
"Kau telat lima belas menit!" suara itu seakan mengintimidasi Aqila yang masih berdiri mematung ditempatnya.
Perempuan itu seolah-olah sudah terlalu jengah dan muak melihat wajah Dirga. Kebencian yang mungkin sudah mendarah daging didalam dirinya, membuat Aqila menatap tanpa adanya ekspresi alias datar. Dan kini Dirga sudah berdiri tepat didepan Aqila.
Matanya melirik kearah paper bag itu, lalu meraihnya untuk mengambil makanan yang tersimpan didalam.
Boks makanan yang tertata rapih, juga lengkap sudah terpampang didepannya, masih dengan posisi berdiri Dirga mengambil garpu dan mencicipi makanan tersebut.
Tapi entah pa yang terjadi, ekspresi Dirga setelah mencicipi makanan tersebut berubah menjadi aneh lalu melepehkannya dilembaran tisu. "Makanan apa ini, hah! rasanya sudah tidak enak. Aku tidak akan memakannya!" Dirga meletakan makanan itu diatas meja dengan sediit membantingnya.
"Tidak enak? tapi, ah! coba-" baru saja Aqila akan mengambil boks makanan itu, tangannya dicekal Dirga.
"Kubilang tidak enak, ya berarti tidak enak! bawakan yang baru! yang masih hangat!" bentak Dirga dan lagi-lagi ekspresi Aqila membuat Dirga gagal fokus, karena gadis itu hanya diam dengan raut wajah yang datar.
"Baik, saya akan bawakan yang baru." Tanpa berpamitan, Aqila berlalu pergi dari ruangan Dirga.
Di lift, Aqila menghubungi Fikri, mempertanyakan mobil yang tadi mogok, tapi syukurlah karena mobil bok itu ternyata sudah diperbaiki. "Bos besar meminta makanan baru, tolong kabari Tuan Riko, siapkan makanannya dan tolong bawa kesini ya, aku tunggu ya kak, maaf merepotkan."
Driver yang bernma Fikri itu mengiya'kan dan menyanggup'kan-nya. Selagi menunggu Fikri datang, Aqila duduk-duduk depan depan gedung untuk sekedar mengistirahatkan kakinya yang pegal. Menunggu sekitar 20 menit akhirnya Fikri pun kembali membawakan makanan pesanan Aqila.
"Aku naik keatas dulu ya, kak." Fikri mengangguk lalu menjawab, "Semangat ya Qil, demi masa depan yang cerah!" ucap Fikri mengusap kepala Aqila untuk sekedar menyemangatinya yang dia tahu kalau Aqila sudah kelelahan.
'Masa depan? bahkan masa depan ku sudah hancur, kak.' batin Aqila.
"Terima kasih, kak. Aku keatas dulu." Aqila pun pergi kembali kedalam gadung pencakar langit itu.
Dari sebuah jendela raksasa ada sepasang mata yang menatap tajam kearah keduanya, bahkan ia melihat adegan dimana Fikri memngusap kepala Aqila.
__ADS_1
Aqila menekan tombol 20 disamping pintu lift, yang akan membawanya kembali kerungan Dirga.
Pintu kembali diketuk Aqila dan masuk setelah Dirga menyahutinya. "Permisi Tuan, ini, sudah saya bawakan kembali makanan yang berbeda, masih hangat sesuai permintaan Anda." Aqila meletakan itu didepan Dirga yang sedang duduk menyilangkan kakinya di sofa.
Dirga pun melirik makanan tersebut, dan betapa kesalnya Aqila, tanpa dilihat ataupun dicicipi lagi, Dirga menolak itu dengan tingkah yang menyebalkan menurut Aqila. "Aku tidak mau! kau bawa itu kembali, sudah ku katakan bukan, aku tidak mau makanan itu!"
"Tapi Tuan, tadi Anda meminta makanan yang hangat karena sebelumnya tidak enak," tampis Aqila yang sudah mulai kesal.
