Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 38: Fakta tentang Cherry


__ADS_3

Nic tertegun mendengar penuturan sang Dokter, "usia kandungan calon istri anda mencapai empat Minggu." Jelas sang Dokter.


"Empat Minggu?" Nic memperjelas pertanyaannya.


"Benar empat Minggu, tapi sayangnya janin itu tidak bisa bertahan lama, mengingat calon istri anda pernah melakukan beberapa aborsi." fakta kedua yang Nic dengar semakin membuatnya tercengang.


Cherry melakukan aborsi, bagaimana bisa? Nic menundukkan pandangan berusaha mengendalikan rasa keterkejutannya.


"Rahimnya tidak cukup kuat, jadi di masa depan kemungkinannya untuk hamil rasanya akan sedikit sulit." Tutur sang dokter.


"Tapi Dok, apa ada cara lain agar kami bisa punya anak lagi nantinya?"


"Kemungkinan itu akan selalu ada, intinya harus banyak berdoa dan tetap berusaha, menjaga pola hidup sehat dan rajin periksa ke Dokter." Dokter memberi wejangan.


"Oke saya mengerti. Tapi Dok, bisakah anda merahasiakan apa yang kita bicarakan tadi dari calon istri saya dan asistennya, saya takut dia merasa sedih dan terpukul atas kepergian bayi kami." Nic berpura-pura sedih, padahal dalam hatinya dia merasa terbakar kemarahan.


"Tentu saja, jika itu keinginan anda."


Selepas berbincang dengan Dokter, Nic pun keluar dengan perasaan ketir. Bagaimana bisa Cherry hamil empat Minggu sedang mereka berhubungan badan pun baru genap satu bulan, dan soal Aborsi itu, itu jelas membuktikan bahwa Cherry punya hubungan gelap di belakangnya.


'Wanita sialan! Beraninya kau ingin menipuku dengan anak dalam perutmu yang nyatanya milik laki-laki lain, sungguh menjijikan.' Gerutu Nic dalam hati.


"Apa yang Dokter katakan?" David langsung menerjangnya dengan pertanyaan saat mereka bertemu di lorong.


"Dokter bilang Cherry baik-baik saja, dia hanya sakit perut biasa." Nic berdalih.


"Kau yakin Dokter bilang begitu? Atau kau menyembunyikan sesuatu dariku?" David melempar pandang penuh selidik.


'Pria ini benar-benar menyebalkan. Atau mungkin, anak itu sebetulnya milik dia?' Nic menggertakkan gigi menahan amarah dalam hatinya.


"Kalau kau tidak percaya pergi tanya sendiri pada Dokter!" Nic menyeruak membuat tubuh David sedikit oleng ke samping.

__ADS_1


David yang tak percaya pada kata-kata Nic berlalu menuju ruangan yang baru saja Nic datangi, untung saja dia sudah menyuruh Dokter tersebut untuk tetap diam dan tak mengatakan apa pun pada David atau pun Cherry.


Nic masuk ke dalam ruang rawat Cherry. Wanita itu nampak telah sadar, dia tengah berbaring dengan posisi kepala sedikit naik, "Sayang kau disini." Cherry tersenyum lemah.


Ingin rasanya Nic mencaci-maki wanita di depannya itu, berani sekali dia menipu dan memperdayainya, jika Cherry tidak keguguran hari ini rahasia ini pasti takkan ketahuan sampai kapan pun, dan Nic akan bertanggung jawab untuk benih orang lain untuk selamanya.


'Sialan kau Cherry, ingin rasanya aku mencekikmu!' batin Nic.


Nic membalas senyuman Cherry lantas duduk, "bagaimana keadaanmu? Apa perutmu masih sakit?" Nic menyentuh lembut lengan Cherry.


"Sudah lumayan mereda, tapi Nic apa dokter tidak mengatakan sesuatu padamu?" tatapan Cherry sedikit was-was.


"Tidak, Dokter hanya bilang untuk lebih memperhatikanmu, kau makan tidak teratur membuat asam lambungmu naik." Ujar Nic masih dalam mode akting.


"Hanya itu?" tanya Cherry nampak tak yakin.


"Ya hanya itu, istirahatlah aku pergi dulu sebentar." Nic mengusap pipi Cherry lembut sebelum berlalu.


