
"nama saya Riri nyonya" jawab Riri yang tak lain maid yang mengantarkan nya.
"baiklah, nama saya Naya bisa juga di panggil Aya terserah kamu mau panggil apa. senang bisa berkenalan dengan kamu" kata Naya sopan yang di tanggapi senyuman oleh maid itu.
Riri yang mengantarkan Naya itu pun semakin kagum dengan nya setelah melihat betapa ramahnya nyonya mudanya itu. dia juga tidak menyangka bahwa nyonya mudanya bisa serakah itu pada nya padahal dirinya hanya seorang pelayan.
"kalau begitu saya permisi kembali kebawah dulu nyonya kalau ada apa2 nyonya silahkan panggil kami" kata Riri yang pamit keluar kamarnya.
"iya, silahkan" jawab Naya.
Naya pun langsung mendekati tempat tidurnya, dia duduk dan melihat betapa besar kamarnya yang akan dia tempati tidak seperti kamarnya dulu.
"tak terbesit dalam pikiran ku, bahwa dia akan menjadi suaminya. kenapa harus aku?" gumam Naya sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur king size itu.
__ADS_1
sambil memejamkan matanya Naya membayangkan bagaimana kehidupan nya yang akan dijalani kedepan nya bersama Abi.
"kenapa semuanya harus seperti ini? apakah dia bisa menerima dan mencintai aku sebagai istrinya. tapi jika memang ini jalan yang kau pilih kan untuk ku aku akan jalani dan berikan kebahagiaan dalam pernikahan ini" bukan Naya lagi yang masih memejamkan matanya meratapi nasib nya kelak.
Abi kini telah berada dikamar miliknya. Abi langsung masuk ke kamar mandi dan melepas semua baju yang dia pakai untuk kekantor. namun di urungkan karna mood nya yang sedang tidak baik. dia mengguyur tubuhnya di bawah guyuruan shower.
"tuhan kenapa semua ini terjadi padaku. aku belum bisa mencintainya kenapa engkau malah membuatku untuk mencintainya, aku takut aku akan mempermainkan perasaan nya" gumam Abi yang mulai menitikan air mata di bawah guyuran shower itu.
Abi keluar dari kamar mandi menuju wardrobe miliknya. Abi kini mengenakan kaos putih polos dengan celana pendek berwarna hitam. kemudian berjalan menuju tempat tidurnya. meregangkan otot2 yang mulai kaku entah sudah beberapa hari dia tidak merasakan tempat yang nyaman untuk istirahat dan kini Abi mulai terlelap dalam tidurnya menuju alam mimpi nya.
hari sudah mulai malam, matahari pun sudah terbenam. salah satu maid mengetuk pintu kamar tuan mudanya.
"tuan, makan malam sudah siap" kata maid itu dari luar kamar.
__ADS_1
"baiklah aku akan segera turun" jawab Abi yang segera bangun dan turun dari tempat tidurnya.
sementara di tempat lain, Naya telah berada duluan di meja makan dan membantu para maid menyiapkan makan malam.
Abi pun turun menuju meja makan, sesaat pandangan nya tertuju pada Naya yang tengah menyiapkan makan malam. ada rasa tidak suka dan benci yang menyelimuti hati nya. perasaan yang tidak terima akan keadaan dan situasi yang terjadi saat ini.
Abi menarik kursi dan duduk di kursi itu. Abi membuka piring yang sudah ada di hadapan nya dan kemudian meletakan sendok dan garpu di atasnya. saat Naya ingin menjalankan tugasnya sebagai istri untuk melayani suaminya itu Abi langsung menepis tangan Naya.
"tidak perlu bertingkah layaknya istri jika sedang berdua bersamaku. pahamilah akan posisimu. kau hanya seorang pengganti hanyalah seorang pengganti selamanya pun akan seperti itu" kata Abi sinis lalu mengambil sendok nasi dan mengambil nya sendiri.
"deg" jantung Naya berdetak cepat bahkan lebih cepat dari normalnya. tubuhnya pun gemetar tapi Naya berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Naya pun tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
para maid yang berada disana pun masih tampak terkejut dengan apa yang di dengar nya bahwa tuan mudanya bisa seperti itu kepada istrinya sendiri. Abi yang terkesan dingin cuek dan irit dalam bicara itu sekalinya mengeluarkan suara begitu sangat menusuk perasaan orang lain.
__ADS_1