Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 47 : Kedatangan Martin Nelson


__ADS_3

Nic menyangga kepalanya dengan kedua tangannya, jika saja Khanza masih ada bersamanya, tinggal di sisinya memberinya arahan bagaimana menghadapi krisis yang terjadi saat ini, dia pasti akan merasa semua ini akan lebih mudah di atasi, tapi wanita itu bahkan tak diketahui keberadaannya.


"Nic!" Suara panggilan dan tepukan di pundak membuat Nic seketika mendongak.


"Om," Nic menghela napas, "bagaimana keadaan Daddy?"


"Dia baik-baik saja, dia bilang bersiaplah kemungkinan hal besar akan terjadi di perusahaan."


"Hal besar?!"


Baru saja mereka membahas perihal masalah itu, suara riuh terdengar dari arah luar, Nic bangkit dia berjalan keluar di ikuti Ken dari belakang, "siapa mereka?" Nic mengerutkan dahi pasalnya banyak orang berseragam serba hitam berjajar di pintu lift.


"Om?" Ken hanya diam, matanya terfokus pada pintu lift yang masih tertutup rapat. Shelia datang dari arah samping, entah sejak kapan wanita itu datang ke kantor.


"Itu dia," gumam Shelia, bertepatan dengan itu tiga orang pria, muncul dari dalam lift yang baru saja terbuka. Dua di antaranya memakai seragam yang sama, dan yang satu lagi memakai jas senada namun dengan model berbeda, dia mengenakan topi hitam yang menutupi separuh wajahnya.


"Halo, kau istri keponakanku kan? Senang rasanya bisa kembali ketempat seharusnya aku berada." Dia tersenyum pelan, dia mengangkat sedikit topinya hingga wajahnya dapat terlihat dengan sempurna.


"Oh, ada Ken juga, terima kasih sudah menyambut kedatanganku Ken. Kau memang bawahan keponakanku yang paling setia. Dan siapa ini? Wah dia sangat tampan, siapa namamu, Nak?!" Sikap Martin yang tampak ramah hanya di respon dengan pandangan datar oleh Shelia, Ken dan Nicholas.


"Kau seharusnya memanggilku Kakek, kan? Wah ternyata aku sudah tua, tapi jangan panggil aku Kakek untuk sekarang ya, soalnya aku belum menikah." Kekehnya pelan.


'Cih belum menikah apanya? Bahkan kau sudah melakukannya dengan banyak wanita.' Nic melempar tatapan mencibir.


"Apa kalian tidak ingin menyuruhku masuk? Dimana keponakanku tersayang, mengapa dia tidak terlihat? Apa dia tidak senang dengan kedatangan pamannya?" Martin celingak-celinguk mencari sosok Richard.

__ADS_1


"Aah, aku lupa jika keponakan ku tersayang tengah berada di penjara. Aku turut prihatin."


"Dia sangat menyebalkan Mami, ingin sekali aku memukul wajahnya!" Nic menggeram kesal dengan nada pelan, tangannya mengepal kuat.


"Tidak Nak, jangan lakukan itu. Biarkan saja dia berada di atas angin untuk sekarang," Shelia menggenggam lengan Nic menahannya agar tak melayangkan bogemnya pada Martin.


Martin masuk kedalam ruangan Richard, dia mengitari meja dan hendak duduk di kursi kebesaran Richard, namun pergerakannya di hentikan oleh Ken. Seketika para pengawal Martin menodongkan senjata ke kepala Shelia, dan Nic.


"Hey, hey, apa yang kalian lakukan? Turunkan senjata kalian, anak-anakku tidak baik bersikap begitu, mereka adalah keluargaku." Ucapan yang keluar dari mulut Martin seketika membuat para pengawalnya menurunkan senjata api tersebut.


"Maaf Tuan, bukannya saya lancang, tapi anda harus di angkat secara resmi oleh para pemegang saham lainnya untuk dapat duduk di kursi ini. Sebelum itu, mohon maaf anda belum punya hak atas posisi ini." Ken bersikap tegas namun sopan.


