
Dorr!!
Dirga sangat terpaksa melepaskan timah panas itu tepat ke dada Leon, yang kini sudah terkapar dengan bersimbah darah. Dirga sangat tidak menyangka kalau kebersamaan mereka selama ini disalah artikan oleh Leon yang ternyata memiliki jiwa yang menyimpang.
Bahkan untuk mengingat hari-hari yang mereka lalui saja, Dirga sampai bergidik merinding. Dan sebenarnya ia pun akan memberikan kesempatan untuk Leon agar bisa menyadari kesalahannya, tapi ketika Bianca berteriak dan mengatakan keadaan Aqila saat ini, dan itu Leon juga pelakunya. Rasa amarah Menguasai diri dan otaknya, sehingga membuat nafsunya meledak lalu melepaskan tembakan itu.
Dirga menatap iba pada Leon yang menatapnya dengan mata yang sayu sebelum mata itu terpejam untuk selamanya.
''Bereskan dia!'' perintah Dirga pada anak buahnya yang baru saja datang karena mendengar ledakan senjata api milik Dirga.
Dirga berlari kearah anak tangga, dadanya bergemuruh dengan perasaan takut, panik dan khawatir dengan kondisi Aqila. Kalau sampai Aqila kenapa-kenapa, dia akan menyalahkan dirinya sendiri, itu tekatnya.
Sesampainya dikamar, ia melihat Aqila yang sudah tergeletak disamping ranjang dengan tubuhnya yang bersandar. Dan di pergelangan kaki nya ada kain yang terikat kencang, yang dia tebak kalau itu perbuatan Bianca untuk tindakan pertama agar menghambat racun ular yang akan menjalar.
Dirga berjongkok memeriksa kaki Aqila yang memang terdapat dua lubang gigitan ular. Dengan segera ia membawa kembali Aqila kerumah sakit. Dan Bianca membuntut dari belakang.
''Biar aku yang menyetir!'' ucap Bianca yang sama khawatir nya dengan Dirga.
Dirga mengangguk dan duduk di kursi belakang masih dengan memangku Aqila. Ia pandangi wajah dan bibir gadis itu yang memucat. Ada perasaan aneh saat ia menatap lekat wajah Aqila, perasaan yang membuat dadanya tiba-tiba berdebar bak sekumpulan kupu-kupu menggelitik kalbunya.
Perasaan suka kah? atau hanya bentuk tanggung jawab? Dirga pun tidak mengerti, yang jelas ia sangat ingin segera sampai rumah akit dan memastikan kalau Aqila baik-baik saja.
Bianca menyetir dengan lihai sehingga bisa sampai dengan cepat dirumah sakit, ia turut membantu Dirga, dari membukakan pintu sampai memberikan kursi roda. Namun, Dirga menolaknya karena dia yang akan membawanya sendiri sampai keruang tindakan.
''Tangani dia dengan segera, entah ular apa yang mematuknya. Dan ingat dia sedang hamil, berhati-hatilah!'' Entah itu sebuah permintaan atau perintah, yang jelas saat ini Dirga sedang tidak bisa di ajak bicara baik-baik.
__ADS_1
Dokter yang mengerti pun segera memeriksa Aqila dengan penanganan khusus, terlebih lagi dokter tersebut mengenal siapa Dirga, mantan geng mafia dinegera sana.
Dirga menunggu dengan sangat gelisah didepan pintu yang tertutup rapat itu, Bianca yang duduk di kursi panjang menghampiri Dirga. Memberikan tepukan lembut di bahu pria 29 tahun itu. ''Tenanglah, Aqila gadis yang kuat. Dia akan baik-baik saja,'' ucap Bianca menenangkan Dirga.
''Tapi, Aqila sedang mengandung—''
''Mengandung anak mu, 'kan?''
Dirga terdiam, entah darimana Bianca tahu. Tapi ya begitulah hubungan mereka, walaupun keduanya berusaha menutupi suatu hal, kelak salasatu dari mereka akan mengetahuinya juga.
Bianca memukul kepala Dirga, seraya mengatainya. ''Dasar bodoh!''
''Segera nikahi, kasihan anak orang kau rusak seperti itu. Sebagai hadiah dariku, aku yang akan mengurus semuanya.'' Bianca tersenyum lembut, ''Tapi sebelum itu kita pastikan dia baik-baik saja.''
''Sudah sering kukatakan, jangan pernah panggil aku Bii lagi, nama ku Bianca! panggil aku Bianca, susah sekali bicara padamu!''
Dirga tertawa kecil, hatinya sedikit tenang karena Bianca yang menghiburnya. Memang orang bilang tidak ada persahabatan antara pria dan wanita karena pasti akan ada perasaan yang terpendam. Tapi tidak dengan mereka berdua. Mereka bersahabat dengan hati yang tulus, walaupun sering kali Bianca mengajak Dirga untuk mencoba menjalin hubungan yang lebih, tetapi ketahuilah, itu hanya sebuah gurauan dari seorang Bianca. Dan itu pun Dirga tahu dan maklumi.
Lama menunggu, sekitar dua puluh menit akhirnya Dokter pun keluar dari sana. Mengabari kalau keadaan Aqila sudah baik-baik saja, yang tidak lepas dari campur tangan Bianca, karena sudah melakukan pertolongan pertama dengan mengikat kaki Aqila.
Dirga benar-benar bisa bernafas dengan lega sekarang, ia menepuk kepala Bianca dengan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya.
''Ini semua tidak gratis, Tuan Dirgantara Houten!''
''Kau minta apa dariku? katakan saja.''
__ADS_1
''Nikahi dia dengan segera, ku lihat gadis itu sangat kesepian. Jaga dia baik-baik dan bawalah ke acara pernikahan ku nanti.''
''Baik!''
Maka disinilah mereka berada, disebuah aula gedung yang sudah disewa oleh calon suami Bianca.
Bianca sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang sangat indah menambah kesan anggun dan cantik pada diri Bianca. Ia tersenyum bahagia dialtar sana dengan seorang pria yang Dirga kira kalau Bianca akan menikahi pria tua, tapi tidak! Pria yang berdiri disamping Bianca saat ini pria yang tampan dengan berperawakan tegap.
Dan Aqila yang Bianca pilih sebagai Bridesmaids, dengan balutan gaun berwarna peach membuat Aqila tak kalah cantiknya dengan ratu sehari itu. Sehingga membuat Dirga kerap mencuri pandang pada gadis 19 tahun itu.
''Tuan, apa ada yang salah dengan penampilan ku?'' tanya Aqila yang telah menyadari kalau Dirga sejak tadi terus menatapnya.
Dirga yang ketahuan seketika gelagapan, ia salah tingkah dan bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan gadis yang usianya terpaut 10 tahun lebih muda darinya.
''Tidak ada yang salah dari penampilan mu, hanya saja Dia terlalu pengecut untuk memuji kecantikan mu!'' sindir Bianca yang saat ini sudah berdiri diantara mereka.
Bianca tertawa melihat Dirga yang sudah menatapnya kesal, sedang Aqila, ia tertunduk dengan pipi yang merona merah.
TBC >>>>
...****************...
Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗
__ADS_1