Oh My Savior

Oh My Savior
Bab 54 : Pendarahan


__ADS_3

Khanza menghela napas, lantas menjawab, "Aku baik Ren, aku melihat berita tentang Tuan Richard di televisi, apa itu benar?"


[Ya itu benar, sekarang beliau baru keluar dari ruang operasi masih belum sadarkan diri.] Jawab Ren dari sebrang telpon.


"Bagaimana keadaan Nyonya Shelia, dan Nic?" Tanya Khanza lagi.


[ Nyonya Shelia dia sangat sedih, dia menangis sepanjang malam, tapi sekarang dia sudah lebih baik. Mengenai Tuan Muda, banyak yang terjadi padanya, setelah kau pergi dia--,] Ren tiba-tiba terdiam.


"Apa yang terjadi padanya? Dia baik-baik saja kan, apa pernikahannya baik-baik saja?" Khanza memberanikan diri bertanya.


"Aku harap dia baik-baik saja, semoga dia menjalani kehidupannya dengan baik bersama Cherry." Ujarnya.


[Apa sudah selesai bicaranya?] Deg... Suara yang di dengar Khanza seperti tak asing, itu bukan suara Ren.


"N--Nic, emh... kau kah itu?" Khanza memastikan.


[Menurutmu?] Dia membalas dengan nada galak.


"Ya itu kau, Nic. Aku mengenal suaramu." Ucap Khanza ketir, dia menggigit bibir bawahnya, dia tak menyangka Ren akan berada bersama Nic saat ini, sayang nya Khanza lupa bertanya.


[Dimana kamu sekarang?] Desak Nic.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahu mu." Gumam Khanza pelan, terdengar ******* napas kasar Nic.


[Apa aku telah membuat kesalahan? Katakan padaku Khanza?] Nic mulai tak sabar.


"Apa Tuan Richard sudah sadar? Bagaimana keadaannya?" Khanza mengalihkan perbincangan, dia enggan menjawab pertanyaan Nic.


[Dia sudah sadar, tapi masih di rawat intensif] jawab Nic, [kamu belum menjawab pertanyaan-ku Za.] Nic mengingatkan.

__ADS_1


"Lalu Mami, bagaimana keadaannya?"


Nic mulai geram, karena Khanza tak menjawab pertanyaan yang Ia lontarkan, [Khanza!]


"Syukurlah, kalau Mami baik-baik saja, semoga kalian semua bahagia Nic. Kalau begitu aku tutup telponnya."


[Kalau kau berani menutup telpon-mu, hubungan pertemanan kita akan berakhir Khanza,] ancam Nic.


"Terserah kau Nic, jika menurutmu itu yang terbaik maka lakukanlah, sampai nanti." Khanza langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak, dia pun langsung melepas kartu prabayar yang ia gunakan untuk menghubungi Ren barusan.


"Maafkan aku Nic, keadaan ku sekarang tidak memungkinkan untuk kita bertemu," Khanza terisak pelan, "jika kau tahu aku hamil, akan seperti apa jadinya pernikahanmu." Khanza melempar kartu itu sembarang arah. Dia tidur meringkuk di sopa, seperti biasa keheningan-lah yang selalu menemaninya, serta anak dalam kandungan yang selalu mengikutinya kemana pun Khanza pergi, kini hanya ini dunianya, dunia Khanza dan bayinya.


Tok...Tok...


Suara ketukan pintu membuat Khanza merasa heran, pasalnya selain Clarisa tak ada satu pun orang yang pernah bertamu ke-rumahnya selama dia tinggal di tempat ini.


"Apa mungkin itu Kakak?" Tebak Khanza, dia turun dari sopa dan berjalan ke arah pintu.


"Kau Khanza? Ikutlah dengan kami." Ujarnya membuat Khanza mundur beberapa langkah ke belakang, dia hendak menutup pintu kembali, namun salah satu dari orang itu menahannya.


"Aku bukan Khanza, disini tidak ada orang yang bernama Khanza. Lebih baik kalian pergi." Ujar Khanza ketakutan.


"Itu kau, kami punya fotonya. Jangan coba-coba membodohi kami, ikutlah dengan kami secara baik-baik, kami janji tidak akan menyakitimu." Kata-kata itu semakin membuat Khanza ketakutan.