"Ah, kau benar Ken. Terima kasih telah mengingatkan ku, hari ini kita adakan rapat para pemegang saham, lagi pula aku punya 40% saham di kantor ini."


"Baiklah, untuk hari ini cukup sampai disini. Sampai jumpa di lain waktu." Ujarnya seraya berlalu.


Shelia menghembuskan napas kasar sembari mendudukkan diri di sopa, Nic pun begitu dia berdiri menghadap jendela dengan wajah pasrah, "apa yang harus kita lakukan sekarang Om?"


"Tenanglah, aku dan Ayahmu sedang menjalankan rencana. Aku yakin, kali ini akan berhasil, tapi aku butuh bantuan mu Nic."


Selepas mendiskusikan rencana mereka Nic datang ke rumah Cherry, untuk menemuinya. Setelah mendapat izin Nic pun masuk, tampak Cherry tengah duduk sambil memakai handuk kimono, dengan segelas anggur merah di tangannya, rambutnya ia gerai, dan belahan dadanya nampak terlihat setengahnya. Ia duduk bertumpang kaki hingga pahanya yang putih mulus nampak tersibak sedikit.


"Nic, kau datang kemari ada apa?" tanyanya sambil tersenyum.


Nic duduk di hadapan Cherry, dengan tatapan tajam, "sudahlah, singkirkan topengmu itu." perkataan Nic seketika membuat Cherry kembali dudu tegak.

__ADS_1


"A-apa yang kau katakan Nic?" Cherry nampak gugup. Nic tersenyum miring, dia melempar beberapa foto di atas meja dan sebuah flashdisk, di foto tersebut menunjukan ketika Cherry tengah memuaskan Martin dengan bibir mungilnya, dan beberapa foto adegan dewasa yang tengah dia lakukan.


"Da-darimana kau dapat foto-foto ini?" Mata Cherry melebar sempurna, dia meraih foto-foto itu dengan kasar, mempertegas penglihatannya yang seolah tak yakin jika itu dirinya.


"Tidak penting darimana aku mendapatkannya, tapi... Aku bisa menggunakan foto-foto dan video itu untuk menghancurkan nama baikmu!" Ancam Nic, penuh penekanan.


Cherry terkekeh pelan, dia menyandarkan diri di sandaran sopa, "Master One pasti sudah bergerak, itu yang membuatmu tergesa-gesa mendatangiku, dan tampaknya kau juga tidak terkejut dengan fakta diriku yang pernah berhubungan dengan pria lain, bahkan saat ini status kita masih bertunangan Nic."


"Dan aku tebak, sebetulnya kau tidak pernah suka padaku kan? Kau hanya tertarik saat pertama kali kita bertemu, aku tahu semua itu, tapi demi kelancaran rencana Master One aku harus mendapatkanmu, bahkan aku harus mengiris tanganku sendiri untuk itu." Cherry mengangkat bahunya ringan.


"Jadi waktu itu kau sengaja melakukannya?" Nic menggertakkan gigi dengan tangan mengepal penuh amarah.


"Ya, hanya sebuah goresan kecil," Cherry mengukur kadar kecil dengan jemarinya, "karena aku menyadari sikapmu telah berubah, tampaknya kau sudah menyadari perasaanmu untuk sekertaris kecilmu itu," Cherry kembali terkekeh.


"Kau--," Nic menggeram kesal.


"Oh ya, waktu itu aku keguguran, kau juga tahu kan?"


"Aku sangat tahu, dan dari situlah aku curiga terhadapmu. Dan aku juga tahu, kalau kamu menjadi budak **** pamanku, Martin Nelson yang kau sebut Master One itu." Nic tersenyum puas, melihat wajah Cherry yang memucat.


"Kenapa kau terkejut? Apa yang aku ketahui lebih dari yang seharusnya bukan? Dan aku juga tahu, mengapa kau melakukan semua itu, karena adikmu ada di tangan pamanku." Wajah Cherry nampak semakin menegang.


"Ba-bagaimana kau bisa tahu tentang adikku?"


"Sudah ku bilang, aku tahu segalanya tentangmu!" Nic tersenyum smirk

__ADS_1


__ADS_2