
Celin kini telah berada di dalam mansion milik Bian. Dia mulai berjalan menuju anak tangga. Bian yang sudah pulang duluan melihat kedatangan Naya masih dengan pakaian tadi pagi, bisa di simpulkan bahwa naya memang baru pulang.
"Dari mana anak kuliah dari pagi sampai jam segini baru pulang" teriak Bian dari ruang tamu sambil menatap Naya tajam.
"Degg... " seolah jantung Naya berhenti berdetak. Ia takut kalau Bian akan membentak nya lagi.
"Iya dari kuliah lah.. lagian apa peduli Om " jawab Naya.
"Kamu tanya apa peduliku? Ingat kamu itu sekarang adalah istriku. Jadi jaga sikap kamu jangan sampai membuat nama baik ku dan keluarga hancur dan jelek" bentak Bian.
"Ohh.. aku ini istri Om, jadi sekarang mau maini peran sebagai suami istri gitu" jawab Naya sinis namun sebenarnya ia takut menatap mata Bian.
"Arrrgggghhhh... ini yang bikin aku semakin nyesel buat nikah dengan kamu.. " bentak Bian.
Tanpa disadari Naya mulai meneteskan air matanya. Ketika Bian melontarkan kata-kata yang menurutnya kasar.
"Terserah Om saja mau nya gimana?" kata Naya kemudian ia berlari menuju kamar nya.
Sesampainya di dalam kamar Naya langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur dan menangis disana.
"Kenapa harus berbicara kasar sih, kan bisa kalau ngomong itu dengan baik-baik saja. Dan tidak perlu teriak-teriak aku juga masih bisa mendengarnya." kata Naya dengan pelan disela isak tangisnya.
__ADS_1
Sementara disisi lai Bian terlihat semakin melihat kelakuan Naa yang menurutnya semakin seenaknya saja.
"Itu anak mau nya apa sih? udah salah pulang malam dikasih tau tapi jawabnya pakai acara nyolot lagi." gumam Bian kesal.
***
Keesokkan hari nya seperti biasa Bian akan berangkat ke kantor begitu pula juga dengan Naya yang akan berangkat ke kampus. Tak ada acara saling tegur sapa satu sama lain. Suasana masih sama dan tak ada yang berubah tetap dingin.
Tak butuh lama Bian sudah berada di kantornya, dia langsung menuju ruangannya, tanpa menjawa sapaan para karyawan nya. Sesampainya di dalam ruangan nya ia langsung menyenderkan tubuhnya di kursi kebesaran nya.
Bian lalu mengambil bingkai fto yang ia simoan dilaci mejanya. Ya, itu adalah foto orang yang dia cintai.
Seharian ini Bian terus saja berkutik dengan pekerjaan kantornya. Banyak dokumen dan berkas yang harus dia tandatangni.
"Tok tok tok"
"Masuk " kata Bian dari dalam ruangan nya.
"Hay man" sahut seorang lelaki yang baru saja masuk dalam ruangan nya tak lain dan tabukan ialah Alif sahabat baik Bian.
"Tumben lo masuk pakai ngetuk pintu, biasanya l main masuk aja." kata Bian sambil melanjutkan pekerjaan nya
__ADS_1
"Ya gak apa sekali-kali bersikap sopan" jawab Alif asal.
Alif langsung berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu dan menyenderkan kepala nya di sana tanpa di persilahkan oleh pemilik ruangan.
"Oh ya Ian lo punya kan nomor Naya? gua minta dong" tnaya Alif.
Bian yang mendengar pertanyaan itu pun sedikit terkejut, Namun Bian tahu apa tujuan dari sahabatnya itu.
"Lo kenpa?baru denger gua ngomong gitu aja udah terkejut! apa jangan-jangan lo juga ada rasa ya sama dia?" tanya Alif dengan gelak tawanya yang menggelegar.
"Mana mungkin lah" jawab Bian gugup menyangkal ucapan Alif.
"Ya kan siapa tau gitu kan, lo berubah pikiran, leih memilih Naya daripada sang pujaan hati lo yang entah pergi kemana" kata Alif panajng lebar menjawab omngan Bian.
"Enggak kok, itu gak akan mungkin" jawab Biang singkatdan terus menyangkal.
"Terserah lo aja yang penting lo bantu gua buat deket sama Naya. gua tau dia udah punya pacar, tapi gak ada salahnya kan kalau gua deketin dia siapa tau aja berjodoh" kata Alif panjang lebar.
"Pacar?" sahut Bian terkejut dengan apa yang di ucapkan Alif.
"Heem iya, kemarin gua lihat dia keluar dari mobil laki-laki, kayaknya sih pacarnya" kata Alif menjelaskan.
__ADS_1