One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 09 - Kebencian Yg Mendarah daging


__ADS_3

Selagi keduanya yang kebingung, seseorang pun datang menghampiri mereka, yang tak lain ia adalah Ayuza yang melihat mereka masih berada disana seperti sedang kebingungan.


"Aqila ada apa?"


"Eh, eee..., ini nona, mobilnya mogok."


"Oh kalau begitu pakai mobil saya saja, memangnya akan dikirim kemana makanan ini?"


"Purnama Corp, Nona," jawab sang driver yang bernama Fikri.


"Wah kebetulan saya juga akan kesana. Eeemm..., begini saja, kamu bawa mobil kebengkel, tapi sebelum itu pindahkan makanan ke bagasi mobil saya dulu, biar saya bantu antarkan."


Penawaran Ayuza tidak langsung mereka terima, Aqila cukup mempertingkannya, karena merasa tidak enak, mobil bagus membawakan boks makanan? sungguh tidak etis, lagipula apa tidak akan merepotkan pemilik mobilnya, batin Aqila.


"Tidak perlu, Nona. Biar kami pakai jasa Taksi saja," tolak Aqila baik-baik.


Tidak menyukai penolakn, Ayuza pun terus memaksa, dan akhirnya Aqila dan Fikri menyetujui itu karena Ayuza yang terus memaksa mereka.


Diperjalanan, Ayuza yang duduk di kursi belakang bersama Aqila terus saja mengajak Aqila berbincang, bahkan ia tidak segan-segan bercerita kalau dia pernah mengalami kejar-kejaran dengan beberapa preman bayaran lalu diselamatkan oleh seorang pria. Aqila cukup merasa terhibur dengan cerita pengalaman Ayuza, yang tanpa sadar ternyata mereka telah sampai di Purnama Corp.


"Astaga ternyata sudah sampai ya, maaf ya kalau kamu bosan dengan cerita ku," ucap Ayuza yang ikut membantu Aqila menurunkan kontainer yang berisikan boks


makanan.


"Tidak apa Nona, saya senang bisa mendengarya."


"Saya sangat sibuk, maka dari itu saya tidak sempat memiliki seorang teman, dulu sih pernah punya tapi waktu sekolah. Kamu mau 'kan jadi teman saya." Aqila hanya tersenyum karemna dia sendiri merasa tidak yakin dengan pertemanan yang di minta oleh perempuan bernama Ayuza itu. Karena dilihat darimanapun, mereka sangat berbeda, dalam segi sircle, ataupun kasta.

__ADS_1


BRUUGH!


Ayuza dan Aqila hampir menjatuhkan boks besar itu karena tubuh Ayuza yang tidak sengaja menabrak seseorang yag akan masuk kedalam pintu utama perusahaan. "Maaf, kami tidak senga...."


Ayuza terdiam seketika, kini berdiri seorang pria yang tengah menatapnya begitu dalam. Aqila yang tidak mengerti situasi itu hanya ikut terdiam, tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Tuan Erik, apa kabar?" bibir Ayuza bergerak sendiri melontarkan sebuah pertanyaan.


Ya pria itu adalah Erik, sahabat dari Dirga.


"Emm, maaf Nona, saya antarkan ini dulu ya." Akhirnya dengan keberanian Aqila, ia pun menyela pembicaraan.


Ayuza hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya. Aqila pun berlalu pergi kedalam dengan dibantu oleh asisten Ayuza.


Merasa tidak dijawab atas pertanyaan nya, Ayuza pun akan berlalu pergi menutup bagasi mobil, tapi suara barinton Erik menghentikan langkakhnya.


Sementara Ayuza yang pergi bersama Erik, Aqila sudah berada di bagian pantry yang sudah bersama seorang wanita parubaya yang bertugas mengurus konsumsi para karyawan. "Kalau begitu saya pamit ya, Nyonya." Aqila akan keluar dari sana, tapi langsung dihentikan wanita parubaya itu.


"Eh! sebentar!" Langkah Aqila terhenti seketika.


"Ya, Nyonya? ada apa? apa ada yang kurang?"


"Tidak, ini berikan ke Tuan Presdir!" Wanita yang tidak lagi muda itu menyerahkan satu boks dengan teampat yang berbeda dari yang lainnya.


"Hah? saya, Nyonya?"


"Iya, ini tugas kamu, tanggung jawab kamu, bila mana ada sesuatu dimakanan ini, bos bisa menegur langsung padamu.'"

__ADS_1


"Cepat, kamu suda telat lho."


"Tapi bukankah tugas saya hanya mengantarkan ini semua lalu kembali keprusahaan?"


"Memang cara kerjanya seperti ini, sudah jangan banyak tanya, ambil dan antarkan itu, pastikan si Bos memakannya!"


Aqila menghela nafasnya dengan panjang, ia baru meegetahui kalau cara kerjanya seperti itu, katanya. Sungguh dia sudah mulai lelah, tapi membayangkan akakn mendapatkan gaji doble, semangatnya kembali membara.


Dengan terus bertanya pada beberapa karyawan, akhirnya Aqila dapat menemukan ruangan Presdir prusahaan itu. "Perusaan ini besar sekali, andaikan saja aku bisa bekerja disini," gumam Aqila.


Tok Tok Tok! Aqila mengetuk pintu dan setelah mendapatkan sahutan dari dalam, iapun masuk kesana dan meletakan satu paper bag yang berisikan makanan itu engan sangat hati-hati.


"Maaf Tuan, saya letakan disini ya, permisi." Aqila akan berlalu pergi tapi lagi-lagi langkahnya harus kembali terhenti.


"Apa kamu tidak mengerti cara kerjanya seorang delivery resto Purnama?" Aqila tersetak, ia mematung ditempatnya.


"Suara itu lagi?" gumam Aqila.


Dengan pelan iapun berbalik dan... jreng! yang saat ini tengah berdiri didepannya dengan melipat tangannya adalah pria yang sangat ia benci, sangat benci.


Merasa sangat bodoh, ia baru menyadari kalau nama restoran dan nama perusahaan tempat dia saat ini berdiri memang sama. Yang pastinya pemilik nya pun sama.


Ya dia adalah Bima Dirgantara Houten. Pria yang sudah mengambil kesuciannya, pia yang merendahkannya dengan memberikan sebuah cek untuk membandrol sebuah mahkota berharga dari seorang wanita.


Dirga manatap tajam dan melangkah mendekat, matanya melirik ke arah jam tangannya seraya berkata, "Kau telat 15 menit."


           

__ADS_1


__ADS_2