
"Kamu kenapa Nay? apa yang Derren ucapkan?" tanya Sya.
"Sesak banget Allah.. pengen teriak rasanya. Ternyata ini alasan nya dia gak ada kabar selama ini. Kenapa aku bodoh banget, gak peka akan perubahan dia. Aku kira aku yang jahat akan meninggalkan dia, tapi malah sebaliknya." ucapnya sambil nangis.
"Naya sudah jangan nangis lagi. Mungkin ini yang terbaik buat kamu, Tuhan sudah tujukan siapa Derren sebenarnya. Aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari kesedihan mu." kata Sya memeluk Naya sedih karna merasakan apa yanv Naya rasakan.
"Tapi kenapa dia begitu jahat ke aku Sya?" tanyaku.
"Aku gak bisa jawab apa2 Nay. Daripada kamu sedih mending kamu cari tau dimana kak Ale sekarang supaya masalah mu cepet selesai." ucap Sya memeluk sahabat nya itu.
"Atau kita ke rumah singgah GAVA saja Nay. Sudah lama juga kita tidak kesan, pasti anak2 sudah sangat rindu kamu." ucapnya memberi ide yang bagus.
"Iya sih, sudah lama sekali aku tidak kesana. Aku akan siap2 dulu." berlalu ke kamar untuk bersiap2 sedangkan Sya duduk di ruang keluarga dengan memakan cemilan yang ia ambil sendiri.
Mereka pun berangkat ke rumah singgah GAVA yang didirikan Naya dan Sya sebagai asistennya secara diam2 tanpa ada yang mengetahuinya.
Kruk.. Kruk.. Suara perut Nay kedengaran dengan jelas. Ya soalnya Naya belum makan apa2 dari tadi pagi, bahkan sarapan yang dibuatkan bik Suri pun tak disentuhnya sama sekali. Karna mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang lapar, Sya memberhentikan mobil di sebuah cafe langganan nya, sebelum ke rumah singgah.
"Nay, aku tau kamu pasti belum makan kan?" tanya Sya yang melihat Nay yang tersenyum malu.
__ADS_1
"Hmm.. iya Sya tadi aku gak sarapan sama sekali. Setelah aku mendapat kabar itu.
"Ya sudah kita makan dulu baru kita ke rumah singgah." ucapnya memberhentikan mobilnya menuju cafe.
Bruk...
"Sial! siapa yang menabrak mobilku! gak punya mata apa tuh supir, sampai nabrak? jalan tuh pakai mata jangan pakai dengkul dong!" gumam ku kesel keluar melihat mobilnya meninggalkan Naya di dalam mobil.
"Kenapa Sya? siapa yang nabrak? coba lihat dulu." tanyaku pada Sya sebelum keluar mobil.
Baru saja keluar mobil, seorang pria tampan sudah menunggu di belakang mobil Sya, tak lain dia Satria asisten dari Abian.
Satria hanya diam melihat Sya yang marah2 dan tersenyum melihat tingkah Sya yang menurutnya lucu.
"OMG! ini beneran orang apa boneka, bukan menjawab malah memandangi ku sambil tersenyum!" batinnya tambah kesel melihat orang yang menabrak malah tersenyum melihatnya.
"Tapi kalau di lihat2 ini orang ganteng banget ya, mana putih lagi orangnya." ucapku dan tanpa sengaja terdengar oleh Satria.
"Sudah memandangi saya Nona?" tanya nya melambaikan tangan di depan muka ku.
__ADS_1
"Eh.. hmm siapa juga yang memandangi anda!" ucapku gugup soalnya ketahuan memandangi nya.
Karna terlalu lama dan tak kunjung kembali, Abian tampak kesel dengan Satria yang lama sekali.
"Apakah masih lama Sat?" tanya Abian berjalan mendekati Satria.
"Eh.. tidak tuan, maaf sudah membuat anda menunggu lama." jawabnya membungkukan badan.
"Cepat selesaikan karna kita tidak punya banyak waktu sekarang." ucapnya meninggalkan Satria dan Sya dan kembali ke mobil.
Tak lama Naya juga turun dari mobil melihat keadaan sahabatnya yang tak kunjung selesai.
"Sya sudah yuk malu di lihatin orang banyak ini." ucap nya menarik tangan mengajak Sya pergi.
"Nay, ini belum selesai urusan nya." jawab Sya.
"Sudah ikhlaskan saja, mungkin kita lagi sial." ucap Naya.
"Dan untuk anda tuan tolong berhati2 lagi dalam berkendara. Saya dan temen saya tidak meminta ganti rugi, anggap masalah ini selesai sampai disini. Terima kasih dan selamat siang." ucap Naya panjang lebar dan pergi meninggalkan Satria yang mematung.
__ADS_1