
Dirga terus menggerutu selama mengemudikan mobilnya, dengan tangan kiri ia mengambil handpoennya dari saku jaket, lalu menekan nomor Erik untuk mencari tahu lebih serius, siapa yang telah berdiri didepannya dengan kelicikan yang fasih.
''Baik aku akan urus lebih serius!'' Erik menutup sambungan telponnya dengan sepihak dan ia tahu mungkin saja Dirga sudah memakinya disana. Tapi saat ini Erik benar-benar tidak mempedulikan itu.
Disinilah Erik berada, taman dengan danau Soga, danau yang berada ditengah-tengah taman yang hijau. Tidak! dia sedang tidak sendirian melainkan bersamaan seorang wanita cantik yang duduk disebelahnya dengan kepalanya yang sejak tadi tertunduk.
Lita 27 tahun, seorang dokter muda, yang sudah ditetapkan oleh Erik menjadi pujaan hatinya. Namun, Lita tidak pernah menanggapi serius sikap dan perasaan Erik.
''Sekarang apa kau bisa menjawab pertanyaan ku, Lita?'' tanya Erik lagi karena tadi telah terjeda oleh panggilan Dirga.
''Maaf Tuan Erik, saya tidak pernah menjauh dari siapapun, karena memang pihak rumah sakit yang memindahkan tugas saya kenegera ini.''
''Apa itu berarti kita memang ditakdirkan berjodoh?'' kelakar Erik sebelum Lita melirik nya dengan sinis.
Erik tertawa begitu lepas, semenjak ia tidak lagi bertemu Lita, ini baru pertama lagi ia tertawa selepas ini, dan itu dapat disaksikan oleh seorang gadis yang duduk dibalik kemudi, mobil merah disebrang jalan.
Ayuza, ya dia Ayuza Bernies. Gadis cantik yang masih menyimpan hati dan perasaan nya atas nama Erik, perasaan yang tumbuh sejak pertama kali dia bertemu dengan Erik.
''Ternyata memang aku tidak bisa menembus hati mu, Erik,'' ucap Ayuza dengan lirih, dan berlalu pergi dari sana ketimbang harus membakar hati yang sudah terluka.
Dirga sudah berada diparkiran rumah sakit, dengan tergesa-gesa ia berjalan karena tidak sabar ingin melihat keadaan Aqila yang sudah sadar.
Didepan pintu rawat Aqila, Dirga berhenti sejenak, ia mendengar gelak tawa yang cukup memekikkan telinga. Yang ia duga kalau saat ini Dion sedang menggoda Aqila.
Dirga memutar knop pintu begitu saja, dan ternyata dugaannya telah keliru, yang saat ini tengah tertawa bersama, bukanlah Aqila bersama Dion, melainkan Dion bersamaan Bianca.
Ceklek! (bunyi pintu yang tertutup)
Semua menoleh kearah suara. Begitu juga Aqila, ia menoleh dengan bibir yang seakan menahan senyum. Dirga tidak peduli dengan dua orang yang duduk disofa, yang saat ini menatap kedatangannya. Ia justru berjalan lurus kearah brangkar Aqila lalu menarik kursi dan duduk disana.
''Bagaimana keadaan mu?'' tanya Dirga yang sudah duduk dengan tangan yang bertumpu di kasur Aqila.
''Saya sudah membaik, Tuan.''
''Kau yakin? apa ada keluhan lain, biar dokter segera memeriksa kembali keadaan mu, Aqila.'' Aqil menggelengkan kepala-nya.
''Aqila, calon suamimu sedang mengkhawatirkan mu, jadi mestinya kau harus bermanja,'' celetuk Dion menyela pembicaraan dua insan itu.
__ADS_1
Mendengar celetukan Dion. Bianca seketika menatap nyalang Dion, dan bergantian menatap Dirga juga Aqila. ''Apa maksud mu, Dion? calon suami?'' tanya Bianca yang terkejut karena yang dia tahu, kalau Aqila teman adik dari Dion, yaitu Alisha Purnama Houten.
''Iya, mereka sepasang kekasih 'kan?''
''Dasar lelaki bermulut besar!'' gerutu Dirga dengan kesal, dan itu dapat Aqila kira kalau Dirga tidak suka dengan apa yang Dion katakan.
''Tidak Tuan, kami tidak memiliki hubungan apapun yang seperti Anda kira,'' sahut Aqila yang mendapatkan tatapan tajam dari Dirga.
