
Clarisa menahan tubuhnya agar tak ambruk menyentuh lantai dengan bertopang pada ujung peti jenazah. Dia mengatur napas pelan, hatinya sakit, tapi air mata tak mampu keluar dari kedua sudut matanya, dia hanya bisa diam terpaku menatap sang Ayah yang telah terbujur kaku dengan mata terpejam.
'Mengapa kau begitu cepat pergi, aku bahkan belum mendengar kata maaf dari mulut Ibuku, tidakah kau kasihan padanya? Kau tak adil padanya, kau malah pergi menyusul selingkuhanmu itu. Aku benci padamu, Papah.' Clarisa berjalan dengan langkah tertatih menjauh dari keramaian.
Brak...!!
Dia membanting pintu dan mengurung diri di kamar, tubuhnya perlahan merosot ke lantai, Ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya, seolah sebilah pisau tumpul dan berkarat menghujam jantungnya amat dalam, sakit, perih tak tertahankan, namun anehnya air mata tak sanggup turun walau dia dalam keadaan begini, seolah kepergian Ayahnya tak patut di tangisi.
Clarisa mengambil ponsel di saku celananya yang terasa bergetar, dia menilik layar ponselnya yang menyala, disana tertera nama adik yang baru saja dia tinggalkan.
"Halo, Khanza." ujarnya lemah.
[Kakak sudah sampai?] pertanyaan tersebut terdengar dari sebrang sana.
"Sudah!"
[Oh, syukurlah kalau begitu, maaf aku sudah mengganggu waktu Kakak.] Khanza hendak mematikan ponselnya, namun Clarisa berujar.
"Dia telah tiada, aku harap kau kuat."
[Hah, siapa maksud Kakak?] Suara Khanza terdengar panik.
"Dia, Ayah kita! Dia sudah pergi, hanya kau yang dekat dengannya. Aku harap kau kuat." Ucap Clarisa dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Seketika suara tangis Khanza pecah, dia terisak lirih, hingga sambungan telpon pun terputus dengan sendirinya.
~*~
Kabar tadi membuat Khanza benar-benar terpukul, dia ingin sekali datang menghadiri pemakaman Ayahnya, namun itu tidak mungkin untuk saat ini, mengingat Sarah masih belum mau memaafkan dirinya.
"Pah hanya Doa yang bisa aku panjatkan untukmu, maaf aku tidak bisa hadir. Semoga kau bahagia di sana, kini Papah tidak akan merasakan sakit lagi, aku berjanji suatu hari, Aku, Kakak dan Mamah akan mengunjungi makamu bersama-sama. Aku memaafkan semua kesalahanmu, semoga kau tenang di alam sanah." Ujar Khanza sembari mendekap ponsel yang menunjukan foto sang Ayah.
Khanza termenung, apakah dia harus kembali sekarang? Tapi, susah payah dia bersembunyi dari semua orang, jika dia kembali sekarang dan bertemu dengan orang-orang dengan keadaan sedang hamil besar, apa yang akan orang lain pikirkan, bahkan jikalau pun dia kembali dia bahkan tak sanggup bertemu dengan Sarah.
~*~
Nic masuk kedalam rumah, suasana disana nampak tegang, tak jauh dari tempatnya saat ini Ren dan Ken tengah berbincang dengan dua orang polisi berseragam lengkap di bawah lampu gantung, Nic mengerutkan kening keheranan, dia lantas mendekat.
"Om, ada apa ini?" Nic melempar pandangan silih berganti pada Ken dan dua orang polisi tersebut. Dia heran mengapa rumahnya bisa kedatangan polisi.
"Tunggu! Ini sebenarnya ada apa?" Nic menuntut jawaban sambil menghalangi pergerakan sang Ayah.
"Nic, nanti Ken yang akan menjelaskan semuanya padamu. Aku titip Ibumu, tenangkan dia, saat ini dia belum bisa berhenti menangis. Jadilah dewasa anakku." Richard menepuk pundak Nic lantas menghampiri dua orang petugas polisi tersebut.
