One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 30 - Sang Pelaku


__ADS_3

Dirga berjalan mendahului Bianca yang membawa nampan dengan dua gelas jus jeruk buatannya. Namun, saat dirumah tamu, Dirga maupun Bianca tidak menemukan keberadaan Leon yang semula katanya berada disana.


''Dimana dia?'' tanya Dirga pada Bianca yang sedang meletakkan nampan tersebut kemeja.


Kepala Bianca menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari Leon yang entah kemana.


''Apa dia sudah pulang?'' gumam Bianca.


''Kalian mencariku?'' suara serak khas Leon mengejutkan keduanya, ya Leon muncul dari belakang dengan raut wajah yang datar seperti biasanya.


''Darimana kau?'' tanya Dirga.


''Habis ketoilet, bagaimana keadaannya?'' Tanpa basa-basi, Leon menanyakan langsung keadaan Aqila, yang bahkan tidak dijawab langsung oleh Dirga yang lebih memilih duduk terlebih dahulu sebelum membuka mulutnya.


Dirga melirik kearah Bianca, seraya berkata dengan tiba-tiba.


''Bii... tolong buatkan aku kopi, bisa?''


Bianca yang baru saja akan meletakkan bo-kongnya seketika tertahan dengan posisi setengah duduk, yang kemudian ia segera menegakkan kembali tubuhnya dengan posisi berdiri.


''Kopi? sejak kapan kau minum kopi?'' tanya Bianca yang merasa heran.


''Entahlah, aku sedang ingin minum kopi.'' Dirga memijat pangkal hidungnya dan tanpa menolak, Bianca akhirnya berlalu pergi untuk membuatkan kopi.


Leon menatap aneh dengan Bianca yang berada di kediaman Dirga, karena setahu dia, hari pernikahan Bianca hanya tinggal menghitung hari. Dan mestinya calon pengantin wanita pasti sedang sibuk-sibuknya mengatur pernikahannya.


Leon membungkuk untuk bicara pada Dirga, dengan sedikit berdehem dan berpikir untuk bicara pada Dirga agar tidak menimbulkan salah paham.


''Tuan, bukankah hari pernikahan nona Bianca hanya tinggal tiga hari lagi?''


''Emmm... entah, kenapa?''


''Mau apa dia selalu ada disini?''


''Aku aku juga tidak mengerti, kau tanya saja padanya.'' Dirga menyenderkan tubuhnya disandaran sofa.


Sungguh, dia masih penasaran siapa yang selama ini telah meneror dan sangat ingin mencelakai Aqila, bahkan sampai berani nekat ingin menabrak Aqila.


Entahlah hatinya berkata, pelakunya bukanlah orang jauh, melainkan orang terdekatnya yang selalu tahu apa yang ia lakukan.


Tring!

__ADS_1


Suara notifikasi terdengar, dan dengan segera Dirga merogoh saku jaketnya untuk mengambil handphonenya. Raut wajah Dirga yang semula tenang seketika berubah aneh. Antara terkejut, syok, lega, dan marah menjadi satu kesatuan.


Beberapa potret dan beberapa bukti lainnya yang sangat jelas tanpa ada kekeliruan, ia dapatkan dari orang kepercayaannya. Bukti yang menunjukkan siapa selama ini dalang dibalik teror yang Aqila dapat.


Dirga tertawa sejenak, tawa yang terdengar sangat menyeramkan. Sungguh dia tidak percaya ternyata feeling benar, orang terdekatnya lah yang berniat jahat seperti itu, tapi kenapa? apa Dirga harus menanyakannya langsung.


"Tuan. Kenapa Anda sangat mempedulikan Aqila? bahkan urusan pekerjaan sampai terbengkalai,'' ucap Leon disela-sela Dirga yang sedang mengontrol emosinya.


Tanpa berkata apa-apa, Dirga berlalu pergi begitu saja kedalam. Sungguh dia tengah merebus otaknya dan nafsu sekaligus. Pelajaran apa yang pantas didapatkan sang pelaku darinya, itulah yang sedang Dirga pertimbangkan.


''Dir? kau mau kemana?'' Langkah Dirga terhenti saat panggilan Bianca terdengar. Ia menoleh dengan raut wajah yang merah menahan amarah.


Matanya terpejam sejenak dan helaan nafas yang sangat terdengar berat.


''Apa Leon sudah pulang?''


''Bii, kau keatas lah. Pergi kekamar ku, temani Aqila sebentar, dan nyalakan sistem kedap suara.''


''Lalu kopi ini?''


''Taruh saja.''


