
Dirga tidak main-main dengan tekadnya yang ingin mencari tahu siapa yang telah meneror Aqila, karena menurut dia, apa yang terjadi pada Aqila semua ada hubungannya dengannya.
Maka disinilah Dirga berada. Disebuah bangunan yang seperti apartemen tetapi lebih sederhana, ya Rumah susun, mungkin itu yang biasa orang katakan untuk bangunan tempat Dirga berdiri saat ini.
Dengan berat hati, Dirga menitipkan Aqila pada Dion yang bahkan bersahabat tetapi tidak pernah akur itu.
217, pintu didepannya tertuliskan tiga angka itu, tanpa mengetuknya, Dirga masuk begitu saja kesana, matanya seperti seekor srigala yang sedang mencari mangsanya, entah itu kelinci ataupun babi hutan yang siap ia terkam.
Dirga menyeringai ketika melihat seorang pria yang sedang tertidur disofa dengan tertelungkup, Dirga sudah melangkah mendekat dan juga sudah mengeluarkan senjata apinya, bukan! bukan untuk membunuh pria itu, hanya saja ia ingin menggertaknya agar membuka mulut siapa yang memerintahnya.
"Bangun kepparat! katakan apa yang kau tahu, kalau tidak kau yang kuhabisi!" ucap Dirga begitu menyeramkan, tapi tidak ada jawaban sedikitpun darinya.
Dirga menendang kaki pria itu yang menjuntai ke lantai, tapi orang itu tidak terusik sedikitpun, dengan kesal Dirga membalikan tubuh pria itu dan iapun berdecak kesal.
"Sial! aku telat selangkah!" decihnya.
Ya! lelaki itu sudah tidak lagi bernyawa, sebuah belati tetancap indah didada kirinya dan mungkin saja sudah menghujam jantungnya. Siapa pelakunya? ya siapa lagi kalau bukan orang yang ada di balik ini semua. Karena tidak ingin jejaknya terciuam ia memilih melenyapkan orang suruhannya.
Sedangkan di luar gedung, tepatnya didalam sebuah mobil putih, terdapat seseorang yang tengah tertawa melihat sebuah rekaman yang menunjukan kekesalan Dirga, saat mengetahui orang yang dicarinya untuk mengetahui sesuatu malah sudah mati.
"Pasti kau kecewa 'kan, Dirga. Maafkan aku, tapi aku tidak mau kau tahu dan nantinya akan membenci ku, aku mana sanggup," ucapnya dengan raut yang begitu sendu. Bahkan ditangannya tedapat potonya dengan Dirga yang sedang tertawa bersama, dengan begitu lembut ia mengusap gambar wajah Dirga dan mengecupnya.
__ADS_1
Dirumah sakit, Aqila yang baru saja tersadar merasa aneh karena disampingnya ada seorang pria yang sedang bermain ponsel, dan dia tidak mengenalnya.
Aqila bangun dan pria itu segera mengangkat pandangannya lalu menyimpan ponsel disakunya.
"Kau sudah bangun, adik ipar?" tanya Dion yang berniat membantu Aqila dengan membenarkan satu bantal untuk bersadar Aqila.
"Anda siapa, Tuan?"
"Aku Dion, kakak ketiga Bima," sahut Dion yang tertawa dalam hatinya.
'Kakak ketiga apanya, cih! bahkan Bima tidak cocok menjadi adikku, karena aku telalu baik dan dia telalu jahat padaku.'
"Bima? siapa Bima?"
Jelas Aqila tidak mengenal Bima karena yang dia kenal adalah Dirga, dan Eirk lupa memberi tahu kalau Bima mengganti namanya menjadi Dirga.
"Ini dimana? bukankah aku ada rumah Tuan Dirga?" gumam Aqila yang celingukan karena bingung. Dan beberapa saat kemudian ia mengerti kenapa ia berada disana dengan sebuah selang infus yang tetancap di punggung tangan kanannya.
Dia ingat, saat pagi tadi dia ingin mengisi daya ponselnya, tiba-tiba aliran listrik merambat keseluruh tubuhnya dan dia pun tepental. Yang mungkin saja Dirga atau Bianca lah yang membawanya kerumah sakit. Tapi kemana kedua orang itu sekarang, kenapa malah ada pria asing yang berada disana.
"Hei nona, apa kau mengenal Erik?" tanya Dion lagi dan Aqila menggeleng. Dion semakin dibuat bingung hingga berpikir kalau dia salah kamar atau mungkin salah mengenali orang.
__ADS_1
"Dimana Tuan Dirga dan Nona Bianca?" Aqila bertanya pada Dion yang terdiam sejenak sepeti sedang memikirkan sesuatu.
"Dirga? Dirgantara maksudmu?" Aqila mengangguk yakin karena memang itu yang dia tahu. Dirgantara, persis seperti nama yang tertera disecarik kertas saat Dirga meninggalkannya besama cek senilai Satu Milya Rupiah.
"Dirgantara sedang pergi dan yang kumaksud Bima itu, ya Dirgantara."
"Lalu Nona Bianca?" Aqila tidak mengidahkan yang Dion katakan.
"Bianca?" Dion menggaruk tengkuk lehernya, karena memang sejak tadi tidak ada oang lain lagi, dan Bianca? kenapa namanya terdengar sangat familiar.
Ceklek! pintu dibuka oleh seseorang, "Maaf aku telat, mobil ku pecah ban," ucapnya yang tenyata adalah Bianca.
"Acha? kau Acha 'kan?" ucap Dion yang mengenali Bianca dengan nama lain.
"Heh! Dion sicupu? astaga kau berubah?" kelakar Bianca dengan tawanya, yang tidak peduli dengan wajah Dion yang sudah masam.
"Kau apa kabar, Dion? Kenapa aku merasa kau jadi tampan begini?" Bianca memeluk Dion dan memujinya.
"Aku memang tampan, Ca, sejak dulu, tapi kau hanya melihat Bima yang kau anggap pria tertampan didunia," cetus Dion yang langsung mendapatkan pukulan dilengannya dari Bianca.
"Kau memang tampan, hanya saja dulu penampilanmu sangat culun." Bianca tertawa lagi.
__ADS_1
Mereka seperti melupakan keberadaan Aqila yang hanya menonton keakraban dua manusia itu.