''Oh benarkah? berarti aku salah dapat informasi.'' Dion mengangkat kedua bahunya.
''Sudah jangan banyak bicara, kalian keluarlah! ini waktunya Aqila istirahat. Kalian sudah cukup mengganggunya dengan tertawa sekencang tawa kuda!'' sarkas Dirga pada keduanya.
Setelah keduanya keluar ruangan, Aqila menatap intens pada pemilik wajah indo blasteran itu. Yang saat ini tengah mengupas kulit jeruk yang tadi Bianca bawa sebagai buah tangan untuk Aqila.
''Kenapa kamu menatap saya seperti itu?'' tanya Dirga yang masih mengupas kulit jeruk.
''Tuan?''
''Hemm?''
''Saya ingin pulang, karena pasti kak Jen sedang menunggu saya,'' ucap Aqila dengan takut.
Aqila melebarkan matanya, ''Jadi kak Jen, tau kalau saya tadi malam menginap dirumah Anda?''
Dirga mengangkat pandangan nya. Tatapan yang cukup membuat Aqil menundukkan kepalanya. Dirga mengambil jeda untuk menjawabnya, ia tersenyum tanpa sepengetahuan Aqila seraya menjawab.
''Bukan saya yang menghubunginya, tapi Bianca.''
Jawaban Dirga tentu membuat Aqila menghela napasnya lega.
''Tapi Tuan—''
''Tapi apa lagi, Aqila Sharma...''
''Saya sudah terlalu lama tidak masuk bekerja, kalau nanti Tuan Riko—''
''Memecatmu? itu yang kau takuti?''
__ADS_1
Dirga terus memotong apa yang Aqila ingin katakan. Aqila mengangguk karena memang tebakan Dirga benar.
''Kamu lupa siapa saya? saya pemilik restoran itu, dan Riko adalah bawahan saya. Jadi apa yang terjadi direstoran pasti kehendak saya.''
Ya, rupanya Aqila memang melupakan siapa Dirga sebenarnya. Dan bahkan dia lupa kalau saat ini Dirga juga ayah dari anak yang dikandungnya.
Deringan ponsel Dirga terdengar, dan Dirga segera menjawabnyanya. Ya telpon dari sekretaris pribadinya lah yang tertera dilayar handphonenya.
''Ya Leo, ada apa?'' jawab Dirga dengan malas karena beberapa waktu ini Leo terus saja mengganggunya, entah menanyakan perihal pekerjaan ataupun masalah sepele.
''Tuan, apa nona Bianca ada disana?''
Ya, sepele bukan? Namun, Dirga tetap menjawabnya walaupun enggan.
''Ya dia ada disini, sedang bersama Dion diluar, kenapa?''
''Oh tidak apa, tadi Tuan Ferdinand ikut rapat, dan dia menanyakan nona Bianca pada saya.''
''Lain kali kalau tidak terlalu penting, tidak perlu menghubungi ku, Leo!'' Dirga menutup sambungan telepon dengan kesal, dan menyimpan kembali handponnya kesaku jaketnya.
Aqila menatap lekat Dirga, ya inilah Dirga yang dia kenal, galak dan menyebalkan.
Keesokan harinya. Aqila sudah diperbolehkan untuk pulang, dan saat ini Dirga sedang mengurus kepulangannya. Aqila dibekalkan obat-obatan dan berbagai macam vitamin dan Dirga lah yang diberikan tanggung jawab oleh Dokter untuk memastikan Aqila meminum dengan teratur.
Saat sudah diparkiran, Aqila yang akan bersiap bangun dari kursi rodanya, malah ditahan Dirga untuk tetap duduk disana, walaupun sebenarnya memang sejak pertama Aqila terus menolak memakai kursi itu, karena menurutnya dia baik-baik saja. Ya Dirga memang berlebihan.
''Tetaplah duduk, aku akan membuka pintu dulu!'' Aqila memutar matanya malas, dan terpaksa menurut dengan apa yang dikatakan Dirga.
Namun saat Dirga tengah membuka pintu untuk Aqila, dan Aqila yang masih duduk dikursi rodanya. Sebuah mobil melesat kearah Aqila dan..
Braakk!!
Mobil itu menghantap kuat kursi roda, hingga kursi beroda itu terpental jauh dan juga ringsek.
Tbc>>>
...****************...
__ADS_1
Mampir ke novel teman ku juga ya bestiihhh...