
Kedua pria itu menatap Nic dengan pandangan terhunus tajam, kewaspadaan mereka memang patut di acungi jempol, dia menilik isi troli yang Nic bawa dengan seksama. Salah satu dari mereka juga mengitari Nic dan memerhatikan Nic dari ujung kaki hingga kepala. Membuat jantung Nic berpacu dengan cepat, dia takut penyamarannya terbongkar.
"Kau boleh masuk!" Ujarnya dengan nada sedikit membentak masih dengan pandangan seram.
Tanpa harus di perintah untuk yang kedua kalinya, Nic mendorong troli memasuki ruangan tersebut. Aroma pewangi ruangan menguar di Indra penciuman Nic, suara lenguhan dan decapan lidah menyambut kedatangan Nic di ruangan itu.
Tampak dia, Cherry tengah berpanggutan bibir dengan seorang pria yang sudah cukup tua. Dengan luka seperti bekas sayatan di bagian mata kirinya.
'Sial, jadi ini yang selama ini kau lakukan, dasar ******!' batin Nic geram.
"Tuan minumannya." Ujar Nic dengan pandangan menunduk, tubuhnya sengaja ia arahkan lurus tepat ke tempat pria itu dan Cherry berada.
Cherry nampak menilik tampilan Nic dengan seksama, dahinya sedikit berkerut, apa mungkin dia menemukan sesuatu? Tubuh Nic sedikit menegang, apa mungkin penyamarannya akan segera terkuak?
Cherry mengalungkan tangan di leher pria itu, dan membisikan sesuatu di daun telinganya.
"Kau nakal," pria itu menyingkap gaun yang menutupi pangkal paha Cherry. Membuat Nic mendengus pelan.
"Apa kau tidak ingin pergi? Kau ingin menonton kami bermesraan?" tiba-tiba Cherry berujar, membuat Nic seketika menatap tepat ke bola matanya, walau perasaan Nic telah bercabang namun tetap saja, rasa sakitnya di khianati itu tetap ada. Nic mengepalkan tangan menahan amarah, dia yakin dari sorot matanya api kemarahan itu sampai pada Cherry.
"Silahkan nikmati minuman kalian, Tuan dan Nyonya! Semoga pelayanan kami membuat anda puas!" Nic menunduk hormat. Dia pun berlalu keluar dari ruangan itu tanpa hambatan.
Kini Nic telah masuk kembali kedalam mobilnya dan melucuti dasi kupu-kupu dan rompi hitam yang ia kenakan, hingga tersisa kemeja putih milik sang pelayan tadi.
[Bagaimana Nic?] Suara Richard kembali terdengar dari earphone.
"Misi terselesaikan Dad!" Suara Nic masih terdengar gusar.
__ADS_1
[Ada apa dengan suaramu? Kau menemukan sesuatu tentang kekasihmu?] Nic memutuskan sambungan telponnya. Pertanyaan Richard sukses membuat Nic melepaskan kekesalannya lewat teriakan.
"Aarrggh! Sialan kau Cherry dasar ****** murahan! Aku ingin menghabisi mu!" Nic memacu kendaraannya seperti seorang pembalap, amarahnya sudah di ubun-ubun.
"Jadi anak yang mati waktu itu adalah hasil benih pria tua itu, menjijikan sekali, beruntung aku tidak sampai tidur dengannya." Nic terus marah-marah sepanjang perjalanan sampai ke rumah. Jarak waktu tempuh dari Kasino menuju rumah yang seharusnya memakan waktu satu setengah jam dalam mode kecepatan normal, Ia singkat menjadi setengah jam lebih. Itu membuktikan seberapa cepat Nic memacu kendaraannya.
Kedatangannya di sambut oleh Shelia sang Ibu, yang sudah nampak panik karena Nic tiba-tiba memutus sambungan telponnya.
"Kau tidak papa Nic?" Shelia menghambur memeluk putranya, dia menilik setiap inci tubuh Nic yang tak kurang satu apa pun.
"Syukurlah, Mami pikir terjadi sesuatu padamu. Mami takut setengah mati kau tahu." Shelia menyeka ujung matanya yang nampak basah.
