One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 34 - Tentang Rasa


__ADS_3

''Aku akan menikahi-nya.''


Semua orang menatap Dirga dengan ekspresi wajah terkejut. Kecuali Elvano yang memang sudah tahu.


''Kakak akan menikah? itu berarti aku akan memiliki saudara perempuan, wah senangnya!'' seru Alisha yang memeluk erat Alvino, anaknya.


''Mama, paman itu apa paman Bima?'' tanya Alvino dengan berbisik pada ibunya, Alisha.


''Ya sayang, itu Paman Bima. Paman yang selalu memberikan hadiah untukmu.''


Dirga yang mendengar namanya tengah menjadi topik obrolan antara anak dan ibu itu, menoleh dan tersenyum dengan lembut. Lalu kembali menatap lekat sang Mama yang masih syok karena apa yang dia katakan.


''Mam?''


Lusi menggeleng cepat, bukan menggeleng karena menolak, melainkan menggeleng karena menyadarkan diri dari lamunannya.


''Ah ya, nak?''


''Mama mau memberikan restu, 'kan?''


Lusi tersenyum, mengusap lembut lengan kekar Dirga, anak sulungnya.


''Jika kau memang menyukainya, dan memang itu pilihan mu, bawalah dia kesini. Mama mau bertemu dengannya.''


Dirga terdiam, ia tiba-tiba dilema karena mendengar penuturan sang Mama. 'jika kau memang menyukainya'. Apa dia menyukai Aqila? entahlah Dirga pun tidak mengerti. Tapi keinginannya untuk menikahi Aqila sangatlah besar terlebih lagi gadis itu tengah mengandung anaknya.


Maka disinilah Dirga berada sekarang, di kamarnya yang sudah lama ia tinggal. Merenung seorang diri, memikirkan apa yang sang Mama katakan padanya.


Andai ada yang bertanya tentang perasaannya pada Aqila, maka dengan lugas dia akan menjawab 'Tidak tahu!' karena memang dia sendiri masih bingung dengan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


Dia sendiri pun tidak tahu isi hati seorang Aqila padanya, dan apakah Aqila setuju dengan sepenuh hati kalau ia akan menikahinya.


Cinta? persetan dengan itu semua, karena cinta dan sayang akan hadir karena terbiasa bersama bukan? itu yang Dirga coba yakini pada dirinya.


Setelah membersihkan diri, Dirga merebahkan tubuhnya diatas kasur yang sangat ia rindukan itu. Kamar yang tidak ada perubahan sama sekali sejak 4 tahun lalu. Masih sama dan masih seperti semula.


Kedua lengannya ia lipat dan dijadikannya sebagai bantalan kepala. Matanya menatap langit-langit kamar, dan entah kenapa tiba-tiba ia teringat Aqila.


''Apa dia sudah meminum vitaminnya?'' gumamnya yang kemudian meraih handphone-nya.


'Pastikan dia meminum vitamin dan susunya!'


Dirga mengirimkan pesan kepada orang ya g ia sewa untuk menjaga Aqila selama ia tidak ada.


Tring!


Dibelahan dunia sana, Aqila yang sedang berjalan kaki menuju satu rumah yang sebelumnya memang tempat tinggalnya, dengan ditemani seorang wanita yang memang ditugaskan untuk menemaninya. Dari belakang dipanggil oleh seseorang.


''Qila!!''


Sebelum Aqila menoleh, wanita bernama Lelia ini dengan spontan berdiri didepan Aqila, sehingga menghalangi Aqila untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Ya dia adalah Jeni. Jeni terheran-heran dengan sikap wanita asing yang seperti sedang menghalangi Aqila untuk bertemu dengannya.


''Heh! kau siapa?'' tanya Jeni kesal.


''Maaf, apa ada keperluan pada Nona saya?''


Jeni menggaruk kepalanya bingung. Aqila yang menggeser posisi hanya bisa tersenyum memamerkan deretan giginya karena dia juga bingung harus memulai bercerita dari mana.

__ADS_1


''Nona Lelia, dia kakak ku,'' bisik Aqila dan dengan sigap Lelia menyingkir memberikan ruang untuk mereka.


''Maaf Nona.'' Lelia membungkuk sesal karena salah paham.


Jeni melangkah mendekat pada Aqila yang sudah beberapa hari ini tidak pulang kerumah. Jeni menatap Aqila dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Karena memang penampilan terakhir kali Aqila meninggalkan rumah sangat jauh berbeda dengan yang saat ini ia lihat.


Pakaian Aqila terlihat mahal, walaupun memang ia pakai dengan sederhana. Namun nilai mahal dari baju yang ia pakai tidak hilang karena kesederhanaannya.


''Aqila, dia siapa? dan ini baju siapa?'' Jari Jeni menyentuh tekstur lembut pakaian yang Aqila pakai.


''Maaf Nona, mohon jaga sikap Anda!''


Jeni mengernyit kesal, karena tiba-tiba wanita yang tidak ia kenal itu menepis tangannya.


''Nona Lelia.''


''Maaf Nona.''


''Aqila! dia siapa sih!?'' kesal Jeni yang masih menatap tajam Aqila.


''Dia—. Emmm..., ceritanya panjang kak, ayo!'' Aqila menarik tangan Jeni yang masih saja menatap kesal pada Lelia yang saat ini masih membuntut dari belakang dengan raut wajah yang datar.


Setelah Jeni membuka pintu yang dikunci, merekapun masuk kedalam dan duduk di karpet ruang tv. Aqila terdiam sejenak memikirkan dari mana ia memulai untuk bercerita.


''Tunggu! Aqila sepertinya tubuh mu sedikit berisi?'' Jeni memperhatikan Aqila yang duduk bersila itu.


Aqila menghela nafasnya. Menyiapkan diri untuk bercerita yang sebenarnya pada Jeni. Tentang siapa laki-laki yang meniduri Aqila, yang pernah ia ceritakan pada Jeni dahulu, namun ia belum sepenuhnya jujur kalau laki-laki itu adalah bos mereka, pemilik restoran tempat mereka bekerja.


''Apa?!!'' Jeni menutup mulutnya, ia terkejut bukan main. Setelah mendengar semua cerita Aqila.

__ADS_1


__ADS_2