One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 19 - Sikap Manis Dirga


__ADS_3

Entah sejak kapan Aqila tertidur, dan pada saat ia terbangun megerjapkan matanya, ia merasakan sesuatu yang lembab di atas perutnya. Dan sesuatu itu adalah haduk yang sudah setengah kering. "Handuk?" gumam Aqila dengan suara yang serak, karena lamanya ia menangis sebelum ia tertidur pulas.


Aqila beranjak dari ranjangnya, matanya menangkap sebuah wadah yag berisikan air, ia melongok dan baru paham, kalau wadah air itu untuk mengompres perutnya, tapi siapa yang melakukannya? Apa Kak Jeni? gumam Aqila bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Prak!


Suara bising itu ia dengar berasal dari arah dapur, dengan susah payah ia pun berjalan perlahan, mataya melihat kekiri dan kekanan, ya, ia menyadari rumah kontrakannya sudah rapih, tidak seperti sebelumnya yang agak berantakakn karena dia maupun Jeni belum sempat merapihkannya belakangan ini.


"Kak Jen, sudah kubilang tidak perlu ikut bebenah, ini 'kan bagian a..ku," ucap Aqila terhenti yang sudah melangkah kepintu dapur namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia mematung disana, menatap seseorang yang tengah mencuci piring diwastafel.


Seseorang yang berprawaka tinggi, bahkan lemari yang ada di atas wastafel pun tersundul dengan kepala orang itu, seseorang yang mencuci piring dengan lengan kemejanya yang digulung, seseorang dengan rupa yang begitu tampan walaupun ia lihat dari samping. Dan ketika seseorang itu menoleh, dan terseyum begitu lembut, Aqila pun tersadar dari lamunanya. "Tua Dirga?"


"Kau sudah bangun, Aqila?" tanyanya begitu manis.


Aqila berjalan degan sedikit tergesa-gesa, dan langsung merebut piring yang berada ditangan Dirga, "Tuan, tuan sedang apa?"


"Kamu tidak lihat kalau saya sedang mencuci piring?" kelakar Dirga sambil terseyum dan meyetuh pucuk kepala Aqila.


"Ya, saya tahu, tapi Anda tidak perlu melakukan ini, ini pekerjaan saya," ketus Aqila yang berusaha menggeser tubuh kekar Dirga yang bahkan satu senti pun tidak sama sekali bergerak.


"Kamu duduk disana! saya akan menyelesaikan ini," suara manis tadi tiba-tiba berubah dingin, dan itu seperti sebuah perintah yang tidak ingin dibantah.


"Tapi--"


"Jangan banyak protes! cukup duduk manis disana!" Dirga meggedikan kepalanya ke arah kursi yang ada di meja makan. "Aqila... saya tidak suka dibatah!" ucapnya lagi karena Aqila yang masih berdiri disana.

__ADS_1


Aqila mendengus kesal, tapi dia tetap menuruti perintah Dirga, lalu duduk di kursi dan terus memperhatikan Dirga yag kembali melanjutkan cuci pirig.


"Apa Anda juga yang melakukan ini semua?" tanya Aqila, Dirga menoleh sesaat dan berdehem sebagai jawabannya.


"Mulai besok akan ada orang yang datang setiap harinya, berikan dia kunci cadangan mu," ucap Dirga yang membuat Aqila mengernyitkan dahiya bingung.


"Apa maksud Anda? orang siapa?"


"Dia yang akan membantu mengerjakan pekerjaan kalian dirumah," jawab Dirga yang sudah menyelesaikan pekerjaanya dan berjalan ke arah lemari pendingin berada.


Mata Aqila terbelalak ketika Dirga membuka kulkas pintu satu itu, yang sudah penuh dengan buah-buahan juga berbagai macam minuman jus berupa rasa, dan disana juga ada botol yang berisikan susu yang saat ini sedang Dirga tuangkan kegelas lalu dibawa kepada Aqila. "Minum ini, dan habiskan!"


"Sejak kapan kulkas itu ada isinya selain air putih?" gumaman Aqila yang didengar Dirga.