"Cukup kali ini saja, aku tidak akan membiarkan pria tua ini membuatmu dalam bahaya lagi." Shelia mengeluarkan seluruh kekesalannya dengan menghardik Richard, yang hanya di balas senyuman kikuk olehnya.
"Mami aku baik-baik saja, lagi pula dengan adanya kejadian ini mataku akhirnya terbuka. Aku bisa melihat seperti apa calon istriku yang sebenarnya." Nic menggertakkan giginya.
"Itu tidak benar Dad!" Nic menampik tuduhan itu, faktanya hatinya telah bercabang rasa cintanya pada Cherry sama sekali tak utuh.
"Baiklah, tapi yang penting kau sudah tahu seperti apa dia yang sebenarnya. Mana kameranya?" Richard mengulurkan tangan meminta pin kecil yang tadi tersemat di dasi Nic.
"Ini. Aku sudah merekamnya." Nic menyerahkan benda kecil sebesar ujung jari kelingking tersebut pada Richard.
"Mari kita lihat, siapa dia yang sebenarnya." Richard berjalan masuk di ikuti Shelia dan Nic di belakangnya.
Di ruang keluarga sudah terdapat Ken dan Juga Renaldi, mereka berdua tampak menunggu dengan laptop di hadapan mereka, "Ini periksalah!" Richard menyerahkan benda mungil itu pada Ren. Yang langsung di tanggapi oleh pria muda usia dua puluhan itu.
Ren mengambil kamera tersebut dan mulai menyambungkan ke laptopnya. Mata semua orang berpusat pada layar laptop yang mulai menayangkan adegan dari mulai Nic memasuki Kasino tersebut hingga keluar kembali.
__ADS_1
"Benar Richard itu dia!" Pekik Shelia.
"Dia, pria tua itu? Memangnya siapa dia Dad?" Nic semaki dibuat penasaran dengan rahasia yang di sembunyikan Ayahnya itu.
"Dia adalah pamanku, yang berati dia adalah Kakek mu Nic." Penuturan Richard membuat Nic terperangah. Bagaimana bisa dia akan menikahi wanita bekas Kakeknya sendiri, oh good!
"Dia adalah Martin Nelson, adik dari Kakek kandungmu, yaitu Ayahku. Saat aku masih muda dulu dia begitu memanjakanku, Aku pikir dia menyangiku dengan tulus, nyatanya kasih sayangnya palsu. Dialah yang membunuh kedua orang tuaku, yang Ia rekayasa sebagai kecelakaan mobil." Nic tertegun mendengar penuturan Richard, Nic tak menyangka Ayahnya punya segudang rahasia yang tak Ia ketahui sama sekali.
"Langkah apa yang harus kita ambil sekarang Tuan?" Tanya Ken yang sedari tadi hanya diam.
"Tetap awasi gerak-gerik mereka dan laporkan padaku!"
"Aku juga mencurigai ada bisnis terlarang yang mereka lakukan secara diam-diam, mata-mataku menemukan ada sebuah pergerakan tak lazim yang terjadi di dermaga." Tutur Ken.
"Masalah ini semakin serius, agaknya pamanku ingin bergerak cepat sekarang." Richard tersenyum smirk.
"Nic tetaplah bersikap biasa pada wanita itu, jangan membuatnya mencurigaimu, dia harus tetap dalam pengawasan kita. Ren apa ada yang aneh dalam percakapan di ponselnya?"
"Tidak ada tuan, ini hanya percakapan biasa menyangkut pekerjaannya." Ren kembali memeriksa data di ponsel Cherry, dari mulai pesan singkat dan bekas-bekas panggilan ke nomor lain.
"Hem, ini aneh. Apa mungkin dia punya ponsel yang lain?"
"Kemungkinan besar begitu." Ujar Ren.
"Tapi aku tidak tahu dia punya ponsel lain, karena yang sering Ia bawa adalah ponsel yang ini." Ungkap Nic.
"Tidak papa Nak, petunjuk ini pun sudah lebih dari cukup untuk kita melanjutkan ke tahap berikutnya!"
__ADS_1