dirinya ada di situ pula.


[Sayang kau sudah makan?] Sarah bertanya penuh perhatian.


"Baru mau Mah, aku baru selesai masak." Jawab Clarisa.


[Loh ko masak sendiri? Kenapa gak makan di restoran saja?]


[Oh gitu, ya udah salam buat temen kamu ya dan sampaikan juga rasa terima kasih Mamah buat dia karena sudah menerima kamu di rumahnya.]


"Ya Mah nanti Risa sampaikan, udah dulu ya Mah, aku mau makan dulu, baye!" Clarisa mematikan sambungan telpon setelah mendapat izin sang Mamah. Ia lantas menaruh kembali ponselnya di atas meja dan beralih pada makanan yang tadi Ia buat bersama Khanza.


"Kak, tolong jaga Mamah dengan baik dan Papah juga. Aku harap suatu hari Mamah mau memaafkan Papah." Khanza menunduk sedih.


"Tentu, kita akan menjaganya bersama-sama."


"A-aku rasa itu tidak mungkin Kak, aku akan menetap di tempat ini untuk selamanya," Clarisa mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kamu tidak akan kembali?" Khanza hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Kak, tolong rahasiakan keberadaan ku disini, jangan sampai orang lain tahu aku tinggal disini apa lagi keluarga Nelson!" Khanza menatap dengan pandangan serius, membuat Clarisa mau tak mau menyetujuinya.


"Baiklah aku berjanji!"


Khanza dan Clarisa pun makan malam bersama, setelah puluhan tahun perang dingin, akhirnya es itu mencair juga, tinggal Sarah seorang yang masih belum menerima Khanza kembali.


Malam hari Khanza tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi menyamping, dia mengambil ponselnya yang terasa sepi, karena dia mengganti kartu prabayar di ponselnya, dia sengaja menghilangkan semua jejaknya, agar tak terlacak keberadaannya oleh keluarga Nelson.


Khanza menggulir layar ponselnya, menatap sebuah foto yang terdapat foto dirinya dan Nic tengah bergandengan, seandainya waktu dapat di putar ke-masa dimana hanya ada dia dan Nic, tanpa kehadiran Cherry, semua pasti akan jadi berbeda


'Nic bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia tanpa aku? Apa kau baik-baik saja? Kau pasti baik-baik saja, Karena ada dia di sampingmu.' Khanza tersenyum lemah.


"Aah, aku mulai lagi." Khanza menutup mata dengan lengan kanannya, selalu saja begini yang Ia rasakan di malam hari, saat rutinitasnya telah berhenti.


"Khanza boleh Kakak tidur denganmu?" Tiba-tiba suara ketukan pintu di iringi suara Clarisa terdengar dari arah luar.


"Tentu Kak, masuk aja gak di kunci ko." Clarisa pun masuk dengan sebuah bantal dan selimut dalam dekapannya.


"Kenapa Kak, apa kamarnya tidak nyaman?" Khanza beranjak duduk dengan pelan, menarik tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.


"Enggak, Kakak hanya gak bisa tidur kalau di tempat asing, jadi Kakak butuh temen ngobrol." Dalih Clarisa.


"Oh gitu, ya udah sini Kak, aku juga masih belum ngantuk, bayiku juga gak mau diem dari tadi, nendang-nendang mulu." Khanza meringis merasai pergerakan dalam perutnya yang terasa ngilu menyentuh kulit.


"Mungkin Dede bayi kangen aunty ya, jadinya gak bisa diem." Clarisa menyentuh perut Khanza dan berbicara dengan nada seperti bicara dengan anak kecil. Khanza tersenyum senang, melihat Kakaknya yang selama ini Ia pandang dari jauh, kini berada tepat di sampingnya bicara dengan nada lembut padanya, momen ini tak pernah sekali pun ada dalam bayangan Khanza, dia telah melepaskan semua angan untuk dapat berbicara normal dengan Kakak dan juga Mamahnya.

__ADS_1


Malam telah larut, Khanza sudah nampak terlelap, hingga Clarisa pun ikut terlelap.


'Selamat malam adikku semoga mimpi indah, aku berjanji padamu mulai sekarang takkan ada yang berani menyakitimu, selama aku masih hidup takkan ku biarkan air mata tergenang di pelupuk matamu. Itu Janji seorang Kakak!'


__ADS_2