
Roda berpelg mahal itu berhenti tepat didepan halaman sebuah rumah kontrakan, ya tempat tinggal Aqila yang menumpang pada seniornya yaitu Jeni. Dirga melangkah ragu kearah pintu yang tertutup rapat itu. Tangannya seakan berat sekali bergerak untuk mengetuk pintu, padalah dia sudah berdiri tepat didepan daun pintu.
Lalu kemana keberaniannya yang selama ini ia bangakan, dan seketika seakan lenyap dikala menghadapi seorang gadis seperti Aqila.
Tok Tok Tok
Dirga mengetuk pintu dengan ritme pelan. Yang hasilnya tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Ia mencoba menghela nafsnya lagi untuk mengumpulkan keberanian dan keyakinan, bahwa memang dia harus berrtanggun jawab atas pebuatannya.
"Aqila! tolong buka! saya mau bicara!" Dira terus mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Aqila namun tetap tidak ada jawaban dari dalam.
Terlintas ucapan Erik yang mengatakan "Jangan sampai Aqila berbuat macam-macam, karena orang yang frustasi tidak akan berpikiran jernih." Dirga menggeleng kencang, dia tidak mau sampai Aqila melakukan yang tidak-tidak.
Dug dug dug!
Yang semula hanya ketukan pelan berubah menjadi gedoran kencang. Dirga memutar knop pintu dan terbukalah pintu itu, yang ternyata sejak tadi pintu memang tidak terkunci. Dirga pun masuk kedalam rumah, melihat kesekeliling yang terlihat sangat sepi.
"Aqila! Qil!" panggilnya.
Semakin masuk kedalam, dan berhenti tepat didepan pintu kamar, Dirga mendekatkan telinganya didaun pintu dan mendengar samar-samar suara tangisan yaang amat menyayat hati.
"Hiks hiks hiks!"
Dirga tahu kalau yang sedang menangis itu ialah Aqila, Dirga pun membuka pintu dan benar saja, Aqila tengah menangis dibawah kaki ranjang dengan memeluk kakinya sendiri.
__ADS_1
Perlahan Dirga melangkah mendekat dan ikut duduk disamping Aqila, tangannya bergerak kebelakang tubuh Aqila dan merangkulnya namun Aqila segera menepisnya dan berdiri denga wajah yang terlihat sanat menyedihkan.
"Jangan sentuh aku! kau bajingan! kau brengsek! aku membenci mu!" maki Aqila pada Dirga yang ikut berdiri.
Terlihat Dirga yang kembali emnghembuskan napasnya, ia menatap lembut mata iris Aqila, dia tahu kalau dia salah, dan saat ini dia akan bertanggung jawab. "Qil, saya minta maaf, saya tahu saya salah maafkan saya karena sudah merusak masa depanmu," lirih Dirga penuh penyesalan dan melangkah mendekat kearah Aqila.
"Saya harus bagaimana Tuan? apa dengan Anda meminta maaf, semua akan kembali seperti sedia kala?!" tangisnya kembali pecah.
Dirga pun memeluk Aqila, menenangkan Aqila yang semakin menangis. Namun Aqila terus saja memberontak, seolah-olah jijik dengan sentuhan Dirga, tapi Dirga tidak menyerah, ia berusaha merengkuhnya dengan erat sampai ketika Aqila pun kelelahan memukuli dada Dirga dan pasrah dipeluk pria yang sudah menghamilinya.
"Jangan kuatir, semua akan baik-baik saja, saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya, Aqila."
"Bertanggung jawab bagaimana yang kau maksud? jangan menambah beban ku lagi, Tuan." Aqila yang masih menangis meraung-raung dan kembali memukuli dada bidang dan kekar Dirga.
"Aku membencimu, aku membencimu, hiks hiks hiks.."
"Saya akan menikahi mu, Aqila.''
Aqila terdiam dengan sesenggukan, ia merinding mendengar suara Dirga dan sejujurnya dia pun belum siap. Sesungguhnya dia masih mau melanjutkan pendidikannya, dan bagi Aqila, menikah bukanlah hal yang mudah karena dia hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup.
"Menikah?"
"Ya, secepatnya kita akan menikah."
__ADS_1
Aqila sedikit mendorong Dirga, dan terlepaslah pelukannya. Aqila menggeleng dengan pelan, raut wajahnya menggambarkan ketidaksetujuannya usul Dirga.
"Lalu saya harus bagaimana, Aqila...! saya mohon jangan memberikan ku pilihan yang sulit."
"Sulit? Kau yang mempersulit ku!!" Pekik Aqila yang kembali emosi. Tapi tiba-tiba "Aaakkkhhh!!!" Aqila menjerit dan membungkuk, tangannya memegangi perutnya.
Dirga yang melihat itu seketika panik, dan langsung membawa Aqila keranjang, membantu Aqila untuk merebahkan tubuhnya. "Tunngu disini!" Dirga berlalu keluar kamar.
"Uuuuchh! sakiiitt! ya Tuhan..." rintih Aqila.
Beberapa saat kemudian, Dirga pun kembali membawa segelas air hangat dan langsung diberikan pada Aqila.
"Pelan-pelan," ucap Dirga membantu Aqila meminum air hangat yang dibawakannya.
"Ku mohon kontrol dirimu, Aqila. Dokter tadi bilang kalau kau tidak boleh stress."
Aqila tidak menjawab, ia masih menangis dibalik selimut walaupun memang sakit diperutnya sudah perlahan mereda karena air hangat yang diberikan Dirga.
TBC>>>>>>>>>>>
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mampir ke novel teman ku, Yuk!
__ADS_1