"Ya 'kan aku bilang, aku tidak mau makan, makanan itu tidak enak, karena tidak hangat. Itu berarti aku meminta makanan yang berbeda bukan menu yang sama!" Aqila menhela nafsanya dengan panjang, ia benar-benar muak dengan sikap semena-mena manusia itu.
"Sekarag Anda bisa katakan, apa yang Anda inginkan, agar saya tidak salah mengantarkan makanan lagi,'' ucap Aqila dengan sisa kesabarannya.
"Steak dengan tingkat kematangan medium red."
"Baik, itu saja?" Dirga mengangguk dan Aqila kembali pergi.
"Sudah, ayo!" seru Fikri yang berdiri dari duduknya ketika melihat Aqila yang datang.
"Kak maaf, makanannya salah lagi, ternyata si Bos meminta makanan dari menu lain, sekarang dia menginginkan Steak dengan tingkat kematangan Medium Red." Terdengar suara helaan napas dari Fikri yang juga mulai kesal dengan kemauan Bosnya itu. Tapi dia bisa apa? protes pun salah.
"Ya sudah, kamu tunggu disini aja seperti tadi, aku yang ambil pesanan itu, oke?" Aqila mengangguk.
Ya semua karyawan di restoran sangat menyayangi Aqila, layaknya seperti pada adiknya sendiri. Karena memang Aqila yang paling muda disana, yang bahkan pekerjaannya yang paling lelah, selain karyawan magang, Aqila juga kerap mengerjakan apapun sesuai perintah atasan, yang tidak hanya satu profesi saja.
Mungkin kalau bukan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan, Aqila tidak akan memeras tenaganya sendiri seperti ini. Tapi ia sangat ingin melanjutkan pendidikan-nya agar bisa mendapatkan hidup yang layak dikemudian hari. Itu tekat Aqila.
Dua puluh menit berlalu, Aqila akhirnya bisa menghela nafsanya lega karena melihat Fikri yang sudah kembali namun dengan sepeda motor bukan mobil yang tadi ia pakai. "Kak!"
__ADS_1
"Ini, cepat antarkan. Sudah terlalu sore, kamu belum makan juga 'kan?" Fikri menyentuh lengan Aqila lalu memberikan paper bag.
"Iya, sebentar ka." Aqila pun berlalu pergi, untuk kembali kedalam menemui Bos besar disana. Dengan bidak berlari yang pastinya waktu untuk ke ruangan Dirga terlalu lama seperti sebelumnya.
Entah karena lupa mengetuk atau memang dia yang sudah merasa kesal, Aqila membuka pintu ruangan Dirga begitu begitu saja. Dan Aqila malah mendengar Dirga tengah bicara dengan seseorang ditelponnya.
"Pecat driver itu, dia sudah melakukan kesalahan yang berulang."
"Entah siapa namanya, yang pasti driver yang mengantarkan makanan untukku."
"Tuan?" panggil Aqila yang sudah berdiri disamping sofa.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" Dirga menutup telponnya dan berbalik menghadap Aqila.
"Sebenarnya apa yang Anda inginkan?"
"Apa maksud mu?"
"Tuan kenapa memecat Kak Fikri, yang sebelumnya Anda telah memecat Tuan Beni uga? mereka salah apa pada Anda?"
"Bukan urusan kamu, berikan itu!"
Dirga mengambil paper bag yang ada ditangan Aqila lalu membukanya untuk dimakan. Aqila tetap berdiri dengan menatapnya tajam, seraya berkata, "Anda benar-benar keterlaluan!" Aqila akan berlalu dan membuka pintu tapi saat ia akan membuka pintu, pintu itu malah tidak bisa dibuka seakan-akan ada yang menguncinya dari luar.
"Kenapa tidak bisa dibuka?" ucap Aqila pelan dengan terus berusaha membuka pintu itiu.
"Pintu itu sudah dikunci!" ucap Dirga tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Aqila berbalik dan ternyata Dirga sudah berada di belakannya.