
Naya berjalan keluar ruangan di ikuti oleh yang lain hari ini hari yang sangat melelahkan.
Naya bingung kenapa ia bisa memiliki teman seperti mereka yang tingkahnya sangat absurd semua. Naya menuju taman dan di ikuti 3 teman nya untuk duduk.
"Kamu kenapa Nay, muka kamu bisa di tekuk gitu?" tanya Raya pura-pura tidak peka.
"Gak apa kok" jawab Naya lesu.
"Beneran apa Nay? Apa karna tadi kami gak bantuin kamu cari jawaban nya" jawab Vera.
"Gak kok, beneran tidak apa. Cuma ada sedikit masalah aja" jawab Naya.
"Aku minta maaf ya Nay, aku gak bantuin kamu tadi" kata Esya
"Terserah kalian deh, aku lapar mau makan" ucap Naya sambil beranjak meninggalkan ke tiga temen nya menuju kantin.
__ADS_1
"Ehh Nay tunggu kami ikut" ucap mereka seremapk sambil berlari mengejar Naya.
Sedangkan di kantor Bian sedang sibuk di depan laptop nya mengerjakan pekerjaan kantor yang sudah sangat menumpuk.
"Ian, ini berkas proyek kita yang di papua dan ini berkas kerjasama kita dengan perusahaan DC" ucap Ar menaruh berkat itu di atas meja dan langsung duduk di depan Bian yang masih saja fokus pada laptopnya.
"Taruh saja, nanti aku baca setelah selesai aku menandatangin dan memeriksa berkas ini. Sekarang tidak sempat" jawab Bian tanpa mengalihkan pandangan nya itu.
"Hey, kamu ini baru saja menikah, seharusnya kamu itu masih bersantai di rumah bersama istri kecil mu itu bukan nya malah duduk disini" ucap Ar sambil geleng-geleng kepala.
"Pekerjaan mu tidak akan selesai Ian meski kamu kerjakan seharian bahkan malah akan datang kepadamu" ucap Ar.
Dia memilih untuk bekerja daripada menghabiskan waktu bersama istri nya Ar benar-benar tidak mengerti pola pikir sahabatnya itu.
"Bagaimana kemarin, apa kamu sudah melakukan nya?" tnya Ar pada sahabat nya itu sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
Bian langsung menghentikan pekerjaan nya dan tersenyum kepada sahabatnya itu.
"Apa kamu sudah gila Ar. Bagaimana mungkin aku melakukan nya dengan gadis itu. Aku saja tidak menyukai nya dan lagi pula ia masih kuliah itu akan sangat menyusahkan ku" ucap Bian sambil tersenyum sendiri bila mengingat gadis itu.
"Oh ayolah Ian, jangan membohongi ku aku tau kalau kamu sudah mulai menyukai nya" ucap Ar.
"Tidak Ar. Ayolah jangan bersikap konyol seperti itu. Kenapa aku harus menyukai nya yang menurut ku tidak ada apa-apa nya. Jika aku mau, aku bisa saja mencari dan memilih gadis manapun yang lebih cantik dari dirinya" balas Bian.
"Iya aku tau itu. Tapi apa kamu tidak menyadari hanya dia yang bisa membuat seorang Alexander Abian Martadinata Presdir yang terkenal kejam, dingin, dan di takuti oleh orang dari dunia bawah ini senyum-senyum sendiri" ucap Ar yang mengingatkan Bagian dengan kelakuan yang aneh dari dirinya.
Sejenak Bian terdiam mendengarkan kata-kata yang Ar ucapkan padanya. Ar memang benar hanya mengingat nya saja aku bisa tersenyum sendiri.
"Entahlah Ar aku juga tidak tau kenapa. Kamu kan tau sendiri aku tidak pernah memikirkan hal tentang wanita dan percintaan selama ini. Aku tidak ada waktu untuk itu" ucap Bian.
"Sekarang bagaimana, apakah semua yang terjadi ini tidak penting bagimu. Apakah kaku akan berubah pikiran Ian?" tanya Ar lagi.
__ADS_1