Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 45 : Ayah Meninggal


__ADS_3

Seminggu berlalu, Clarisa tinggal bersama Khanza, kini dia harus kembali karena tugasnya di tempat tersebut telah usai.


"Za, kamu gak papa Kakak tinggal sendiri?" Clarisa nampak enggan untuk pergi.


"Kakak lupa, aku sudah terbiasa tinggal sendiri." Khanza terkekeh pelan.


"Tapi saat ini kau sedang hamil, aku merasa risau kalau harus meninggalkanmu seorang diri. Pulanglah bersamaku, aku akan mencarikanmu tempat tinggal yang baru, aku jamin tidak akan ada orang yang tahu." Bujuk Clarisa.


"Tidak, terima kasih. Kakak ku sayang, aku akan baik-baik saja, pergilah jaga Mamah dan Papah." Khanza memeluk Clarisa sekilas.


"Dasar keras kepala." Clarisa mengusap kepala Khanza, lantas menggeret koper memasukannya ke dalam bagasi.


Lambaian tangan Khanza mengiringi kepergian Clarisa, matanya menatap nanar mobil Clarisa yang perlahan menghilang di ujung jalan. Akhirnya kebencian itu hilang dari hati Clarisa, membuat Khanza amat senang.


"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan kita Nak."


~*~


Saat Clarisa tengah mengendarai mobilnya di jalanan pandangannya menangkap seseorang yang tengah berjongkok melihat ban mobilnya yang bocor.


"Itu Nicholas kan? Sepertinya ban mobilnya bocor, apa aku harus menolongnya?" Clarisa bermonolog.


Namun akhirnya karena merasa kasihan dia pun menepi, dia melongokkan kepalanya dari jendela, "kau Nicholas kan?" Seketika Nic langsung menoleh, dia mengernyitkan dahinya, agaknya dia tak mengenali Clarisa karena mereka jarang bertemu.


"Kau bicara padaku, Nona?" Nic menoleh kesana kemari takut jika wanita itu bertanya bukan pada dirinya.


"Iya, kau siapa lagi. Namamu Nicholas kan? Sudah tinggalkan mobilmu disitu, aku akan memberimu tumpangan sampai ke kantor." Nic semakin memandang keheranan pada Clarisa.

__ADS_1


Dia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, ini memang sudah siang, jika dia menunggu Ren menjemputnya akan memakan waktu lama, taksi pun tak ada yang lewat, apa lagi ada jadwal rapat sekitar jam satu siang, dan ini sudah pukul 12:00 jika dia menunggu lagi pasti akan terlambat.


Nic pun memastikan mobilnya terkunci dan pergi menghampiri Clarisa, dia pun lantas masuk.


"Maaf Nona, apa aku mengenalmu?" tanya Nic sembari memasang sabuk pengaman.


"Clarisa Carson!" Jawab Clarisa datar sambil melajukan kembali mobilnya.


Nic seketika menilik wajah Clarisa memastikan apa yang Ia ketahui benar adanya, "kau Kakaknya Khanza?" Nic menatap tak percaya.


"Bagaimana kabarnya?" Clarisa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Justru itu yang ingin aku tanyakan padamu, apa dia pernah datang ke tempat kalian, atau menghubungi kalian?"


Clarisa menaikan sebelah alisnya, "apa mungkin dia menghubungiku?" Clarisa kembali menjawab dengan pertanyaan lagi, "tapi dulu dia pernah datang ke tempat kami sebelum dia pergi, setelah itu kami tidak tahu dia pergi kemana." jelas Clarisa.


Nic mendesah pelan, tangannya menyibak poni yang menutupi matanya, dari wajahnya bisa terbaca jika sebetulnya dia lelah, frustasi dan pasrah, kehilangan Khanza membuat hatinya terganggu.


"Waktu itu dia bilang, dia ingin pergi ke rumah kami yang ada di negara C, kami pun percaya dan mengijinkannya pergi. Tapi, sampai detik ini aku tidak tahu keberadaannya dimana, bagaimana kabarnya dan seperti apa keadaannya." Nic menunduk dalam.


"Jika dia ingin pergi, biarkan saja dia pergi. Untuk apa kau mencarinya. Bukankah kau akan menikah, mungkin dia ingin mencari jati dirinya sendiri." Terang Clarisa.


