
BRUUGHH!
Aqila membanting daun pintu mobil Dirga begitu kencangnya. Ya sepulangnya pemeriksaan dirinya, tidak ada obrolan apapun selama diperjalanan, Aqila maupun Dirga duduk membisu di kursinya.
Dirga menghela napasnya dengan kasar, ia terus melihat punggung Aqila yang menjauh dan memasuki sebuah pintu rumah kontrakan, Dirga masih diam didalam mobilnya, dia dihantui rasa bimban dan rasa bersalah. Dia tahu betul apa yang saat ini Aqila rasakan, sangat tahu! karena sebelum kabar kehamilan itu tersampaikan Aqila sudah membencinya, dengan ditambah kabar kehamilannya ini, yang mungkin saja akan membuat Aqila membenci dirinya seumur hidup.
Ia melirik ke arah kursi penumpang bekas jejak duduk Aqila, disana terdapat buku yang diberikan Dokter tadi. Ia menghela napasnya lagi, dan entah apa yang ada dipikiran Dirga, bukannya menyusul Aqila untuk sekedar menenagkannya atau memberkan solusi, Dirga malah menancapkan gasnya meninggalkan daerah tempat Aqila tinggal.
Pengecut! mungkin kata itu yang pantas Dirga terima.
"Rik dimana kau?" Dirga menghubungi sahabatnya.
"Aku terjebak dijalan utama Kemangi, ada penutupan jalan, kenapa?" terdengar jawaban dari intercome yang ada di dashboar mobil.
"Menepilah, aku akan kesana.''
"Mau ap--" belum sempat suara itu menjawab, Dirga sudah lebih dulu memutus sambungan telponnya.
Dirga semakin melajukan menacapkan pedal gasnya, mobi jenis Aston Martin itu melesat begitu kencangnya membelah jalanan yang cukup ramai.
Matanya melihat sebuah mobil yang mnepi dipinggir jalan, dan itu adalah mobil sahabatnya, membelokan stir dengan sembarang dan berhenti tepat didepan mobil itu.
__ADS_1
Seorang pria berprawakan tinggi dengan wajah yang tak kalah tampannya dengan Dirga, dia keluar dari mobil dan menghampiri mobil Dirga. "Masuk!" teriak Dirga dari dalam mobil.
Pria bernama Erik pun masuk dan duduk tepat dikursi penumpang, disamping Dirga. "Ada apa, Bim?" tanya Erik yang masih memanggil Dirga dengan nama Bima, nama pangilannya dulu sebelum ia memutuskan untuk mengganti nama panggilannya.
"Kita cari tempat mengobrol." Hanya itu jawaban Dirga.
Dan pilihannya jatuh disebuah bar kecil, ia menepikan kendaraanya dan keluar dari mobilnya meninggalkan Erik yang masih didalam mobil. "Sepertinya ada masalah serius?" gumam Erik yang akan keluar menyusul Dirga yang sudah masuk ke bar, namun saat dia akan keluar mobil, ia merasakan ada sesuatu yang ia duduki.
"Buku apa ini?" gumamnya lagi, Erik membolalk-balikan sampul buku itu yang dia lihat ada gambar sepasang pria dan wanita dengan perut si wanita yang membuncit, dan ada tulisan sebuah nama, "Nyonya Aqila." Erik membaca tulisan nama yang tertera pada sampul buku itu.
"Apa maksudnya ini?" Erik pun turut membawa buku itu kedalam Bar, dia akan mempertanyakan pada Dirga.
Didalam sana, Erik sudah memsan minuman untunya dan utuk Erik. Dan beerselang beberapa menit, Erik pun masuk kedalalm Bar, menyusulnya, namun mata Dirga memutar malas karena ia melihat Erik yang membawa Buku itu.
Terdengar helaan napas DIrga yang sangat berat. Dan dapat dipastikan, tebakan Erik kalau Dirga memngalami masalah pasti itu benar, dan ada hubungannya dengan buku itu.
"Coba jelaskan!" Erik meletakan buku itu tepat didepan Dirga dengan sedikit membantingnya.
"Ceritanya panjang Rik."
"Aku akan dengarkan!"
__ADS_1
"Bermula pada malam disebuah Club malam Black Devil, aku kesana hanya untuk melepaskan rasa penat dan stres karena gagalnya tander yang ku incar. Tapi manager disana yang kebetulan mengenal kita, menawariku jasa wanita panggilan. Awalnya aku menolak, karena aku tidak menginginkannya, tapi dia mengatakan aku bisa menyewanya hanya untuk teman minum dan teman mengobrol saja. Akhirnya aku menyetujuinya karena memang aku sangat membutuhkan teman mengobrol, karena memang pada saat itu, kalian tidak ada yang dapat dihubungi."
Dirga menjela ceritanya dan kembali menghela napasnya dengan panjang, dan Erik pun masih setia menunggu kelanjutan cerita Dirga.
"Dan pada saat aku sudah berada didalam kamar yang aku sendiri akakn pergi mandi terlebih dahulu, tidak berselang lama ada suara kencang didepan kamar ku dan pada saat ku lihat, seorang gadis yang sudah tidak sadarkan diri dibawah lantai, dan bodohnya kukira dia adalah wanita panggilan."
Dirga menjedanya lagi untuk minum minumannya. "Aku letakan dia di atas ranjang tapi entah apa yang terjadi, dia malah memohon padaku untuk menolongnya dan langsung membuka baju begitu saja, dia mengatakan tubuhnya terasa panas. Dan pada saat itu aku meyadari, kalau dia tengah dibawah pengaruh obat perangsang. Aku yang sebagai lelaki normal tentu tergoda, dan akhirnya malam itu kita bercinta, dan kulihat ternyata dia masih Virgin."
"Jadi kesimpulannya?"
"Ya aku salah orang, dia bukan wanita panggilan, dan dia sekarang hamil."
Erik terperangah, ia terkejut mendengar cerita sahabatnya itu. Sahabatnya yang pergi dari negara asal karena memang ingin membenahi diri utuk mengurus perusahaan dengan serius, malah membawa sebuah kabar yang mengejutkan, menghamili anak orang.
"Kau gila, Bim!" Erik menenggak segelas wine dengan satu kali tenggukan.
"Jadi maksud mu, buku ini, buku dia? dia mendatangi mu untuk meminta pertanggung jawaban, begitu?" tebakan Erik tentu salah.
TBC>>>>
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Mampir ke novel teman ku, yuk! dijamin ceritanya tidak kalah serunya!