
"Aku sangat membenci mu!" ...
Ucapan yang sangat jelas dan menusuk itu, ditambah linangan air mata dari mata seorang gadis yang pernah ia jamah. Terus terngiang-ngiang dimanapun ia berada. Dirga mengusap wajahnya kasar, kenapa hatinya terus terasa perih sejak Aqila mengatakan hal demikian kepadanya.
Kata yang terus mengganggu pikirannya, yang bahkan rasa bersalah itu dikit demi sedikit mulai muncul ke purmakaan. "Haruskah aku meminta maaf?" gumam Dirga dalam lamunan-nya. "Tapi aku 'kan tidak salah sepenuhnya, dia yang datang dan meminta pertolongan padaku?" lanjutnya.
Bimbang penuh keraguan, sementara pagi sudah menjelang. Ya, Dirga belum juga bisa memejamkan matanya, dikala ia terpejam hanya ada wajah Aqila yang menatap penuh kebencian, linangan air mata yang mengganggu kewarasanya, juga ucapannya yang menyayat pikirannya.
Ia meraih gawainya lalu menghubungi seseorang yang cukup lama dijawab, karena memang waktu saat ini menunjukan pada pukul 03:35, dimana orang-orang masih tertelalp dalam mimpi.
"Emm... ya?" suara orang yang menjawabnya dengan suara yang parau.
"Le, cari tahu dimana gadis itu tinggal!" perintah Dirga tanpa tahu waktu.
"Sekarang, Tuan?"
"Nanti tahun gajah, ya sekarang! cepat, aku tunggu!"
Tanpa mengatakan apapun lagi selain perintah, Dirga memutus sambungan itu begitu saja, ya yang ia hubungi adalah Leo, asisten pribadinya.
Disebuah apartemen, Leo yang tenagh bermimpi dalam tidur nyenyaknya, tentu merasa kesal karena Bos-nya yang memberikan sebuah titah tanpa kenal waktu. Ia melihat jam pada layar ponselnya ketika sambungan telpon itu diputus. "Astaga! kenapa juga harus di jam segini, apa dia tidak tidur, dasar vampir!" umpat Leo.
Beberapa kali ia menguap, karena matanya juga masih terasa berat, tapi printah tetaplah perintah, iapun mencari tahu dimana gadis yang di maksud Dirga itu tinggal. Setelah memastikan informasi itu tepat dan akurat iapun segera mengirimkannya pada Dirga, yang pasti sedang menunggu kabarnya.
"Apa dia mulai tertarik oleh wanita?" Leo mentertawakan ucapannya sendiri, jika saja Dirga mendengar itu, sudah dipastikan surat pemecatan akan ada di mejanya, atau ia yang akan di kirim ke korea utara, negara yang penuh dengan larangan dan peraturan.
Matahari sudah mulai muncul keperaduannya, dua orang perempuan sedang asik menikmati sarapan yang mereka beli di pedagang ujung gang. "Aku masuk pagi, kamu mau bareng atau nggak?" tanya Jeni pada Aqila yang sedang menyendokan nasi kemulutnya.
__ADS_1
"Tidak Kak, aku mau cuci pakaian, Kakak duluan aja, aku 'kan masuk siang," jawab Aqila dengan mulut yang masih terisi makanan.
"Oh ya udah, pakaian ku nggak usah di cuci, biar nanti aja aku yang cuci setelah pulang kerja."
Emmm! Aqila menggeleng cepat, "Udah perjanjian dari awal 'kan Kak, aku yang bakal cuci pakaian dan beres-beres rumah." Jeni tertawa mendengarnya. Ya dia selalu melarang Aqila mengerjakan semuanya, tapi Aqila sigadis keras kepala itu mana mau dengar.
"Terserah kamu aja, aku ambil tas dulu." Jeni berlalu pergi kekamarnya. Dan beberpa saat kemudian Jeni sudah kembali, "Qil, aku berangkat sekarang aja ya, aku lupa kalau hari ini hari senin, pasti macet," ucapnya yang sedang memakai sepatunya.
"Makanannya nggak dihabisin, Kak?"
"Udah kenyang, kamu habisin aja, sayang 'kan mubazir, daaahh....!" Jeni pun pergi dari rumah kontrakan itu. Dan Aqila melanjutkan makan-nya yang ditambah sisah makanan Jeni yang ia tuang kepiringnya.
"Harus banyak makan, tenaga harus dikuras karena cucian," gumam Aqila.
Hanya membutuhkan waktu yang sebentar, makanan dipiringnya telah sirna berpindah keperut rampingnya, dan ketika ia akan menaruh piring kotor kedapur, suara pintu diketuk membuat ia mengurungkan niatnya dan malah meletakan kembali piring kotor itu diatas meja.
Klek! pintu pun dibuka Aqila. "I...yaa..?" Aqila terdiam, wajahnya yang semula ramah seketika berubah ketus.
"Mau apa Anda kesini?" tanya Aqila tanpa basa basi.
"Apa kamu tidak akan mempersilahkan aku masuk?" ucap seorang pria yang tak lain adalah Dirga.
Aqila tidak menjawabnya, ia tetap memasang wajah masamnya sehingga membuat Dirga bertingkah serba salah.
"Eemmm..., apa kamu tidak ke resto?"
"Nanti siang!"
__ADS_1
"Bisa temani aku untuk mencari sarapan?"
"Tidak bisa, saya sibuk!"
"Sibuk apa?" kepala Dirga melongok kedalam dan dengan cepat, Aqila menutup pintunya sedikit.
"Ada apa Anda kesini? kalau tidak ada hal yang penting, saya masuk dulu." Aqila sudah akan berbalik tapi dengan cepat tangan besar Dirga mencekal lengan Aqila. "Tunggu-tunggu! Saya kesini mau katakan, kalau Driver dan koki itu sudah kembali ke Resto."
"Oh, bagus! sudah 'kan?" Aqila akan berbalik lagi, tapi kembali Dirga halangi.
"Eh! Saya juga sudah memafkan kamu lho!" Aqila memicing bingung dengan ucapan Dirga.
"Memangny salah saya apa?" tanya Aqila begitu heran. "Aneh!" Aqila pun masuk dan akan menutup pintum tappi mungkin kasrena perasaan yang kesal, moodnya yang tibatiba memburuk ia pun menutup pintu dengan cara membantingnya. Dan.... BRUGHH!! Akkkhhhhh!!!
Suara bantingan pintu disusul suara jeritan yang begitu kencang, membuat burung-burung yang hinggap di dahan pohon kecapi depan rumah turut berterbangan.
Aqila yang panik langsung berbalik lagi dan betapa terkejutnya dia, saat ini ada jari-jari yang terjepit pintu dengan gemetar. Dengancpat Aqila membuka pintunya lagi dan sudah ia duga pemilik jari-jari itu adalah Dirga.
"Astaga!"
"Aaakkhh! kau jahat sekali, jari-jari ku akan putus, aaakkkkhhh!!!" jerit Dirga mendrama, walaupun memang keadaan jarinya sudah membiru bahkan sela-sela kukunya mengeluarkan darah karena Aqila. Tapi sungguh itu memang akal-akalan Dirga yang tidak berpikir lagi agar bisa lebih lama melihat wajah Aqila.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mampir juga ke Novel teman ku yu besty...
__ADS_1