
Sehari, dua hari, sampai lamanya satu minggu. Dirga tidak bisa fokus kepekerjaannya, bahkan kala meeting pun ia selalu gagal fokus dan harus mendapatkan senggolan bahu dari Leo untuk menyadarkannya dari lamunan.
Diruangannya, Dirga sedang memarahi seorang office girl yang memecahkan pajangan yang ada dimejanya, entah apa penyebabnya, ketika Dirga masuk keruangan setelah menghadiri sebuah pertemuan diluar kantor, ia melihat OG itu sedang memunguti pecahan keramik. Yang dia tahu kalau itu adalah pajangan favoritnya yang sengaja ia letakan di meja kerjanya.
"Maafkan saya Tuan, saya akan menggantinya," ucapnya begitu gemetar.
"Menggantinya? bukan itu yang saya inginkan! saya hanya tidak suka orang yang ceroboh, yang akan membuat kerugian untuk orang lain," sahut Dirga yang masih kesal.
"Sekali lagi maafkan saya, Tuan." Kepala yang semula tertunduk perlahan terangkat, mata perempun itu berkaca-kaca seakan meminta pengampunan darinya.api entah kenapa tiba-tiba Dirga malah membisu, alis matanya yang menegang perlahan mengendur.
Ia benar-benar terdiam, seraya bergumam, "Aqila?" dan beberapa saat kemudian iapun menggelengkan kepalanya dengan cepat, menghela nafanya segera untuk menyadarkan dirinya sendiri.
"Ya sudah kau boleh keluar!" usirnya tanpa melihat wajah office girl itu.
Dirga berjalan kemeja kerjanya, tas yang berisikan berkas-berkas ia banting dia atas meja, tangannya mengacak-acak rambutnya yang rapi. "Sial! kenapa mataku terus melihat wajah dia? semua perempuan tiba-tiba berubah wajahnya!"
__ADS_1
Pintu diketuk dan masuklah Leo yang membawakan segelas te hangat untuk Tuan-nya itu. "Ada apa lagi?!" tanya Dirga tanpa berbalik badan tapi tahu kalau yang datang adalah Leo, asisten pribadinya.
"Saya bawakan teh hangat dengan tambahan irisan lemon, agar Tuan sedikit rilesk." Leo meletakan itu di meja kerja Dirga, yang dia sendiri hanya melirik kedatangan asisten pribadinya itu.
"Cansel beberapa meeting, untuk beberapa hari kedepan, aku sedang tidak berselera bertemu siapapun!" ucapnya yang sudah duduk di kursi kerjanya.
Bukannya pergi Leo malah ikut duduk di kursi sebrang meja Dirga. Ia tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran bosnya itu, tapi apa itu? diapun tidak mengerti, yang dia tahu memang mood Dirga berubah sejak seorang gadis mengembalikan sebuah cek kepadanya.
"Tuan, saya minta maaf. Tapi saya harus menanyakan ini, sebenarnya apa yang membuat Anda begini, apa ada yang salah dengan kinerja saya?" tanya Leo senagja memancing.
"Kau terlalu ingin tahu, Leo. Keluarlah, aku sedang tidak ingin bicara!" ketus Dirga seraya memijat kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi, jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa panggil saya," kata Leo yang suah beranjak lalu pergi dari sana.
Dirga tidak menjawab, ia hanya memberika usiran dengan jarinya, sungguh mood dia benar-benar memburuk, dia sendiri tidak mengerti bagaimana carany agar moodnya kembali membaik. "Mam, I miss you so much," gumam Dirga yang beberapa detik kemudian iapun tertidur begitu pulas dikursinya.
__ADS_1
Wajah yang begitu manis, mata yang sayu dengan bibir yang tipis, sedang mengerang nikmat diatas tubuh, pinggulnya yang bergoyang seirama karena tuntunannya, suara desa-han yang membuat libi-do siapapun naik membuatnya semakin menggila. Dengan beringas ia membalikan posisi, ia yang bergo-yang dan perempuan itu yang harus menerima serangan demi serangannya.
Tanda merah ia tingalkan dibeberapa bagian bahkan ia juga meninggalkan jejak merahnya di bawah perut si perempuan. "Tu-aaann... oh my God! amazing..." racaunya begitu seksi.
Rongga yang begitu sempit, mengigit dan menjempit senjata rahasianya, membuat sesuatu ingin segera ia keluarkan karena lamanya juga ia bergoyang, dan..., "Aaahhh!" erang keduanya dengan diikuti gemetarnya seluruh tubuh, ambruklah ia dia atas tubuh si wanita yang sudah lemas dibawah sana.
Kriinnngggg!! Suara deringan telpon membuat ia terbangun denan sedikit rasa pusing di kepalanya. "Astaga! mimpi itu?" lirih Dirga yang baru terbangun dari tidurnya dan menyadari ada sesuatu yang lengket dan basah di bawah sana.
"Sial! kenapa juga harus bermimpi itu!" Matanya melihat ke arah pintu, memastikan kalau tidak akan ada yang masuk keruangannya, sedikit berlari iapun memasuki ruangan dimana disana terdapat ruangan pribadinya lalu masuk kedalam toilet.
Ya, dengan terus menggerutu ia harus membersihkan didirnya dengan mandi di tengah hari bolong begini. Karena cairan kenimatan itu keluar disaat ia tidur dan bermimpi. Ya benar, mimpi dimana ia tengah bertukar rasa surgawinya dengan seseorang yang beberpa hari ini menganggu pikirannya, Aqila.
Tidak lama, hanya dua puluh menit, Dirga pun selesai membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air shower yang dingin, bertujuan mensejukan otaknya yang panas. Didepan kaca besar, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang, ia melihat diirnya sendiri disana, ia bahkan tidak menyangka akan bermimpi hal gila seperti itu, terlebih lagi bersama Aqila yang tempo hari jelas-jelas menghina dirinya, didepan asisten pridanya dengan mengembalikan cek pemeberiannya itu.
"Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memberikan pelajaran yang setimpal padanya atas penghinaan itu!" kata Dirga yang seperti akan merencanakan sesuatu yang begitu licik.
__ADS_1
Direstoran, Aqila yang baru sja datang karena memang hari ini ia masuk di bagian sifft dua, teman-teman dapur menyapanya seperti biasa. Ia pun segera memakai apron dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi, untuk bersiap melakukan pekerjaannya yang sudah menumpuk.
Tapi baru saja ia akan mengambil rubber gloves untuk ia pakai, Riko selaku GM disana masuk kedapur dan memanggilnya. Teman Aqila merasa heran karena Aqila yang dipanggil GM setelah tempo hari sudah mendapatkan masalah dari atasnnya itu. "Qil, kamu tidak buat masalah apa-apa 'kan?" tanya Jeni yang khawatir padanya.