
Klinik Medical Center. Disinilah aku berada.
Kepala ku yang tiba-tiba terasa berat, membuat ku tidak lagi tersadar saat sedang mencuci piring di kontrakan kaka senior ku itu. Yang juga tidak mengerti kapan pria yang sangat aku benci itu membawaku kesebuah tempat yang sepertinya sebuah klinik.
Samar-samar kumendengar pria itu sedang bericara dengan seorang wanita yang kulihat dengan pandangan kabur memakai jass putih, ''Apa dia seorang Dokter?'' gumam ku. Mereka tidak tahu kalau aku sudah tersadar, akupun menyimak sedikit pembicaraan mereka yang kudengar tengah membicarakan pemberian sebuah vitamin untuk ku. ''Oh berarti aku hanya kelelahan,'' gumam ku lagi.
"Pastikan istri Anda meminum vitaminnya ya, Tuan," ucap Dokter itu lagi pada Dirga.
'Apa, istri? apa maksudnya dia mengaku kalau aku ini istrinya.' batin ku berkata lagi.
Dengan susah payah, akupun mencoba bangkit dari ranjang, walaupun kepalaku masih terasa sangat berat. Aku merintih dan ternyata rintihanku didengar oleh mereka. "Nyonya sudah sadar?" tanya seseorang yang ternyata seorang perawat yang sejak tadi berada di samping ranjang dan aku tidak menyadari itu.
Aku melihat jelas, kalau Tuan Dirga dan Dokter itu menoleh bersamaan kearah ku, tapi kenapa seolah-olah Tuan Dirga tidak berniat untuk menghampiri ku seperti Dokter wanita itu. Ia menunduk menghindari pandangan ku.
"Ada apa?" tanyaku dalam hati.
Dokter dan perawat itu membantu ku berjalan kearah kursi sebelah tempat Tuan Dirga berada. Akupun duduk disana yang bahkan tidak sama sekali dia melirik ku, ia haya menatap lurus kedepan seperti sedang ada yang tengah ia pikirkan.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan Anda Nyonya? apa sudah membaik?" tanya Dokter itu padaku.
"Masih sakit kepala, Dok." sahut ku dengan pelan.
"Emm... tidak apa-apa itu sudah biasa. Oh ya, pastikan membawa buku ini setiap periksa setiap satu bulan sekali ya, Nyonya." Dokter itu memberikan sebuah buku berwarna merah jambu kepadaku, yang membuat ku bingung, "Buku apa ini, Dok?" tanyaku penasaran.
"Buku ini berfungsi mendokumentasikan atau tempat untuk mencatat semua hasil pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh petugas medis terkait. Tentunya saat adanya proses kehamilan, persalinan hingga nifas. Jadi simpan baik-baik ya, Nyonya,'' tutur Doter itu yang semakin membuat ku tidak megerti.
"Lalu apa hubungan dengan saya?" pertanyaan ku membuat dokter itu tersenyum, dan kemudian dengan wajah begitu ramah iapun menjawab pertanyaan ku lagi.
"Anda hamil Nyonya, selamat ya."
"Hidup seperti inikah Tuhan, yang engkau rencanakan untukku!" jerit ku dalam hati.
"Adilkah semua ini untukku, Tuhan?" tanyaku dalam hati.
Ternyata yang aku takuti benar terjadi, tepat hari ini kabar kehamilan ku tersampaikan ketelingaku. Kabar kehamilan yang seharusnya membuat haru bahagia seorang wanita namun tidak dengan ku, bagiku kabar itu sebagai awal dari terkuburnya semua cita-citaku.
__ADS_1
Flasback
Dirga membawa Aqila kesebuah klinik yang jaraknya hanya tiga kilo meter dari tempat tinggal Aqila, dengan panik ia membawa tubuh mungil itu memasuki klinik.
"Cepat tangani dia!" ucap Dirga dengan panik.
"Baik, sebentar." Dokter itu memeriksa denyut nadi Aqila dan memeriksa pupil mata bulat milik Aqila. Dan tiba-tiba ia menatap Dirga yang masih panik seraya bertanya, "Apa Anda suaminya?" semula Dirga terdiam sejenak dan entah apa yang dia pikirkan tiba-tiba menjawabnya dengan lantang.
"Ya, saya suaminya. Sebenarnya sakit apa dia?" Dirga menjawab dengan asal yang ternyata jawaban itulah yang akan membawa dia kesebuah kenyataan dan mungkin itu sebuah doa untuknya.
"Untuk memastikan kita akan periksa lebih lanjut." Dirga hanya mengikuti apa yang Dokter itu katakan dan laukan. Dari memeriksa tensi sampai pemeriksaan dalam, ya usg. Dirga melihat Dokter itu menyingkap sedikit Baju Aqila dan memberikan sebuah cairan seperti lem kekulit perut lalu meletakan sebuah benda yang mirip pencukur bulu kumisnya namun tidak memiliki mata pisau.
Dirga memperhatikan apa yang dokter itu lakukan dengan seksama. Ia bahkan sempat menelan salivanya karena melihat perut putih mulus milik Aqila.
Dilayar monitor terdapat sebuah rekaman tidak berwarna, tidak terlalu jelas memang, tapi ia dapat melihat ada sebuah titik yang diperbesar oleh Dokter itu, "Telur?" gumam Dirga yang ternyata didengar oleh dokter itu.
"Iya memang mirip dengan telur, ini adalah embrio, yang akan menjadi janin. Selamat ya Tuan, istri Anda tengah mengandung."
__ADS_1
Sejak saat itu, Dirga hanya diam, ia tidak bisa mengepresikan dirinya, ia terkejut, ia syok berat. Sampai saat ini, ketika wajah manis Aqila menatapnya penuh dengan amarah kebencian, setelah mendengar kalau dirinya tengah mengandung.