One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 23 - Teror Dimalam Hari


__ADS_3

Prankkkk!!!!!!


Sebuah batu sebesar bola kasti yang berbalut kain merah menghantam kaca jendela. Aqila terjingkat kaget, ia sampai lompat dari ranjang karena hampir sana batu itu mengenainya.


Aqila sempat berpikir kalau ada anak tetangga yang sedang bermain dan tidak sengaja mengenai jendela kaca tapi ternyata salah.s3


Dengan tangan yang gemetar, Aqila memungutnya dan melepaskan balutan kain merah itu. Betapa syoknya dia, ternyata itu bukanlah sekedar balutan tapi sebuah surat kaleng yang memang ditunjukan untuknya.


'Ternyata kau semakin berani, baik. Kau lihat apa yang bisa kulakukan dengan mu nanti!'


Sebuah tulisan yang tertera di kain merah, bernada sebuah ancaman, Aqila dapatkan. Matanya melihat kesekiling ruangan, "Apa ada kamera tersembunyi?"  gumam Aqila. Ia mencoba melangkah dengan hati-hati kearah kaca jendela yang sudah pecah itu, ia melongok ke luar, dan memang tidak ada siapapun disana. Namun tiba-tina matanya memicing karena melihat sosok bayangan hitam yang menghilang di semak-semak.


"Apa itu hantu?" rasanya bulu kuduk Aqila sudah menari-nari, tengkuknya terasa dingin, dan tiba-tiba...


Klik!


"Aqila?"


"Aaaaakkkhhhh!!!" jerit Aqila yang sudah berjongkok menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aqila, heii! ini aku!"


Seseorang itu membantu Aqila untuk berdiri dan menariknya kedalam dekapannya, lalu memaksa agar Aqila membuka mata.


"Aqila! buka!" suara itu membuat Aqila tesentak dan membuka matanya perlahan. Dan ternyata orang itu adalah Dirga.

__ADS_1


Entah sadar atau tidak, tiba-tiba Aqila memeluk Dirga dengan eratnya, tubuhnya mengigil dengan degub jantung yang memburu. Dirga yang kebingung berusaha menenangkan Aqila, dan ada satu hal yang baru ia sadari, kini kakinya yang beralaskan sendal rumah tengah menginjak pecahan kaca yang ternyata berasal dari jendela kamarnya.


"Ada apa ini?" Dirga ingin bergerak tapi tubuh Aqila kaku, seakan tidak mau bergerak dari tempatnya. Dengan susah payah ia membawa Aqila untuk menjauh dari pecahan kaca itu dengan masih keadaan yang saling memeluk.


"Kau duduklah, dan ini minum." Dirga memberikan segelas air putih untuk Aqila.


Dilihat dari manapun, Aqila memang sedang ketakutan, maka dari itu Dirga berusaha untuk menunggu Aqila agar bisa tenang dulu, baru akan bertanya.


Sembari menunggu Aqila tenang, Dirga beranjak lagi untuk melihat keluar dari jendelanya yang pecah, namun lagi-lagi Aqila menahannya dengan memegang lengan Dirga. "Jangan Tuan, disana ada hantu," ucap polos Aqila. Mata Aqila yang berbinar membuat Dirga terpanah.


"Apakah dia gadis yang sama dengan gadis yang aku tiduri, kenapa dia bisa semenggemaskan ini?" gumam Dirga dalam hatinya.


Tapi Dirga segera menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya, "Tidak ada hantu, kamu harus percaya, ucapan saya," ujar Dirga yang meyakinkan Aqila dan diapun kembali berdiri walaupun harus berusaha melepaskan cekalan tangan Aqila yang menahannya.


"Tidak ada apa-apa, tapi kenapa ini bisa pecah?" Dirga bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Kepalanya menoleh secara pelahan ke Aqila yang menatapnya dengan tatapan takut. Dan kini matanya menangkap sesuatu berwarna merah yang Aqila genggam dan segera disembunyikannya. Dirga kembali menghampiri Aqila tapi tiba-tiba kakinya menyetuh sesuatu. Sebuah batu?


Semua masuk akal, kenapa jendela kamarnya bisa pecah, karena memang ada yang menghantamnya dengan batu besar yang saat ini berada dibawah kakinya, tapi apa itu yang Aqila sembunyikan? Dirga harus tau.


"Berikan!" Dirga mengadahkan tangannya, meminta apa yang Aqila pegang. Tapi Aqila malah menggelengkan kepalanya.


"Aqila tolong berikan itu pada saya!" pinta Dirga dengan tegas.


Melihat Aqila yang tidak merespon, Dirga pun mengambil paksa sesuatu itu dan ternyata sebuah potongan kain, kain berwarna merah yang lusuh dan kotor. Yang dia kira hanya sebuah kain tapi ternyata terdapat sebuah pesan yang tertulis.

__ADS_1


“Apa maksud ini? Apa kamu mendapatkan pesan ini dari batu itu?!” tanya Dirga yang khawatir tetapi tidak bisa mengekpresikannya.


Dengan samar Aqila mengangguk, dan dapat ia simpulkan kalau ada pesan-pesan lainnya yang sudah Aqila terima, tapi siapa sebenarnya pelaku dari perbuatan ini, yang bahkan berani datang kerumahnya hanya untuk meneror Aqila.


Dirga mengerti bagaimana perasaan Aqila saat ini, ia menyimpan kain itu lalu duduk didekat Aqila seraya berkata, “Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa, percayalah.”


Begitu lembut perlakuan Dirga, ia mengusap lengan kanan Aqila dengan tangannya yang melingkar pada tubuh belakang Aqila. Perlahan namun nyata terasa, Aqila semakin merasa nyaman dan aman.


Ceklek! Pintu dibuka begitu saja dari luar oleh seseorang yang tak lain adalah Bianca.


“Aqila? Ada apa? Aku sedang dikamar mandi mendengar jeritanmu?” tanya Bianca dengan khawatir.


Bianca melihat keadaan kamar, terdapat pecahan-pecahan kaca yang berserakan dilantai, membuat dirinya kebingungan.


“Dir, Qila? Ada apa? Kenapa berantakan sekali, apa kalian habis bertengkar?” Bianca bertanya dengan rasa penasaran, ia berdiri didepan mereka yang duduk ditepi ranjang.


“Tidak ada apa-apa, dia hanya sedang ketatakutan,” jawab Dirga.


“Ketakutan? Ketakutan kenapa? Qil, are you, oke? Hmm?”


Bianca menyela dengan duduk diantara mereka, alias ditengah-tengah Dirga dan Aqila. Bianca mengusap lembut lengan Aqila persis yang dilakukan Dirga sebelumnya.


Dirga mendengus malas dan menggeser posisinya yang sudah digantikan oleh Bianca.


TBC>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2