One Night One Billion

One Night One Billion
Bab 35 - Status Sosial


__ADS_3

Aqila tertunduk dengan rasa tidak enak pada Jeny, yang sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, dan diapun sudah menganggapnya sebagai seorang kakak.


Jeny mengusap wajahnya kasar, ia tidak menyangka dengan apa yang dia dengar, jadi selama ini pria yang pernah Aqila ceritakan yang sudah menodainya ternyata adalah bosnya sendiri. Dan sekarang Aqila sedang dengan keadaan mengandung.


Entah dia akan mengucapkan selamat atau bagaimana pada Aqila. Karena di sisi lain dia merasa senang karena adik angkatnya ini sudah terikat penuh dengan seorang pria yang kaya raya, sehingga kehidupan Aqila yang menyedihkan mungkin saja akan berubah lebih baik.


Namun, di sisi lain dia merasa sedikit takut, takut Aqila disia-siakan setelah nanti melahirkan anak dari pria itu, seperti drama-drama yang ia tonton.


Tapi melihat keadaan Aqila saat ini, yang cukup terlihat terawat dan sehat dalam beberapa hari ini, yang besar kemungkinan Aqila akan dijaga baik-baik nantinya.


''Aqila, aku tenang karena ternyata Pria itu adalah Tuan Dirga, tapi bagaimana keluarganya, apa mereka menyetujui hubungan kalian?''


Pertanyaan Jeny membuat Aqila termenung, iya bahkan melupakan bagaimana tanggapan keluarga dari Dirga yang akan menikahinya. Apa mereka akan setuju ataupun tidak, Aqila hanya pasrah.


Karena orang kaya kebanyakan akan memandang status sosial dari seorang pasangan untuk anaknya. Sedangkan dirinya, hanyalah sebuah gadis pencuci piring dan anak yatim piatu. Dibandingkan dengan Dirga, yang siapapun tahu kalau dia adalah pemilik perusahaan besar dan restoran yang cukup terkenal tempat ia bekerja.


Menyadari ke perubahan wajah Aqila, Jenny pun segera memberikan usapan untuk Aqila agar adiknya itu bisa tenang.


''Maafkan aku Aqila aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi aku harap mereka akan menerimamu dengan baik.''


Aqila tersenyum teduh, dia tahu Jeny berkata seperti itu hanya untuk membuat dirinya bisa sedikit lebih tenang, tapi hatinya tidak bisa dibohongi kalau ada rasa kecemasan tersendiri di sana.


Tangannya mengusap secara spontan perut ratanya. Andai saja ia tidak sedang mengandung, mungkin saja dia tidak akan merasa cemas seperti ini. Tapi mengingat nantinya ia akan melahirkan, anak itupun harus memiliki seorang ayah.


''Tuhan, aku percaya atas kehendak mu.'' Gumam Aqila dalam hatinya.


Matahari sudah meninggi. Negara Indonesia yang cukup tropis membuat Dirga sedikit tidak terbiasa. Di jam tujuh pagi, ia merasa matahari sudah terik, sangat berbeda di negara tempat ia tinggal 4 tahun ini.

__ADS_1


Ya, saat ini Dirga tengah jalan santai di taman komplek, sembari melihat-lihat karena memang sudah lama ia meninggalkan negaranya.


Haahhh! Dirga duduk di kursi taman dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Tangannya sibuk memainkan ponselnya, mengetikkan sebuah pesan yang ia kirimkan entah pada siapa.


Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan sebuah botol minuman padanya, dan tanpa melihatnya, ia menerimanya begitu saja.


''Terima kasih.'' Dirga sudah akan membuka tutup botol itu, tetapi ia baru menyadari siapa yang telah memberikan itu padanya.


Dirga menoleh pada seorang wanita yang berdiri di samping kursi, wanita cantik yang tersenyum kearahnya.


''Villia?''


''Hay Bi, apa kabar?''


Wanita bernama Villia itu duduk disisi lain kursi. Dan Dirga menggeser posisi duduknya hingga sampai sudut kursi.


''Bi tunggu!''


Dirga menoleh, menatap tangan lentik itu yang seketika ditariknya lagi karena tatapan tajam mata Dirga.


''Maaf,'' lirih Villia.


Villia berdiri, dan melangka sampai kehadapan Dirga yang membelakanginya.


''Bi—''


''Bima, atau Dirga!'' tegas Dirga yamg seperti tidak menyukai dengan panggilan itu dari Villia.

__ADS_1


''Tapi dulu—''


''Oh oke, Dirga!'' lanjutnya karena Dirga yang sudah bersiap pergi.


''Aku ingin bicara,'' ucapnya lagi dengan pelan. Namun, Dirga tetap bungkam dan tanpa ingin menoleh kearahnya.


''Aku tidak jadi menikah waktu itu.'' Villia mengangkat pandangannya, ia menatap wajah Dirga yang terlihat semakin tampan dari sebelumnya. Tapi sayang, Dirga tidak sama sekali menatapnya.


''Maafkan aku, Dirga.''


Dirga menghela nafasnya pelan, dan melihat ke manik mata Villia, ia melihat sebuah penyesalan ya g teramat dalam pada wanita itu, tapi sungguh! hatinya tidak sama sekali terketuk untuk peduli.


''Sudahlah Vill, masa lalu biarlah berlalu. Jangan pernah ungkit itu lagi. Aku sudah memaafkan mu jauh dari sejak kita berpisah. Fokuslah menata kehidupanmu, aku pamit.''


Dirga melangkah pergi setelah meletakkan botol minuman yang diberikan Villia ke kursi taman tanpa meminumnya.


Villia, wanita masa lalu Dirga. Kata lain, mantan kekasih Dirga dimasa kuliah dulu. Mereka menjalin hubungan dengan sangat baik sebelum Villia dijodohkan orang tuanya pada orang lain dan mengharuskan berpisah pada Dirga.


Orang tua Villia adalah pengusaha sukses se-Indonesia. Orangtuanya hanya ingin anaknya mendapatkan suami yang jelas status sosialnya. Karena waktu itu yang mereka tahu, Dirga hanyalah pemuda yang hanya senang foya-foya bahkan terlihat seperti berandalan, sehingga mereka tidak tahu siapa Dirga sebenarnya.


Dirga melangkah meninggalkan taman tersebut. Ponselnya bergetar dan masuklah pesan singkat atas balasan pesan dia.


'Aku sudah minum susu kok!'


Bibir Dirga tersenyum membaca pesan balasan itu. Dan jarinya kian mengetikkan sesuatu lagi untuk membalasnya.


''Bi, kenapa kamu berubah,'' gumam Villia dengan terus menatap kepergian Dirga yang semakin jauh dari pandangannya.

__ADS_1


TBC>>>>>>


__ADS_2