Om Itu Jodohku

Om Itu Jodohku
BAB 7


__ADS_3

Tanpa disadari mereka, banyak pasang mata yang melihatnya.


"Sya sudah yuk malu nih dilihatin banyak orang." menarik tangan Sya untuk segera pergi.


"Maka nya jalan tu pakai mata om!" ucapku setengah teriak dan meninggalkan tempat itu menuju mobil.


Keinginan makan dan rasa lapar Nay pun hilang begitu saja.


"Bukan nya mau makan tadi Nay?"


"Sudah hilang selera makan ku." ucapku cemberut.


"Maaf Nay habis orang tadi bukan nya minta maaf malah diam aja kayak patung." gumamku kesel.


"Lebih baik memaafkan sebelum orang meminta maaf ke kita Sya. Itu lebih baik sayang!"


"Kenapa hatimu sungguh baik Nay tapi orang2 pada jahat terhadapmu, selagi aku ada aku akan selalu jadi orang yang terdepan untukmu." batin Sya.


Mereka pun segera pergi meninggalkan tempat sial itu, di tengah perjalanan Nay meminta Sya untuk berhenti di sebuah kedai roti buat membeli roti untuk dirinya dan anak2 rumah singgah.

__ADS_1


"Eh, aku lupa membawa dompet nih.."


"Ah alasan aja kan kamu ini, minta ditraktir aku kan?"


Naya dan Sya langsung menoleh ke arah 2 orang pria yang nampaknya lebih tua 1 tahun dari mereka yang sedang bertengkar. Salah seseorang berwajah lokal dan satu lagi berwajah blasteran. Pria yang berwajah blasteran tersebut mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang seratus ribuan diantara lipatan uang yang menggembung karena penuh.


"Itu uang kamu banyak Le.."


"Kenapa kalau uang ku banyak? bukan nya kamu lebih banyak daripada aku?"


"Hehe tapi sekarang kan kamu yang bawa dompetnya sedangkan aku tidak."


"Ngapain?" tanya Yan.


"Ya kamu harus gantilah." jawabnya.


"Pelit banget sih kamu ini Le uang cuma seberapa juga gak bakal ngabisin harta kamu." ucap Yan kesel dan meninggalkan nya.


Tanpa Naya dan Sya sadari mereka tertawa kecil mendengar obrolan kedua cowok yang tidak mereka kenal. Dan membuat kedua pria itu menoleh kearah Naya dan Sya dengan wajah yang muram. Satu muram karna uang nya berkurang, sedangkan satunya muram karena menyesalkan pertemanannya dengan seseorang yang begitu perhitungan dengan uang.

__ADS_1


Setelah mendapatkan stuk belanja dari kasir mereka langsung berlalu dari hadapan Nay. Sekarang Nay berhadapan dengan mbak kasir yang sangat judes dan berwajah datar tanpa ekspresi.


"Seratus duapuluh lima ribu rupiah mbak."


Ucap mbak kasir dengan nada yang tak kalah datar dengan wajahnya. Dengan agak gugup Nay mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayarnya.


"Makasih mbak.." Ucapku.


"Sama2. Huhh!!" jawabnya dengan dengusan kasar.


"Judes banget mbak ini, lagi galau kali ya?" batin Nay.


Ia segera keluar dari cafe itu sebelum orang kasir itu membaca pikiran nya. Kata orang biasanya orang yang pendiam dan datar itu punya kemampuan membaca pikiran orang lain. Takut juga nanti pikiran aku di baca sama orang kasir itu.


Karna siang itu matahari tengah berada di puncaknya seakan mau memanggang setiap jengkal tubuh yang terkena sinarnya. Naya akhirnya menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi wajahnya, mencoba mengurangi teriknya sinar matahari siang itu. Sambil menunggu Sya yang meminta izin untuk ke toilet.


"Nih.. lumayan deh biar gak silau.."


Naya menengok siapa yang menyodorkan sebuah topi padanya. Rupanya salah satu cowok yang berantem dalam cafe tadi.

__ADS_1


"Ah,.. iya terimakasih.." ucap Naya sopan.


__ADS_2