
Aqila melihat kearah pintu kamar mandi, tempat Jeni menghilang karena pergi mandi. Ia pun segera beranjak dari kursinya dan berjalan agak cepat kekamar lalu menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.
Dadanya bergemuruh layaknya habis berlari sejauh lima puluh kilo meter, air matanya terus jatuh saat ia kembali melihat lembaran-lembaran poto menjijikan itu, dimana poto itu diambil secara diam-diam pada saat dia sedang berada di bawah tubuh seorang pria, yang dia tahu kalau pria itu adalah Dirga, yang wajahnya di blur.
Dan bahkan dia sendiri tidak ingat kejadian itu, tapi melihat poto itu, jelas tergambar kalau saat itu dia menikmati malam itu, bahka terlihat jelas wajahnya yang menikmati hantaman Dirga. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka lembaran surat itu yang bukan ditulis menggunakan tangan melainkan dari sebuah mesin tik.
'Terkejut kau! kau belaga menjadi korban! tapi kau sendiri menikmati malam itu, apa bedanya kau dengan seorang jallang! menjijikan! aku akan menghancurkan mu dan memnghancurkan Dirga, aku memiliki bukti yang lainnya! dalam sejekap aku bisa meratakan bisnis Dirga yang sudah bekembang itu, jika kau masih membiarkan Dirga mengurus hidup mu!'
Aqila membaca surat itu dengan bibir yang gemetar, rasanya sakit sekali mendapatkan hinaan kata 'jallang' dari orang yang mengirimkan surat itu. Yang tanpa ia tampis kalau memang dia seperti seorang jallang munafik, yang belaga menjadi korban dan membenci pelaku yang sudah jelas, pria itu hanya membantunya menuntaskan hasrat efek dari obat perangsang yang tidak sengaja ia telan.
"Bukan mau ku seperti ini, hiks hiks hiks..."
"Siapa yang mengirimkan ini?"
"Ya Tuhan aku harus apa.."
Tangannya benar-benar gemetar, bahkan ia mulai lemas karena kencangnya debaran jantungnya saat ini, ia terduduk disamping ranjang, menekan-nekan dadanya yang semakin terasa sesak.
"Qil... Aqila...?" tok tok tok
Jeni memanggil dan terus mengetuk-ngetuk pintu kamar yang terkunci dari dalam. Aqila yang tengah menangis segera menghampus air mata dan menyembunyikan poto-poto itu, juga lembaran surat yang ada diantaranya. "Ya kak!" sahut Aqila sedikit berteriak dan berjalan tergesa-gesa kearah pintu.
"Kamu sedang apa? kok tumben dikunci?" tanya Jeni yang hanya menggunakan handuk yang terlilit di dadanya.
"Oh itu ka, tadi aku mau pasang paku dibelakang pintu, iya pasang paku," jawab Aqila yang gugup dan jangan lupa dengan suaranya yang sumbang karena habis menangis.
"Kamu kenapa, Qil?" mendengar suara Aqila yang sumbang, Jeni berbalik menatap khawatir pada gadis yang sudah di anggapnya sebagai adik itu.
__ADS_1
"Aku? enggak apa-apa Kak, aku sedang flu, jangan dekat-dekat kalau enggak mau aku tularkan, ehehe," kelakar Aqila yang terdengar memaksa.
Jeni memicing curiga, dia sangat tahu kalau Aqila sedang menyembunyikan sesuatu, dan dia tahu kalau Aqila habis menangis karena terlihat dari ujung matanya yang membasah. Tapi Jeni bukan tipekal orang yang suka memaksa kehendaknya pada orang lain, baginya jika orang itu ditanya dan berbohong, itu berarti ada hal yang tidak harus diceritakan, dan jika memang ia mau cerita, dia akan membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan curahan hatinya.
"Aku buatkan makan malam dulu ya kak," ucap Aqila yang sengaja menghindari tatapan Jeni.