"Aku tidak mau, pergilah! Aku akan melaporkan kalian pada polisi, jika kalian berani menculik-ku!" Teriak Khanza histeris. Beberapa orang yang lewat nampak menoleh, namun tak ada satu-pun yang berani menolongnya, mereka terlalu takut pada dua pria berotot itu.


"Sudah bawa paksa saja dia, sesuai perintah bos kita harus membawanya apa pun yang terjadi." Ujranya, yang langsung di angguki oleh temannya. Dia meraih lengan Khanza dan mencengkeramnya.


Dia menarik lengan Khanza agar mengikutinya, namun Khanza mengait kan jemarinya di daun pintu, "lepaskan aku, aku tidak mau ikut kalian!" Khanza terus mengeratkan cengkeramannya, dai tak mau pergi dengan dua pria yang bahkan tidak tahu darimana asalnya.

__ADS_1


"Jangan melawan, atau kami akan melakukan kekerasan!" Ancamnya, yang satu menarik lengan kiri Khanza sedang yang satunya lagi berusaha melepas cengkraman Khanza yang berpegang di daun pintu.


"Lepaskan aku, aku bahkan tidak mengenal bos kalian, aku yakin kalian salah orang." Khanza terisak.


"Tidak kami tidak salah orang, jadi menurut-lah." Tentu saja kata-kata begitu tak sedikit pun Khanza percayai dia terus meronta berusaha melepaskan diri, namun tiba-tiba perutnya terasa keram.


Aaahhh... Khanza berteriak kesakitan, tubuhnya sedikit membungkuk menahan tekanan di perutnya, Khanza menunduk menatap kakinya yang sudah bersimbah darah, tangisnya semakin keras.


"A-ada apa ini?" Salah satu dari mereka tampak kebingungan, dia tak mengerti dengan apa yang terjadi, mengapa wanita itu bisa berdarah padahal mereka tidak melakukan apa pun padanya, selain menarik lengannya.


"Mengapa kau bertanya padaku, aku juga tidak tahu." refleks mereka melepaskan Khanza yang nampak begitu kesakitan, wajahnya merah padam.


"To-tolong bayi-ku." Gumamnya dengan napas memberat.


"Hah bayi, Dia hamil? Mengapa tidak ada yang memberitahu kita kalau wanita ini sedang hamil." Kedua orang itu tampak begitu panik, apa lagi saat Khanza mulai melemas tubuhnya hampir terjatuh ke lantai semen. Refleks dia pun menahan tubuh Khanza agar tidak menyentuh lantai dengan kasar.


"Cepat panggil ambulan. Darahnya semakin banyak, Nyonya tetaplah sadar, jangan tidur!" Ucapnya, pandangan Khanza mulai mengabur, rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi, seolah di remas-remas sedemikan rupa.


"To-tolong bayi-ku Tuan, aku mohon." Khanza berucap lirih, setengah berbisik.


"Tentu kami akan menolong bayimu, tapi kau harus tetap sadar demi Bayimu juga." Dia menepuk-nepuk pipi Khanza yang mulai memucat, bibirnya membiru, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, pakaian hangat yang ia gunakan kini tak berguna sama sekali.


"Aku sudah menelpon ambulan, mereka akan segera datang! Bertahanlah Nyonya, kau dan bayimu pasti baik-baik saja."


"Terima kasih." Lirih Khanza.


'Nic bayi kita,' Khanza menitikkan air mata dengan mata terpejam.


Hatinya benar-benar diliputi rasa takut yang teramat sangat, Khanza takut buah hatinya tak selamat, entah mengapa dia tiba-tiba mengalami pendarahan, padahal jadwal kelahiran anaknya di perkirakan akan terjadi bulan depan, kini kehamilannya baru memasuki bulan ke-delapan tapi kontraksi itu datang secara tiba-tiba, mungkin karena Khanza mengalami tekanan karena kejadian tadi.

__ADS_1


"Itu mereka sudah sampai, ayo aku akan menggendong-mu Nyonya." Khanza pun di gendong dan di baringkan di atas Ambulance Stretcher, kemudian di bawa ke-rumah sakit.


__ADS_2