"Sepertinya aku harus menyusun rencana lain." Gumam Nic, secepatnya Nic berlalu sebelum David menyadari keberadaannya. Pria itu cukup peka dengan hal-hal kecil membuat Nic harus ekstra hati-hati agar tak ketahuan.


Dering ponsel mengalihkan atensi Nic, dia langsung mengangkat benda pipih tersebut dan menempelkannya ke telinga, "halo Ren?!" Ya, itu Renaldi yang menghubunginya, setelah Khanza pergi Renaldi yang menggantikan posisinya atas perintah Richard. Bukan tak ada yang ingin mengisi posisi Khanza yang amat penting di perusahaan, namun lebih pada kepercayaan.


"Ada apa Ren, apa ada sesuatu yang terjadi?" Nic tak sabar.


[Informasi penting tentang perusahaan bocor, Tuan menyuruh Anda cepat kemari, tuan muda!] Ujarnya dari sebrang telpon.


Setelah mendapat kabar tersebut Nic langsung pergi tanpa pamit, "sialan siapa yang berani melakukan ini?" Nic berdecak kesal, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat perjalan dari rumah sakit menuju perusahaan hanya membutuhkan waktu lima belas menit.


Langkah lebarnya di sambut pengawal sang Ayah, membuat perasaan Nic mulai tak karuan. Nic menghela napas dalam saat dirinya sampai di depan pintu, "Tuan muda silahkan!" pintu pun terbuka, menampakan seorang pria paruh baya yang tengah duduk bersilang kaki di kursi kerja Nic.


"Dady." Nic berujar dengan takut-takut. Di ruangan itu sudah ada Ken dan Renaldi yang tampak serius mengerjakan sesuatu di laptop.

__ADS_1


"Oh kau sudah kembali," ujar Richard tenang.


"Apa yang terjadi? Ren bilang data perusahaan bocor?"


"Oh itu, hanya beberapa data tentang proyek baru yang sedang Dady tangani. Tapi itu membuat Dady menaruh curiga pada seseorang." Richard menaruh dagu di antara kedua tangannya yang bertumpu pada meja.


"Apa ada yang Dady curigai?" Nic merasa penasaran.


"Siapa yang terakhir berada di ruangan mu?" Nic bersitatap dengan Renaldi.


"Cherry!" ujaranya spontan. Namun apa yang Ia katakan, Nic sendiri tak cukup yakin.


"Tapi untuk apa dia melakukan semua itu?"


"Untuk saat ini tidak penting untuk apa dia melakukan semua itu, yang penting kau harus mengawasi gerak-geriknya. Ingat Nic, jangan sampai lengah, kemungkinan orang di balik dia sangat kuat, jadi tetaplah berprilaku seperti biasa jangan sampai dia menaruh curiga." Nic hanya mengangguk.


Apa yang di katakan sang Ayah membuat Nic semakin yakin masalah ini tidaklah sederhana, kemungkinan masalah besar akan terjadi, firasat Nic mengatakan.


"Daddy, Cherry keguguran. Aku baru menemukan fakta bahwa dia pernah beberapa kali melakukan aborsi." Ujar Nic menerangkan, rasanya dia bisa terbuka pada Ayahnya menyangkut masalah Cherry.


"Tenang saja Nak, itu bukan anakmu." Richard menepuk pundak sang anak sambil tersenyum, membuat Nic terkejut bagaimana bisa Ayahnya tahu soal dia pernah tidur dengan Cherry.


Ehem, "darimana Daddy tahu itu anakku atau bukan?" Nic bertanya kikuk.


"Tentu saja Daddy tahu, Daddy sendiri yang membuat rencana wanita itu ter-realisasi." Richard terkekeh pelan.


"Jadi maksud Daddy, Daddy sendiri yang merancang agar Aku dan Cherry tidur bersama?" Nic sedikit meninggikan suaranya.


"Hanya memberi sedikit dorongan."


"Daddy!" Teriak Nic kesal. Richard hanya membalas kekesalan sang putra dengan tawa riang.

__ADS_1


"Tenang-tenang, malam itu kalian murni hanya tidur bersama, tanpa melakukan hal-hal aneh. Ken saksinya!" Yang di sebut namanya hanya nyengir kuda, membuat Nic mendengus sebal.


__ADS_2