Didapur, Aqila yang berniat akan membuat omelet untuk lauk makan malam mereka nanti, terus saja melamun memikirkan isi dari pada surat itu dan siapa pengirimnya, yang dia sangat yakin pelakunya bukanlah orang ari sekolahnya, karena mereka tidak mungki mengenal Tuan Dirga.
"Apa jangan-jangan pengirimnya, Tuan Dirga sendiri? agar aku menolak ajaknnya dan dia belaga tidak bersalah. Aku akan tanyakan ini langsung padanya."
*
Dirga yang baru saja sampai dikediamannya, langsung segera mandi, karena mengerjakan pekerjaan rumah sedikit menguras tenaga memang. Didalam lamunannya, dibawah guyuran air shower, terlintas lagi wajah Aqila yang menatapnya kesal. Sekarang dia akan mencoba menerima berita kehamilan Aqila, karena benar apa yang dikatakan sahabatnya, Erik. Siap ataupun tidak, Aqila tetap mengandung anaknya, dan dia harus bertanggung jawab atas itu.
Setelah selesai membersihkan dirinya dari busah-busah sabun. Dirga segera berpakaian dan turun dari latai atas untuk membuat kopi, ya walaupun dia memiliki asisten rumah tangga, namun Dirga sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri, sejak 4 tahun ini setelah memutuskan pergi dari negara asalnya.
Dan ketika ia sedang menikmati kopinya disenja hari, suara seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Spadaaaaa...Yoo-hooo. Anybody home?!" teriak seseorang yang memasuki rumah tanpa menekan bel ataupun mengetuknya terlebih dahulu.
"Dirga, baby... i miss you somuch." Seorang Wanita yang begitu cantik dengan pakaian yang sangat anggun, kini berjalan kearahnya dan memeluknya lalu mencium pipi kanan dan kiri Dirga.
"Dir, kau tidak merindukan ku? hah!?" tanyanya manja.
__ADS_1
"Bianca, kau darimana dengan pakaian seperti itu?" tanya Dirga tanpa menjawab pertanyaan wanita itu yang ternyata Dirga memanggilnya dengan nama, Bianca.
"Aku habis bertemu teman-teman ku, membagikan ini, ini untuk mu." Bianca memberikan sebuah kartu yang berwana cantik yang diambilnya dari dalam tas pada Dirga.
"Undangan? kau jadi menikah?"
"Ya, kau tahu kalau Tuan Ferdinan sudah mentitahkan sesuatu, ya harus terjadi, hahahha!" kelakar Bianca yang tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Dasar anak durhaka, itu ayah mu!" Dirga dibuat tertawa juga karena gurauan Bianca.
"Jangan lupa kau datang ya, bawa partner mu sekalian, jangan selalu bersama Erik, nanti kau disangka pisang makan pisang, hahahah!"
"Sial! aku masih normal, kau tau!"
"Ya mana ku tahu! yang kutahu kau memang tidak menyukai wanita 'kan?" Hahahahah!!
Bianca tertawa lagi, dan Dirga hanya bisa mendengus kesal karena sahabatnya itu terus saja meledeknya.
"Bie, aku masih normal," ucap Dirga dengan sedikit menegaskan setiap kalimatnya.
"Normal kau bilang? dengan wanita secantik ku saja kau tidak suka, bagaimana dengan wanita biasa lainnya, sudah ah! aku mau numpang istirahat sebentar. Aku pinjam kamar mu!" ucap Bianca sembari berlalu kekamar Dirga yang terletak dilantai dua.
Dirga menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu, ya begitulah Bianca sejak dulu. Ia selalu besikap layaknya sebagai nyonya di rumahnya dan Dirga tidak mempermasalahkannya, karena baginya Bianca sahabat wanita satu-satunya yang selalu ada dikala ia sedang susah, selain Erik dan dua temannya.
TBC>>>>>>>>>>>
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Mampir juga ke novel teman ku, Yuk!!