"Tapi kenapa harus dengan cara begini? Dia seolah menghilang di telan bumi, kami sampai mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk menemukannya, tapi sampai sekarang dia masih belum ditemukan. Aku takut hal buruk terjadi padanya."


"Mengapa kau sangat peduli pada adikku, yang bahkan keluarganya sendiri pun tak peduli?" Clarisa melempar pertanyaan serius.


Nic menoleh dengan pandangan tak suka terhadap Clarisa, "itu karena kalian buta, anak sebaik dia kalian buang begitu saja. Tapi aku bukan kalian, yang akan membiarkan Khanza menghilang dari hidup kami begitu saja. Mungkin kalian senang atas kepergiannya, tapi kami tidak, sampai kapan pun aku akan tetap mencarinya, aku tidak akan menyerah sampai dia di temukan!"

__ADS_1


Mobil pun menepi, karena telah sampai di depan gedung kantor Nic, "terima kasih atas tumpangannya Nona Clarisa Carson, lain kali aku akan membalasnya." Nic hendak membuka pintu, namun perkataan Clarisa membuat niatnya terhenti untuk sesaat.


"Jika Khanza kembali, apa yang ingin kau katakan?" pertanyaan Clarisa sukses membuat Nic terpaku di tempat.


"Apa kau mencintainya?"


"Apa kau akan meninggalkan tunanganmu demi dia?"


"Katakan padaku, alasan apa yang kau miliki, mengapa kau ngotot ingin membawa dia kembali, sedangkan kau sendiri akan menikahi wanita lain. Kau tidak mungkin tidak tahu kalau dia menaruh hati padamu!" Nic di berondong dengan pertanyaan bertubi-tubi oleh Clarisa.


"Aku baru sadar kalau aku mencintainya, tapi ada satu hal yang membuatku tak mungkin membatalkan pertunanganku untuk sekarang." Jawaban Nic membuat Clarisa mendengus kasar, jawaban itu benar-benar membuatnya kecewa, jika saja Nic bilang dia mencintai Khanza dan memilih untuk menikahinya, mungkin dia akan mengatakan apa yang Ia ketahui tentang Khanza. Namun nyatanya jawaban Nic tak membuatnya puas, jadi Clarisa kembali menelan kata-kata yang hendak terlontar dari mulutnya.


"Nona Clarisa, sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk tumpangannya hari ini, jika kau tahu sesuatu tentang Khanza tolong beritahu aku." Nic pun turun dari mobil dan berjalan masuk.


Clarisa kembali melajukan mobilnya di jalanan menuju rumahnya. Mungkin dia harus bungkam untuk beberapa waktu perihal Khanza, nampaknya Nic belum benar-benar serius dengan perasaannya.


Dering telpon mengalihkan atensinya, Clarisa mengangkat telpon dan menjepitnya dengan bahu, karena dia harus tetap fokus pada kemudinya.


"Halo Mah?"


[Risa kamu masih dimana?] Suara Sarah terdengar sengau seperti habis menangis.


"Aku arah jalan pulang Mah, bentar lagi juga sampai ko." Clarisa berucap tenang sembari tetap fokus pada kemudinya.


"Memangnya ada apa Mah? Mamah mau aku belikan sesuatu?" tanya Clarisa.


[Enggak ko Ris, kamu cepet pulang ya, Mamah kangen sama kamu." ujarnya, lantas menutup telpon. Tapi justru karena itu membuat Clarisa semakin curiga, Clarisa tahu Mamahnya menyembunyikan sesuatu darinya. Clarisa memacu kendaraannya secepat mungkin, dia ingin segera sampai dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Mobil pun sampai di pekarangan rumah, Clarisa mengedarkan pandangan, pasalnya dari depan hingga ke dalam, banyak orang mengenakan pakaian serba hitam. Dalam hatinya dia menduga, mungkinkah Papahnya meninggal?


Clarisa menyeruak di antara orang-orang yang berdiri bak barisan barikade polisi. Mereka mengelilingi peti jenazah yang berisikan seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih. Benar saja itu Ayahnya, kaki Clarisa gemetar, tubuhnya limbung seketika.


__ADS_2