
Setelah mereka menghadiri acara pernikahan Bianca dengan seorang pengusaha yang cukup sukses dikalangan bisnis. Dirga dan Aqila tidak langsung pulang. Dirga membelokkan kemudi mobilnya ke arah sebuah dam pantai.
Tidak ada protes dati bibir mungil Aqila, karena dia pun tidak keberatan. Dirga turun lebih dulu lalu duduk di kap mobil. Dan Aqila, ia malah menurunkan kaca lalu mengeluarkan kepalanya dan bertumpu diatas lengannya yang dilipat.
Menikmati hembusan angin laut dimalam hari, tentu membuat semua insan merasa tenang. Begitu juga kedua orang itu.
Dirga yang duduk dengan kedua tangannya yang bertumpu sedikit kebelakang, tengah asik dengan gemelut pikirannya, yang entah kenapa tiba-tiba nama Leon melintas begitu saja.
Ya sampai saat ini pun ia masih tidak menyangka kalau orang yang ia anggap sudah seperti saudara laki-laki nya sendiri, malah memiliki perasaan yang menyimpang padanya. Dan dia juga yang selama ini terus meneror dengan keji pada Aqila yang bahkan tidak tahu apa-apa.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, Leon pun sudah tewas ditangannya. Dan itu juga karena perbuatannya sendiri yang harus menerima akibatnya.
Sedangkan Aqila, ia malah terpejam, bukan tertidur. Ia hanya sedang menikmati hembusan angin laut yang sangat khas itu.
Tuk Tuk
Aqila terjingkat karena suara ketukan dari kaca depan dari Dirga. Aqila mengangkat kepalanya lalu menaikan kedua alisnya, Dirga menggedikkan kepalanya meminta dia agar keluar dari mobil.
Aqila sudah bersiap untuk keluar, tapi sejenak ia urungkan karena ingin melepaskan hils-nya terlebih dahulu. Lalu kemudian ia pun keluar untuk menghampiri Dirga yang memanggilnya tadi.
Dirga menepuk pelan kap yang ada di sisinya, meminta Aqila agar duduk disebelahnya.
Aqila terdiam, matanya melihat tingginya mobil dengan dress yang ia kenakan, lalu menggelengkan kepalanya samar. Aqila malah hanya bersandar dengan posisinya yang berdiri dengan bersandar membelakangi Dirga.
Dirga menyadari apa yang dipikirkan Aqila dan tanpa aba-aba, Dirga malah mengangkat tubuh Aqila dari sela kedua lengannya.
__ADS_1
Hap!
Aqila tersentak karena terkejut, tubuhnya melayang dan tiba-tiba berpindah keatas mobil, dan itu adalah ulah Dirga yang saat ini berdiri didepannya.
''Tuan.'' Aqila bergumam karena takut jatuh.
Dirga tersenyum. Mata mereka bertemu tatap cukup lama, sungguh, Dirga sangat ingin memuji gadis itu dengan lantang. Namun, gengsinya terlalu besar untuk itu.
Aqila melihat kearah lain, memutus pandangan mereka karena jantungnya kembali terpompa cepat dikala tatapan itu kembali terkunci.
Dirga pun duduk disebelah Aqila. Mereka memandangi hamparan pasir dan air laut yang berombak. ''Indah bukan?''
''He'eum..'' sahut Aqila.
''Lusa saya akan mengunjungi orang tua saya.''
''Saya harap kamu bisa menjaga diri kamu, dan anak kita.''
Aqila kembali menoleh. Sungguh, apa yang Dirga katakan mengusik hatinya, terlebih lagi Dirga mengatakan kata 'anak kita'.
Benarkah yang ia dengar. Apa benar Dirgantara mengakui janin yang ia kandung sebagai anaknya. Ia harap itu bukan hanya sekedar ucapan.
''Lama kah?'' Aqila merutuki pertanyaan yang ia lontarkan itu. Dan saat ini pipinya tengah memerah seperti kepiting rebus, ia malu.
Dirga tertawa sejenak, ia merasa lucu dengan Aqila yang malu dengan pertanyaannya sendiri. ''Kenapa? apa kamu akan merindukan saya?''
__ADS_1
Aqila menggeleng cepat. ''Bukan, bukan seperti itu!''
''Kau lucu sekali.'' Dirga mengacak rambut Aqila yang tertata rapih itu, dan sekarang malah berantakan karenanya.
''Saya pulang untuk meminta restunya, untuk menikahi mu.'' Aqila dibuat tersentak lagi. Sekarang ia merasa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dadanya.
''Meminta restu?''
''Iya. Dan saya juga merindukannya, sudah lama juga saya tidak mengunjunginya.'' Dirga menatap jauh kedepan. Karena benar apa yang dia katakan.
Sudah 4 tahun dia meninggalkan negara asalnya, dan juga orang tua tunggalnya, sang Ibu. Dia juga merindukan sang adik, adik perempuannya. Juga keponakannya yang sudah berusia hampir 4 tahun, dan selama ini ia hanya bisa memantaunya dari jarak jauh.
Beberapa waktu ini, mereka memang terus bersama. Sehingga membuat Aqila sedikit tidak rela ketika Dirga mengatakan ingin pergi.
Maka disinilah Dirga sekarang, di airport Heathrow. Pagi-pagi sekali Dirga sudah berada di sana, karena jadwal penerbangannya tepat di jam 07:30.
Bahkan Dirga pun tidak sempat berpamitan langsung pada Aqila yang ia tinggal dengan keadaan masih tertidur di kamarnya.
Dirga hanya meninggalkan secarik kertas di bawah piring sarapan Aqila. ''Aku pamit ya, jaga dirimu baik-baik,'' ucap Dirga seraya mengecup kening Aqila sebelum pergi ke bandara.
Entah kenapa Dirga merasa sangat berat meninggalkan Aqila. Dan sebenarnya dia juga sangat ingin mengajak nya untuk menemui langsung dan meminta restu pada ibunya, tapi dokter kandungan mengatakan kalau Aqila belum boleh melakukan perjalanan jauh terlebih lagi menggunakan pesawat.
Iya, Dirga sudah lebih dulu melakukan sesi tanya pada dokter Lita. Perihal boleh atau tidaknya Aqila melakukan perjalanan jauh. Dan dengan berat hati Dirga tidak mengajak sekalian Aqila demi kesehatan keduanya.
Tapi Dirga sudah menugaskan para anak buahnya untuk menjaga Aqila, mengawasi keselamatannya walaupun memang dari jarak jauh. Karena pasti Aqila akan keberatan jika harus terus dikawal.
__ADS_1
''Semoga mereka bisa di andalkan,'' gumam Dirga sebelum ia terpejam di kursi nyaman pesawat.
TBC>>>>>