"Jangan banyak berpikir, itu untuk stok dua hari kedepan, kalau saya cek kembali masih utuh, kamu yang akan sya minta bayaran untuk harga isi lemari pendigin itu, mengerti?"


Dirga kembali kearah lemari pendingin dan mengambil tiga jeis buah, apel, jeruk, dan pir. Lalu ia mengambil sebuah pirig setelah mencuci tiga jenis buah itu, memotongnya beberapa bagian dan mengupas kulit jeruk lalu diberikaya pada Aqila. "Makan ini juga," ucap Dirga, ia melirik jarum jam yang terus bergerak di arloji bermerk-nya.


"Sebentar lagi teman mu pulang, kalau begitu biar saya pergi. Kamu jaga diri kamu baik-baik, ingat posisi kamu sekarang, saya pamit." Dirga beranjak dari kursi dan menyambar jaketnya yang tersampir di kapstok samping pintu dapur. Da tanpa Aqila duga, Dirga kembali melangkah kearahnya daann... CUP!


Dirga berlalu pergi setelah mengecup pucuk kepala Aqila, gadis itu terbengong di tempatnya dengan tangan yang tehenti didepan mulutnya dengan sepotong buah apel.


"Sial! kenapa aku melakukan itu?" ucap Dirga yang merasa aneh pada dirinya, seolah ada yang menuntunnya untuk mengecup Aqila. Kini Dirga sudah berada di mobilnya dan bersiap untuk pulang.


Dan benar saja, hanya berselang beberapa menit, Jeni pun sampai dikontrakannya, yang tanpa ia sadari bisnya berpapasan dengan mobil milik Dirga. Jeni masuk kerumah, dan dia melihat keseliling, merasa ada yang aneh, ya rumah kontrakannya sangat wangi dan sangat rapih. "Ck, Qila... kau abiskan uang simpanan mu berapa, untuk membeli pengharum ruangan ini!" teriak Jeni dengan candaan.

__ADS_1


Aqila yang sedang didapur memakan buah yang diberikan Dirga langsung beranjak keruang depan menghampiri Jeni, namun sebelum ia benar-benar keluar dari sana, kepalanya menoleh lagi ke arah piring yang masih tersisah beberapa potong buah, rasanya berat sekali meninggalkan buah itu, entah kenapa rasa buah itu rasanya sangat nikmat, berbeda dari biasanya ia makan di dapur restoran.


"Qil?" panggil Jeni yang sudah berada didepan Aqila.


"Eh? iya kak?"


"Kamu sedang melihat apa? oh, ya, kamu habis berbelanja ya? 'kan sudah aku bilang, simpan uang mu baik-baik untuk kuliah mu nanti."


Aqila mengaruk kepalanya gugup, karena tidaklah mungkin ia mengatakan kalau ini semua ulah Dirga, bos besar mereka, pemilik resmi restoran dan prusahaan Purnama Corp. Apa nantinya Jeni tidak akan berpikir kalau dia gila.


"Iyah kak, tidak apa, aku hanya ingin berbelanja saja," jawab Aqila sekenanya.


"Sudah cukup ya, kapan bisa kekumpul kalau kamu terus belanja. Oh ya aku lupa, ini." Jeni memberikan sebuah amplop merah yang isinya sudah diperkirakan bukanlah uang melainkan sebuah surat, tapi surat dari siapa?


"Apa ini kak?"


"Aku tidak tahu, tadi pada saat aku keluar dari resto, seorang pria memberikan ku ini, dan dia bilang suruh berikan itu kekamu. Mungkin fans mu, hahah!" Jeni tertawa kecil, "Oh ya aku mandi dulu, baca itu perlahan, siapa tahu memang surat cinta." Jeni pun berlalu pergi meninggalkan Aqila yang masih membolak-balikan amplop merah itu.


Aqila mengambil duduk dikursi tempat ia semula duduk, dan mulai membuka sampul amplop itu, yang ternyata isinya bukan hanya sepucuk surat melainkan beberapa lembar poto yang membuat dia meneteskan air matanya.


TBC>>>>>>>>


        \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Mampir juga ke novel teman ku yuk !

__ADS_1



__ADS_2