
Mereka langsung memutuskan sambungan telvon.
Saat ini sudah menunjukan waktu pulang kantor. Biasa nya Bian akan lembur di kantor, taoi karna permintaan dari sang mama ia harus pulang cepat untuk bertemu dengan Naya dan membicarakan keinginan mama nya itu.
"Dimana Naya?" tanya Bian kepada salah satu maid itu.
"Maaf Tuan, Nyonya belum pulang." jawab salah satu maid itu kepada Bian.
"Apa dia biasa nya pulang malam?" tanya Bian lagi.
"Tidak Tuan, Nyonya biasa nya pulang tepat waktu Tuan. Hanya hari ini saja nyonya pulang terlambat." jawab Maid itu lagi.
"Pergi kemana dia? apa ada yang tau?" tanya Bian lagi.
"Kata nya nyonya akan main ke tempat teman nya Tuan." jawab maid itu dengan gemetar.
"Oh oke lah kalau begitu kalian bisa kembali bekerja." kata Bian sambil berlalu menuju kamar nya.
Tak berselang lama Naya pulang dengan menggunakan taxi dan berhenti di depan gerbang.
__ADS_1
Bian yang melihat Naya menggunakan taxi pun menjadi heran dan penasaran. Kenapa dia menggunakan taxi sedang kan di rumah banyak mobil dan supir untuk mengantar nya.
"Di rumah banyak supir dan mobil, kenapa dia malah memilih menggunakan taxi?" gumam Bian dalam hati nya.
Namun Bian terigat akan kata-kata Alif pernah mengata kan kalau Naya turun dari mobil seorang pria dan langsung memesan taxi.
"Oh jadi ini yang selama ini dia lakukan di belakang ku." kata Bian kesal sambil masih memandang ke bawah.
Bian pun segera keluar dari kamar untuk menemui Naya.
Naya yang baru akan menaiki tangga pun bertemu dengan Bian.
"Dari rumah teman Om, kenapa emang nya om?" balas Naya yang masih ramah untuk menanggapi pertanyaan yang di lontarkan oleh Bian.
"Jadi selama ini, yang kamu lakukan di belakang saya. Pulang dari kuliah tidak langsung pulang, malah keluyura. Atau kamu janjian samaa laki-laku lain?" bentak Bian sama Naya.
"Aduh.. bagaimana Om ini bisa tau." gumam Naya
"Enggak kok om. Kami hanya jalan-jalan habis ke rumah teman karna ada yang sakit." jawab Naya takut karna melihat wajah Bian yang datar.
__ADS_1
"Jadi benar kalau kamu pergi bersama dengan laki-laki lain Naya!" tanya Bian tegas.
Naya bingung harus menjawab apa, soal nya dia memang pergi bersama laki-laki.
"Iya sama laki-laki sih.. tapi kan cuma sebatas teman aja om gak lebih." jawab Naya tanpa melihat ke arah Bian.
Setelah menjawab pertanyaan Bian. Tanpa Naya tau satu tamparan melayang ke pipi mulus nya.
"Jangan membuat saya malu Naya. Ingat kamu sudah menikah dan punya suamu. Jangan selalu membuat ulah, saya tidak perduli dengan bagaimana pergaulan kamu di kampus, aku juga gak perduli berapa banyak kamu jalan atau dekat dengan laki-laki dulu. Tapi yang harus kamu harus ingat kamu sudah berubah status mu dari yang dulu nya single sekarang kamu sudah menikah dan punya suami. Sebelum kita berpisah saya harap kamu jangan banyak bertingkah Naya." bentak Bian sambil mencengkram dagu Naya kemudian melepaskan nya dengan keras.
Ketika Naya harus menerima tuduhan, hinaan dan fitnah dari Bian yang berstatus suami nya yang sama sekali tidak pernah dia lakukan.
Naya hanya bisa menangis saat kata-kata suami nya yang begitu menyakitkan hati nya itu.
"Om, kalau memang om gak suka dengan aku, aku gaka apa-apa tapi setidak nya jangan menuduh aku seperti itu aku gak terima om. Jangan pernah merendahkan atau menginjak harga diri ku om. Aku gak serendah itu sebagai seorang perempuan." kata Naya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulusnya itu.
"Hahaha... Gak ada maling yang mau ngaku Nay, kalau ngaku pun penjara bakal penuh." balas Bian dan kemudian pergi meninggalkan Naya sendiri tanpa memperdulikan bagaimana dan seperti apa perasaan hati Naya saat ini.
Yang ada sekarang dalam pikiran Bian hanya lah rasa jijik, dan benci pada Naya.
__ADS_1