One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 36 - Memastikan


__ADS_3

Sudah hampir satu Minggu Dirga berada di Indonesia. Aqila yang satu Minggu ini sangat jarang berkomunikasi dengan Dirga yang jauh disana, membuat dia beropini kalau keluarga Dirga tidak menyetujui hubungan mereka.


Maka pagi ini, Aqila membereskan pakaian dia dan barang-barangnya, tidak dengan pakaian dan barang-barang yang dibelikan oleh Dirga.


Aqila berpikir kalau apa yang menjadi ketakutan Jeny waktu itu benar adanya! keluarga Dirga pasti tidak merestui pernikahan mereka. Tapi Aqila mencoba ikhlas, ia akan mulai menata kehidupan dia nantinya.


Dan dengan rasa malu, ia pun memutuskan untuk kembali kerumah Jeny dan menjalankan kehidupan dia seperti sebelumnya.


''Nona! Anda akan pergi kemana?'' tanya Lelia.


''Saya bukan Nona kamu kak, saya Aqila, hanya Aqila! Sekarang kamu tidak perlu menjaga saya lagi, saya akan pulang ke rumah kakak saya.'' Aqila menyeka air matanya. Entah kenapa hatinya sakit ketika ucapan itu keluar sendiri dari mulutnya.


''Tidak Nona, saya akan tetap menjaga Nona, karena memang ini sudah tugas saya!'' jawab Lelia tegas.


''Terserah! saya akan tetap pulang kerumah kakak saya!''


''Saya akan ikut dengan Anda!''


Aqila menghela nafasnya, ia berlalu dengan tas kecil yang hanya berisi baju piyamanya dan beberapa barang milik pribadinya.


Bahkan ia tidak membawa ponsel yang dibelikan Dirga untuknya. Ia sadar diri, kalau status sosial itu memang diperlukan bagi orang kaya kebanyakan. Dan dia? dia bak sebuah keset, ada atau tidaknya, tidak berpengaruh sama sekali.

__ADS_1


Aqila sudah berdiri didepan pintu kayu kontrakan Jeny, ia memandang kunci yang saat ini ia pegang. Dengan helaan nafas ia pun membuka kunci itu dan melangkah masuk kedalamnya.


Tidak! dia bukan tidak tahu diri, yang sudah merasa enak hidup di istana dan tiba-tiba diharuskan kembali ke tempatnya berasal dengan perasaan kecewa, tidak sama sekali dia merasa seperti itu.


Walaupun bibirnya mengatakan kalau dia tidak memiliki perasaan apapun pada Dirga, namun hatinya kerap merasa nyaman ketika mendapatkan perlakuan manis Pria 29 tahun itu, lalu apa ini yang dinamakan cinta? entah dia sendiri tidak tahu.


''Disini hanya ada satu kamar tidur, lalu kau mau tidur dimana?'' tanya Aqila pada Lelia.


''Saya bisa tidur diruang tamu, Nona. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya,'' sahut Lelia.


''Ck, Lelia! saya bukan Nona kamu!''


''Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas saya.''


''Nona sakit? apa perlu kita kerumah sakit, atau saya hubungi dokter saja?!''


Aqila melongo mendengar ucapan Lelia yang seketika merasa panik dan cemas seperti itu. Demi apapun, Aqila sudah mulai muak dengan apa yang terjadi.


''Tidak! saya hanya lelah, kamu bisa keluar, saya mau tidur,'' ucap Aqila begitu datar.


''Baik Nona.''

__ADS_1


Sementara dinegara sana. Dirga tengah bercanda dengan Alvino keponakannya, tiba-tiba mendapatkan kabar kalau Aqila meninggalkan rumah dan kembali kerumah kontrakan milik Jeny.


''Sebentar ya sayang, paman ingin menelpon orang dulu.'' Dirga menjauh dari Alvino menghubungi nomor Aqila yang tidak terjawab.


''Halo! apa ya g terjadi memangnya?!'' tanya Dirga pada seseorang yang ia percayai selain Lelia untuk menjaga Aqila.


''Maaf Tuan Dirga, saya tidak tahu pasti. Tapi Nona benar pergi dari rumah, dan kembali ke kontrakan. Tapi Lelia tetap ikut dengan Nona Aqila, Tuan.''


''Oke, kalau begitu terus pantau, jangan sampai lengah. Beritahu saya cepat kalau ada kabar apapun itu tentang Aqila!''


''Baik Tuan!''


Dirga memutuskan sambungan, ia menatap jauh kedepan sana. Seraya bergumam, ''Rupanya kamu tidak bisa sabar sedikit, Qila.''


Dirga menoleh kearah Keponakannya, ia tersenyum pada wajah lucu dan tampan Alvino ya v juga tersenyum kepadanya. Dirga pun kembali pada Alvino yang langsung meminta digendong.


''Kamu main disini dulu ya, Paman ingin bicara pada Oma.''


Alvino mengangguk, dan Dirga pun berlalu pergi ke kamar Lusi.


Ia hanya ingin memastikan kembali, kalau Lusi sudah benar-benar merestui apa yang ia katakan tempo hari, karena semenjak itu, Lusi seperti terus menghindarinya.

__ADS_1


''Mam aku boleh masuk?!'' ucap Dirga setelah mengetik pintunya.


__ADS_2