Bianca mengangguk, sambil berbalik untuk menaruh nampan yang berisikan kopi yang tadi Dirga minta. Namun, sebelum ia pergi keatas untuk kekamar Dirga, Bianca berhenti tepat disamping Dirga.


''Itu nanti kau akan dapatkan jawabannya, kau keatas saja dulu!'' Bianca mengangguk lagi dan berlalu menuju anak tangga.


Dirga kembali melangkah menuju satu pintu yang dimana, disanalah ruangan pribadinya, ruangan yang menyimpan banyak senjata. Dengan satu tangan ia menarik laci lemari dan mengambil satu buah senjata api dan memasukkannya kedalam saku celananya.


Langkahnya seakan tenang, namun siapa sangka bahwa langkah itu membawa sebuah kematian untuk sang pelaku kejahatan.


Brak!


Dirga duduk kembali disofa yang bersebrangan dengan Leon, ia membanting senjata yang tadi ia ambil diatas meja.


Dengan wajah tenang, dan tubuh yang bersandar, Dirga melipat tangannya didada lalu menatap tajam kearah Leon.


''Apa kau ingin melakukan pengakuan, atau aku yang akan memaksamu untuk melakukan itu?'' suara dingin yang membuat bulu meremang itu keluar begitu saja.


Leon yang masih terkejut karena Dirga membanting senjata didepannya, seketika mengangkat pandangannya dan kepalanya.


''A—apa yang Anda maksud, Tuan?''

__ADS_1


Dirga menyeringai kecil. ''Jadi apa aku harus memaksa mu?''


Dengan wajah pucat, dan keringat yang sudah membasahi kening. Leon pun menghela nafasnya seraya berkata. ''Baiklah. Mungkin Anda sudah tahu semuanya, tapi Tuan, kau mesti tahu alasan ku melakukan itu.''


Dirga membungkuk dengan menyatukan tangannya, dan yang pastinya masih menatap nyalang kearah Leon.


''Lanjutkan!''


''Ya aku melakukan itu hanya ingin membantu meringankan beban mu. Karena dia, kau sampai melupakan pekerjaan yang sudah tertata dengan rapih menjadi berantakan karenanya. Dia gadis pembawa sial di kehidupan mu, Tuan!''


Dirga menggeleng samar, ia merasa jawaban Leon sangat masuk akal. Tapi dia tidak menyangka kalau ternyata memang Leon lah dalang dibalik ini semua.


Krek!


Senjata yang tadi berada diatas meja, kini sudah berpindah ke tangan Dirga, yang bahkan sudah siap ia tarik pelatuknya dan sudah siap melepaskan peluru yang kini ia arahkan ke tubuh Leon.


''Apa karena itu? dan apakah ini alasan mu tidak pernah memiliki kekasih? Cih! menjijikkan!''


Keduanya sudah berdiri ditempatnya masing-masing. Raut yang semula merasa bersalah, kini berubah. Leon tertawa kecil dengan kepala yang tertunduk.


''Ya benar, selain jawaban ku tadi. Ada satu hal yang selama ini ku pendam didalam hatiku. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya padamu, Tuan. Apa tidak sedikitpun kau ingin membalas perasaan ku? aku orang yang menemani mu sejak kau berada dititik paling bawah, dan sekarang ketika kau mulai berjaya, gadis itu hadir dan berniat mengambil dirimu dari ku, apa aku salah melakukan hal yang semestinya kulakukan?''


Cih!


Dirga meludah karena merasa jijik dengan apa yang dikatakan Leon padanya, bahkan mengingat kebersamaan bersama lelaki itu membuat dia merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri.


''Sadar Leon! kau pria, dan aku pria! masih banyak wanita yang bisa kau miliki!''


''Tidak! aku tidak menginginkan mereka, aku hanya menginginkan mu, Dirgantara Houten!''


''Kau sangat menjijikkan!''


Dirga sudah tidak tahan, dia sudah bersiap menarik pelatuk untuk ia tembakan kearah jantung pria 30 tahun itu. Namun, suara Bianca mengurungkan niatnya.


''Dirga! cepat kemarilah!! Aqila tidak sadarkan diri dengan luka gigitan ular!!''


Dirga terbelalak, ia semakin menatap tajam pada Leon. ''Apa ini juga?''


''Ya kau benar! dan mungkin juga dia sudah mati, sekarang kau bisa kembali dengan rutinitas mu dan terus bersama ku!''


''Kau benar-benar gila! orang seperti mu mesti dibasmi!''

__ADS_1


Dorr!!


TBC>>>


__ADS_2