
Drrrtttt Drrrttt
Getaran ponsel menyita perhatian Aqila yang sedang memberika teh panas untuk Dirga, ya walaupun ia sangat membenci Dirga, Dirga tetap tamu sekaligus Bosnya yang mesti diberikan sedikit hormat.
Nama 'Kak Jeni' lah yang tertera dilayar kaca gawainya, ia sedikit melirik ke arah Dirga yang juga tengah meliriknya dengan menyeruput teh panas buatannya. Aqila meletakan jari didepan bibir memberikan tanda agar Dirga diam. "Sssttt! jangan bersuara!" itulah yang Aqila coba katakan pada pria 30 tahun itu.
"Ya Ka Jen?" ucap Aqila setelah menggeser icon hijau pada ponselnya.
'Qil, kamu tidak perlu berangkat bekerja, aku sudah izinkan ke Tuan Riko, karena kami juga tahu kalau jalan utama lumpuh total.'
"Oke kak, kalau begitu, Qila mau cuci pakaian saja," sahut Aqila.
'Hujan besar Qil, mau jemur pakaian dimana, udah jangan cuci pakaian, dan... oh ya kalau ada payung, kamu kedai ya, beli lilin takut pemadaman listrik, stok lilin ku habis.'
"Iya kak, iya..."
__ADS_1
'Tapi kalau kamu takut untuk keluar, kamu coba ke Mala saja, dia juga lagi libur kerja, ok! aku tutup dulu.'
Jeni pun memutuskan sambungan telpon. Aqila melongok keluar dari jendela, hujan yang begitu derasnya mana berani dia pergi kedai untuk membeli lilin, lalu ke kamar kontrakan Mala? dia tidak terlalu mengenal orang-orang yang tinggal di sekitar.
"Semoga saja tidak ada pemadaman listrik," gumam Aqila penuh harap. Karena selain ia takut petir ia juga sangat takut gelap.
''Ssssttt, kenapa tiba-tiba kepala kusakit begini," gumam Aqila lagi.
Ya belakangan ini, Aqila bekerja terlalu giat, karena tekadnya yang ingin melanjutkan pendidikannya di universitas negeri, ia berusaha untuk mencari biaya, walaupun memang dia sendiri sudah mengantongi beasiswa tapi untuk semester awal ia harus membayarnya.
Tanpa mengatakan apapun, Aqila berlalu pergi kebelakang, meninggalkan Dirga sendirian diruang tamu. Terdengar suara dentingan perabotan makan yang sudah dipastikan kalau Aqila tengah mencuci piring kotor didapur.
BRUGGHH! Prannkkkk!!
Dirga yang kembali menyeruput teh panas tiba-tiba tersedak karena kaget mendengar suara bising dari dapur. Dengan segera ia meletakan teh itu di meja seraya berseru, "Hei! kau tidak apa-apa?!" tanya Dirga sedikit berteriak, namun tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam.
__ADS_1
Jiwa penasaran Dirga bergejolak, ingin menyusul Aqila tapi dia takut gadis itu marah padanya, dan dia lagi yang akan disalahkan. Tapi dia benar-benar penasaran, karena setelah suara itu terdengar, tidak ada lagi suara yang ia dengar, yang ada hanya suara gemercik air yang mengalir dari sebuah wastafel.
"Aqila..., Aqila...?!" panggil-panggil Dirga yang sudah mencoba melangka semakin dalam ke rumah kontrakan itu tapi tetap tidak ada jawaban.
Dan baru saja kaki besar yang terbungkus kaus kaki itu melangkah ke area dapur, matanya tiba-tiba terbelalak dan berlari kearah dimana ia melihat seseorang yang sudah tidak sadarkan diri di bawah lantai dapur. "AQILA!" pekik Dirga. Ya, seseorang itu adalah Aqila.
Dirga segera mengangkat kepala Aqila dan meletakannya di pangkuannya, menepuk-nepuk pipi tirusnya seraya terus memanggil-manggil nama Aqila dengan rasa khawatir. "Qil! kamu kenapa? Qil! bangun!" Merasa tidak ada respon dari Aqila, Dirga pun membopong tubuh mungilnya dan diletakan disofa yang panjangnya hanya pas dengan tinggi badan Aqila.
Setelah meletakan tubuh Aqila dengan hati-hati. Dirga segera menghubungi seseorang.
"Le! coba cari tahu didaerah kemangi apa da kelinik terdekat, cepat aku tunggu!" perrintah Dirga tanpa menutup sambungan telpon.
"Sebentar Tuan," sahut Leo yang hanya beberapa saat Leo pun bicara kembali, "Dari posisi Tuan saat ini, klinik itu berada 3 kilo meter jauhnya."
"3 kilo meter? oke, eh tapi! kamu tahu keberadaan saya?!"
__ADS_1
"Ck, tentu saya tahu, bukankah Tuan sendiri yang meminta saya untuk mencari tahu tempat tinggal Aqila."
"Yasudah, ya sudah!" Dirga memutus sambungannya, untuk segera membawa Aqila ke klinik.