Bagai ada sebuah petir yang menyambar jantung Nic, dia amat terkejut bagaimana bisa Ayahnya di tangkap polisi, apa yang sebenarnya dia lakukan?
"Tunggu dulu, jelaskan padaku masalah apa yang membuat kalian sampai menangkap Ayahku?"
__ADS_1
"Nic, jaga sikapmu! Mereka orang terhormat, kau tidak boleh bersikap tak sopan!" bentak Richard.
"Tapi Dad--?!" Dua orang petugas polisi itu hanya menatap Nic dengan diam.
"Aku bilang Ken lah yang akan menjawab semua pertanyaanmu, apa kau mengerti! Mari Pak, jalankan tugas kalian." Richard kembali berjalan di giring oleh dua orang polisi tersebut dengan sepasang tangan yang di borgol.
Nic terduduk lemas di sopa, dia hanya bisa pasrah melihat sang Ayah digiring menuju kantor polisi di hadapannya. Ken dan Ren pergi mengikuti mereka untuk mengurusi beberapa prosedur penahanan. Nic naik ke lantai atas untuk melihat keadaan Shelia.
"Mami," Nic mendorong pintu kamar sang Mamah, terdengar isakan lirih dari dalam sana, membuat Nic langsung masuk kedalam.
"Mami tenanglah, jangan menangis." Nic merangkul sang Ibu yang tubuhnya tampak bergetar karena tangisnya.
"Mami tolong jelaskan padaku, sebenarnya apa yang terjadi? Kesalahan apa yang Daddy perbuat hingga polisi sampai menangkapnya?" Nic bertanya dengan nada lembut.
"Da-dady mu, di-jebak Nic, a-ada orang yang mem-produksi obat terlarang di pa-pabrik kita, tanpa sepengetahuannya, polisi datang memeriksa pabrik tersebut atas laporan seseorang." Shelia kembali terisak dia menutup wajah dengan telapak tangannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Nic mendesah tak percaya. Sepengetahuannya tentang Richard dia orang yang selalu penuh kewaspadaan, apa lagi di sampingnya ada Ken orang yang pintar dengan kemampuan bisnis yang tidak bisa di anggap remeh. Terlebih lagi banyak pengawal terlatih yang berbaur bersama pekerja lainnya di tiap perusahan yang mereka kelola.
"Mami juga tidak tahu Nak, hanya itu yang Ayahmu katakan. Tapi dia menyuruh Mami untuk tetap tenang, dia bilang semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya harus percaya padanya, mungkin dia punya sebuah rencana di balik masalah ini."
Beberapa hari setelah penangkapan Richard, harga saham mulai menurun. Beberapa Investor membatalkan kerja sama dan entah bagaimana ribuan pekerja berdemo di depan kantor pusat, mereka bilang mereka belum di gaji selama lima bulan.
Mereka terus berorasi, membawa sepanduk bertuliskan "Bayar Gaji Kami" "Bayar Hasil Keringat Kami"
__ADS_1
"Dasar kalian para orang kaya tak punya hati, kalian makan hasil jerih payah kami. Kalian peras tenaga kami. Kalian iblis berwajah manusia! Manusia korup, penjarakan seluruh keluarga Nelson itu, hukum mereka seberat-beratnya!"
Teriakan dan makian terdengar jelas menggunakan pengeras suara. Keadaan benar-benar genting, Ken terus bolak-balik ke kantor polisi bersama pengacara. Sedang Nic hanya ditemani Ren di perusahan, dia sebisa mungkin menenangkan para Investor yang merasa jika perusahan takkan punya harapan lagi. Nic dan Ren meyakinkan bahwa Richard murni hanya di jebak. Dia tak mungkin memproduksi barang terlarang dan ilegal, selama ini semua tahu seperti apa Richard Nelson, pria berbudi luhur dengan banyak amal yang tengah Ia lakukan. Dia bahkan tak segan-segan memberi kucuran dana untuk pembangunan umum, seperti rumah sakit, sekolah, bahkan santunan dana yang di gabung bersama pemerintah. Apa kebaikannya masih perlu di ragukan? Apa mungkin orang sebaik itu masih kekurangan uang dan mengambil upah karyawannya sendiri?